
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Astaghfirullah!!"
Aisyah dan Segara yang mendengar suara berat seorang laki-laki tentu langsung menoleh dan benar saja, disana ada Bapak yang sedang berdiri dengan raut wajah kaget, tak percaya dan pastinya kecewa.
"Kalian--, kalian sedang apa?" tanya Bapak sambil mendekat ke arah wastafel tempat dimana dua insan manusia lain muhrim itu sedang berdiri begitu dekat bahkan saat pertama kali Bapak melihat bibir Sagara tepat di telinga Aisyah.
Bukan lagi seperti ada petir di siang bolong, tapi seolah Aisyah sedang di jemput malaikat mautnya sendiri. Wanita Shalihah yang sedang berusaha ingin Istiqomah dengan Hijab dan Niqabnya kini serasa dunia hancur seketika saat ia sadar kedua kain yang selalu melekat dikepala dan wajahnya itu tak ada pada dirinya. Dan itu terjadi tepat di hadapan seorang pria yang tak ada hubungan darah sama sekali dengannya.
"Bapak--," ucap lirih Aisyah dengan air mata tumpah karna dadanya begitu sesak.
"Masuk kamar, Aish!" tegas pria paruh baya itu yang kedua matanya memerah.
Tak ada bantahan karna hatinya pun sedang hancur, Aisyah pun langsung berlari menuju tangga untuk naik lagi ke lantai atas menuju kamarnya. Ia yang terisak sedih penuh sesal terus bergegas dengan menyembunyikan wajahnya juga di balik telapak tangan, hingga saat berpapasan dengan ibu saja ia tak perduli bahkan berhenti.
Sepeninggal Aisyah, kini hanya Bapak dan Sagara yang ada di dapur, pria baya yang hanya memakai sarung dan kaos itu pun melihat kearah tangan Sagara yang merah.
"Kenapa?" tanya Bapak.
"Tersiram air panas, aku kurang hati hati, Pak. Niatku ingin membuat teh manis panas tapi airnya justru terkena tanganku. Dan-- Aisyah lagi lagi datang menolongku. Aku benar-benar minta maaf," ucap lirih Sagara.
Baru saja Pemuda itu serasa naik keatas Surga bersama bidadari nya, kini justru ia sudah berada di tepian jurang karna Sagara bisa melihat raut kecewa di kedua mata sendu Bapak yang selama ini selalu memberi rasa teduh.
__ADS_1
"Tunggu disini, biar Bapak ambilkan obat untukmu." Belum juga Bapak melangkah menuju kabarnya datanglah Ibu dengan ekspresi keheranan, ia yang di abaikan oleh Sang Putri tentu kini merasa bingung luar biasa.
"Ada apa, Pak? Aisyah kenapa?" tanya Ibu yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.
"Sagara tersiram air panas saat ingin mrmbuat teh, Bapak akan obati lukanya dulu," jawab pria itu mencoba menenangkan Istrinya padahal hatinya sendiri saja kini sedang bergemuruh hebat.
"Lalu Aisyah? kenapa dia menangis?" desak Ibu lagi, dah itu wajar apalagi kejadiannya di tengah malam buta seperti ini, disaat mereka seharusnya sedang mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah sepertiga malam.
"Ibu tenangkan Aisyah saja kalau begitu ya," titah Bapak.
Pasangan suami istri itupun keluar dari dapur, Bapak kearah ruang tengah untuk mengambil obat sedangkan Ibu kembali ke lantai atas untuk menemui Aisyah.
"Kemarikan tanganmu, Nak." Bapak yang sibuk menyiapkan obat sampai tak melihat kearah Sagara.
Sama seperti saat kecelakaan yang pertama, Bapak begitu telaten mengurus Sagara karna untuk melakukan hal ini tentu ia tak mungkin menyuruh istri atau anak perempuannya.
Tak hanya obat berbentuk Gel yang dioleskan Bapak ditangan Sagara tapi ia juga menyiapkan sebutir Obat pereda sakit yang pasti akan di rasakan Sagara setelah ini
"Pak--," panggilnya pelan karna takut dan malu.
"Iya, kenapa? sudah terasa panaskah?" tanya Bapak, meski tak pernah merasakan hal tersebut tapi ia cukup peka untuk tahu rasanya pasti sangatlah sakit.
"Sagara minta maaf."
__ADS_1
"Maaf untuk apa? apa kamu melakukan kesalahan?"
"Sagara tadi--, tadi begitu dekat dengan Aish, Pak," jelasnya yang bingung dengan apa yang ia rasakan, ada bahagia dan juga sesal.
"Ini di luar kendali kalian, terjadi bukan karna di sengaja kan?" tanya Bapak yang langsung di jawab anggukan kepala.
"Tapi--, Sagara takut Aish marah."
"Tentu, tapi bukan padamu, melainkan pada dirinya sendiri," jawab Bapak yang langsung membuat hati Sagara mencelos.
Bapak dan Sagara paham, wanita yang baru di ketahui kecantikannya itu kini pasti sedang merutuk dan memaki kelalainnya sekarang, entah apa yang sedang di lakukan oleh Aisyah kini di kamarnya, yang pasti kedua pria itu berharap semua akan baik baik saja.
"Boleh Sagara bertanggung jawab?"
"Tanggung jawab? tanggung jawab apa maksudmu?" tanya Bapak tak mengerti dengan arah pembicaraan pemuda tersebut.
.
.
.
Aisyah sudah di lihat oleh Sagara, boleh kah jika Sagara menikahi Aisyah agar ia tak merasa terbebani nantinya??
__ADS_1