
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Candaan yang di lakukan oleh Sagara untuk Aisyah di dapur terhenti saat Ibu datang dengan raut wajah panik seperti ada sesuatu. Dan itu membuat Sagara yang sedang bermanja harus mengubah posisi duduknya menjadi tegak lagi dah begitu pula dengan Aisyah yang salah tingkah.
"Ada apa, Bu?" tanya sepasang suami-istri berbarengan hingga keduanya menoleh bersama juga..
#CIEEEEJODOH.
"Ada Haris, di depan ingin bertemu denganmu," jawab Ibu.
Seisi rumah tentu kaget dengan kedatangan pria berkaca mata tersebut, apalagi di waktu yang masih sangat pagi bahkan matahari saja baru naik untuk menberikan sinarnya pada para penghuni Bumi.
"Mau apa dia?" tanya Sagara yang langsung bangun, dan itu sontak membuat Aisyah juga melakukan hal yang sama. Bukan Haris yang di pikirkan wanita itu tapi justru suaminya yang sudah terpancing emosi, jangan sampai rasa cemburu mengusai hati Sagara.
"Kamu tenang dulu, kita tanya dan datangi baik baik ya," udah Aisyah pelan.
"Tenang? kamu suruh aku tenang disaat ada pria lain cari istriku, iya?!"
"Bukan gitu, Saga. Pasti ada alasan kenapa dia datang kemari seperti ini."
"Betul, apalagi Haris terlihat sangat berantakan," timpal Ibu tanya semakin membuat Aisyah dan Sagara penasaran.
Sagara yang lebih dulu keluar karna Aisyah harus memakai cadar dan hijabnya lebih dulu di kamar sebelum keluar rumah, terlebih ia kali ini ia bertemu dengan seseorang yang jelas bukan muhrimnya.
Kini ada Sagara, Haris, Bapak dan Ibu lalu di susul. oleh Aisyah. Baru saja wanita yang kini sudah rapih dan tertutup itu keluar, tangannya langsung di tarik kebelakang punggung Sagara. Murid SMA tengil yang kini berubah menjadi pria pecemburu itu tak sudi wanitanya di lihat orang lain meski hanya matanya saja.
"Mohon maaf, kedatangan saya mengganggu kalian semua," ucap Haris benar kata Ibu jika ia terlihat berantakan dengan kedua mata merah seperti orang yang tak tidur.
"Bagus deh kalau sadar diri," balas Sagara dengan nada ketus.
Tangannya yang masih memegang tangan Aisyah di remat sedikit kuat hingga ia menoleh.
__ADS_1
"Sakit!"
"Diem, jangan dulu bantah kalau orang belum selesai bicara!" tegas Aisyah, kali ini rasanya ia benar-benar marah pada Sagara yang sedikit kelewatan.
Karna menurut Aisyah akan ada alasan yang sangat jelas di tuturkan oleh Haris sekarang tentang ada apa yang sebenarnya ia alami hingga pria satu anak itu datang demi bertemu dengan Aisyah.
"Intan demam dari kemarin, dan kondisinya jauh lebih parah saat aku kembali dari sini. Ia ku bawa ke rumah sakit jam 3 tadi karna memang panasnya tak kunjung turun, sedangkan Intan selalu menyebut namamu, Aish," jelas Haris dengan tatapan ingin di mengerti tentang keadaan putri satu-satunya itu.
Mendengar alasan dari Haris, tentu semua orang kaget terlebib Ibu dan Bapak pun tahu dengan Intan, tahu bagaimana dekatnya anak itu dan juga menjanya pada Aisyah.
"Ehem, tapi istri saya itu dulunya seorang Guru, bukan DOKTER!" cetus Sagara menekan akhir katanya.
"Iya, aku tahu, tapi ini bukan perihal profesi. Intan memang sedekat itu dengan Aish dan ia butuh Aish sekarang untuk di tenangkan. Intan tak mau makan, minum obat bahkan berkali-kali mengamuk sampai selang infus nya terlepas. Aish---, kamu mau datang menemui Intan kan?"
