Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Sarapan yang seharusnya bisa di nikmati dengan suka cita karna kedatangan Kakek Zico ternyata tak seindah biasanya, Ibun yang masih merayu si bungsu langsung lemas saat mendapat kabar jika Bapak kecelakaan. Wanita itu langsung di papah menuju sofa oleh suaminya karna langsung menangis ketakutan.


"Bapak, Mas. Bapak--," ucapnya yang lemas dalam pelukan Sagara.


"Aku paham perasaanmu, Sayang. Kita kesana sekarang ya," jawab Sagara yang pastinya langsung di setuju oleh sang istri.


Tak hanya mereka yang bersiap, karna si kembar dan kakek Zico pun akan ikut ke kampung halaman Ibun Aisyah. Tak ada penolakan dari SyahRaa maupun AgaSyah karna si kembar kesayangan kakek nenek itu juga sangat khawatir.


"Deeva masih belum bisa di hubungi, kemana sih sudah sesiang ini?" gumam Aga sambil berjalan keluar kamar, tangan dan matanya fokus ke layar ponsel karna ia sembari menelepon Deeva yang masih tak jelas dimana.


Tapi, meski begitu Aga tetap mengirim pesan pada Deeva dan mengatakan ia akan pergi untuk beberapa hari ke depan.

__ADS_1


"Sudah siap belum, kita berangkat sekarang ya?" tanya Sagara yang di iyakan oleh semuanya termasuk Aga meski rasanya begitu berat meninggal kan ibu kota.


Keluarga Pradipta berangkat menggunakan pesawat Pribadi, inilah salah satu kegunaan memiliki aset tersebut, karna saat ada keadaan Urgent mereka bisa terbang kapan pun itu waktunya, meski tetap harus patuh dengan instruksi dan panduan yang diberikan oleh ATC (Air Traffic Controller) serta mematuhi hukum udara di wilayah tempat pesawat tersebut itu sendiri terbang.


.


.


.


"Bu---," panggil Ibun saat melihat wanita itu menangis dalam pelukan anak sulungnya.


"Bu, Bapak kenapa? kok bisa begini?" tanya Ibun yang tangisnya pecah lagi, saat di telepon ia tak terlalu fokus mendengar kenapa semua bisa terjadi karna tubuhnya langsung lemas bahkan tak kuat lagi memeganh ponsel dengan tangannya.

__ADS_1


"Bapakmu di tabrak mobil angkot yang sedang ugal ugalan di jalan, Aish. Mobil itu melaju kencang karna harus kejar setoran dan berebut penumpang di depan pabrik yang karyawannya baru saja keluar dari shift malam," jawab Ibu dengan masih terisak sedih dan takut, rasa yang sama seperti Aisyah dan Mas Rafli, kakaknya.


"Sabar ya, Bu. Bapak pasti sehat lagi, Bapak itu kuat kok," ucap Aisyah menenangkan padahal ia sendiri sama cemasnya seperti ibu.


Bingung mau menyalahkan juga, karna si supir angkot yang kini ada di kantor polisi beralasan jika ia memang sangat terburu buru agar bisa mengangkut penumpang. Tapi, meski begitu ia harus tetap bertanggung jawab juga.


"Nanti Saya akan bicara dengan dokter, kalau keadaan Beliau tak kunjung membaik Saya akan membawanya ke ibu kota, agar bisa di rawat di rumah sakit Rahardian," ucap kakek Zico yang langsung di setujui oleh Sagata , ini akan jauh lebih baik mengingat ia dan si kembar harus tetap beraktiftas sedang Aisyah pasti tak mau juga meninggal Ibu dengan keadaan Bapak yang seperti ini.


.


.


.

__ADS_1


Assalamu'alaikum....


__ADS_2