
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Jika Sagara sedang bersama dengan Gajah dan Buaya, tentu lain halnya dengan Aisyah yang sedang dengan Amma di dapur bersih. Tak ada yang mereka lakukan kecuali sedang mengupas beberapa buah untuk di jadikan salad.
"Hem, apa wajar dalam beberapa bulan ini aku belum hamil juga? apa Mommy tak akan kecewa?" tanya Aisyah yang wajar punya pikiran seperti itu.
"Jika keturunan Momymu memang mereka tak lama untuk mendapatkan buah hati, tapi jika melihat Amma dan Appa, kami cukup pernah bersabar untuk itu."
"Benarkah? jadi bukan hanya aku?" Aisyah yang antusias ingin tahu sampai membuat Amma terkekeh lalu mengangguk.
"Iya, Amma juga tak langsung hamil dulu, Onty Hujan, Onty Yayang dan Onty Cahaya juga sama, bahkan butuh waktu 4 tahun untuk mereka akhirnya hamil," jelas Amma sambil meraih tangan Aisyah yang ia tahu sedang merasa sangat khawatir.
"Dan, suami mereka tak masalah? termasuk Appa saat itu?" Tanya Aisyah lagi.
Jika sebelumnya Amma mengangguk, kini justru berganti dengan gelengan kepala karna Si para pria termasuk orang-orang yang tak rewel sama sekali akan hal tersebut.
Aisyah paham meski Amma tak berucap satu katapun, perasaannya lega karena sudah beberapa waktu ini pikirannya selalu kalut jika ingat Tuhan belum juga menitipkan Rejeki di rahimnya.
Apalagi saat di beri ujian luar biasa kemarin, pikiran Aisyah semakin kacau hingga ingin rasanya ia pergi saja sebelum di tinggalkan oleh
Sagara.
Cup
__ADS_1
Aisyah yang mendapat ciuman di pipi kanan langsung terlonjak kaget, ia yang sedikit melamun dan ditambah ada Amma juga rasanya ingin melayang kan protes pada Sang suami.
"Saga!"
"Apa?, aku mau cicipi boleh?" pinta Sagara.
"Tunggu, aku ambil piring dulu," jawab Aisyah yang langsung bangun dari duduk bertepatan dengan Sagara menarik kursi untuknya.
"Appamu masih di kamar?" tahya Amma.
"Iya, masih sama Uncle Buaya," jawab Sagara.
Aisyah yang mendengar itu mengernyitkan dahi yang tertunya tak terlihat karna tertutup Hijabnya.
"Buaya apa sih?" tanya Aisyah yang kembali duduk sambil mengambil beebrapa buah potong.
"Buaya cengeng," jawab Sagara dengan ekspresi wajah jujur dan serius.
Aisyah yang benar-benar tak paham lalu melirik kearah Amma yang santai saja mendengar apa yang di ucapkan cucunya itu.
"Jangan bercanda, aku gak ngerti loh," ucap Aisyah yang mulai kesal sendiri.
"Kamu emang harusnya mending gak usah ngerti, Aish. Suamimu kan kurang ajar banget," timpal Uncle Air yang tiba-tiba datang bersama Appa. Sang Tuan besar dan Calon Tuan besar Rahardian itu pun lalu duduk di kursi meja makan bersama Amma, Aisyah dan Sagara.
__ADS_1
"Sudah, jangan bertengkar," ucap Amma, tapi Uncle Air hanya mencibir.
Ia dan Mommy yang menjadi musuh bebuyutan sebab anak bungsu VS cucu sulung tentu tak betah jika tak mengejek para keturunan wanita itu.
"Tuh, dengerin kata Amma," balas Sagara tak kalah meledek.
"Sombongnya---," sahut Uncle Air.
"Iya, dong. Mohon maaf ya rasanya Buaya keturunan Gajah sedang tak dibela, jadi diamlah," kekeh Sagara semakin menyebalkan.
"Masih mending Buaya keturunan Gajah, dari pada kamu!" cetus Uncle Air.
"Aku? kenapa? aku tuh keturunan Singa Si raja Hutan!"
"Bukan Weeeey," protes Uncle Air.
"Kalo bukan, terus aku turunan siapa?"
.
.
.
__ADS_1
Keturunan DUDA laaaaah!