Alasan dan semua penuturan Haris memang benar tapi ia tak bisa gegabah mengambil keputusan tentang iya dan tidak sebab pria di depannya kini adalah satu-satunya orang yang paling berhak atas hidupnya. Ia tak mau karena rasa kasihan pada Intan langkah kakinya yang keluar tanpa Ridha suami itu menjadi bumerang di dunia dan akhirat nantinya.
"Ayo, Aish. Aku tak bisa meninggalkan Intan lama-lama di rumah sakit," mohon pria berkacamata itu lagi.
Deg
"Aish--," panggil Haris semakin frustasi karna ia terus ingatnya anaknya di rumah sakit. Yang awalnya semua mata tertuju pada Aisyah kini beralih pada Sagara.
"Aku--," ucap Aisyah dengan perasaan berdebar hebat, ini lebih menakutkan dari ia minta izin pada Bapak.
"Duh, aku lapar," balas Sagara yang memegang perutnya sendiri, mau dibilang alasan tapi kebetulan bagian tengah tubuhnya itu memang berbunyi barusan.
Aisyah yang kebingungan sendiri menutup mata sekilas, ia menarik napas berat lalu di buangnya perlahan dan kemudian tersenyum di balik cadar nya setelah ia merasa hatinya jauh lebih nyaman usai meyakinkan dirinya sendiri.
"Ayo, aku temani makan dulu," jawab Aisyah dengan tangan masih saling menggenggam satu sama lain.
Mendengar hal tersebut, Sagara, Bapak dan Ibu tersenyum senang tapi tidaak dengan Haris yang kecewa berat dengan keputusan Aisyah.
__ADS_1
"Aish, tidak kah kamu kasihan pada Intan?" tanya Haris masih mencoba untuk sabar, ia tekan emosinya karna masih berharap Aisyah akan berubah pikiran.
"Aku kasihan pada Intan, tapi suamiku sedang kelaparan. Ini waktunya aku dan kami sarapan semuanya. Aku harus mengurus suami ku dulu karna dia yang utama. Datang atau tidaknya aku kesana, nanti ku kabari lagi," jawab Aisyah dengan keputusan finalnya tersebut. .
Perasan bangga menyeruak di hati suami dan orang tua yang menganggap keputusan Aisyah sudah tepat. Jangan kan untuk orang lain kini untuk Bapak dan Ibu saja wanita itu harus meminta izin lebih dulu. Dan alasan Sagara seolah mengingat semua itu.
"Baiklah, aku tunggu kabarmu dan aku harap kamu bisa datang demi Intan!" balas Haris yang bicara dengan tegas karna tatapan matanya tajam kearah Sagara.
Aisyah mengangguk pelan, dan itu entah di lihat atau tidak oleh Haris yang langsung pamit pada Ibu dan Bapak.
Setelah pria itu pergi, bukannya ke dapur yang katanya lapar Sagara malah membawa istrinya ke kamar, Bapak yang melihat hal tersebut sedikit khawatir anak dan menantunya akan berselisih paham tentang kejadian barusan tapi ia yakin juga jika di balik seragam SMA yang masih melekat di tubuh Sagara ada juga kedewasaan yang tak mungkin akan menyakiti perasaan putrinya.
.
.
Cek lek
Pintu di buka oleh Sagara yang masuk lebih dulu sedangkan yang menutup tentu Aisyah. Kini sepasang suami-istri baru itu sama-sama duduk di tepi ranjang.
Sagara yang sudah kesal sejak tahu Si Duda datang hanya bisa mengumpat dalam hati.
"Buka cadarmu," titah Sagara pada Aisyah.
"Iya, akan ku buka," jawabnya yang selama ini selalu manut apa kata suaminya.
Tanpa bantahan Aisyah langsung melepas kain. tipis yang menutupi dari bawah mata hingga dadanya tersebut. Setelah terbuka tanpa basa basi Sagara langsung meluMaaT habis bibir merah alami Sang istri tanpa ampun.
.
.
__ADS_1
.
Ini Hukuman untukmu Aisyah Nura Pradipta...