
🍂🍂🍂🍂🍂
AgaSyah yang baru pulang mau tak mau menjemput sang Kakak di kampusnya yang memang berbeda. SyahRaa tak mau bersama adiknya lagi dengan alasan bosan dan ingin ada suasana baru tanpa si bungsu.
Tapi walau begitu, mereka tetap saling menyayangi dan perduli satu sama lain.
"Dimana sih?" gumam Aga yang bingung sendiri karna ini baru pertama kalinya ia masuk ke area kampus SyahRaa.
Aga yang sudah memarkirkan mobilnya lalu turun sambil mengeluarkan ponsel di saku celana. Ia yang berkali-kali menghubungi SyahRaa semakin di buat kesal dengan tak ada kabarnya dari kembarannya tersebut.
Tapi, di tengah rasa jengkelnya itu ternyata ada satu notif pesan dari orang yang di cari.
*KembaranAga.
[ Kakak di kantin ]
"Ya, Tuhan! boleh tuker saudara gak sih?!" AgaSyah yang ingin menelan sang kakak hidup hidup langsung ke tempat yang di katakan SyahRaa dengan bantuan beberapa petunjuk dari orang-orang termasuk petugas keamanan.
"Dek--," teriak SyahRaa sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Ada yang ikut menoleh juga saat mendengar suara SyahRaa yang termasuk jejeran mahasiswi populer karna kecantikan dan kepintarannya.
AgaSyah yang sudah melihat sosok sang kakak pun langsung dan segera menghampiri.
"Makasih ya udah dateng," ucap SyahRaa yang tak di jawab oleh Aga.
Tatapan putra mahkota Pradipta tajam dan penuh selidik ke arah pria yang sedang bersama tuan putri kesayangan PanDa nya.
"Hai, AgaSyah," ujar Christ yang menyapa duluan karna sadar di perhatikan.
Aga yang kini duduk tepat di depan sang kakak pun meminta penjelasan lewat sorot matanya.
"Aku tak bisa mengantar SyahRaa pulang, karna aku cuma ada motor. Maaf," timpal Christ yang membuat AgaSyah mengernyitkan dahinya tak paham dengan alasan itu.
"Kenapa dengan motor?" tanya AgaSyah di tengah rasa penasarannya itu.
SyahRaa pun tersenyum ke arah Christ, ia menjelaskan jika Christ tak bisa mengantarnya pulang bukan karna tak ingin lekuk tubuhnya terlihat banyak orang di sepanjang jalan dengan sangat jelas saja, tapi yang terpenting adalah Christ tak bisa jika jarak mereka nanti sangatlah dekat.
"Oh, baguslah. Ayo pulang," ajak AgaSyah yang bersikap dingin pada Christ, itu bisa di wajar kan karna pria itu adalah satu-satunya dan yang pertama dengan sang kakak, entah kenapa jiwa tanggung jawab dan rasa ingin menjaga muncul dari dalam diri di Bayi Besar.
__ADS_1
"Hati hati di jalan ya, Raa. Nanti pulang kerja aku telepon," ucap Christ saat SyahRaa dan adik kembarnya itu pamit.
"Iya, aku tunggu ya. Tapi kalau kamu capek gak apa-apa, aku ngerti banget," jawab SyahRaa yang sudah bangun dan di gandeng oleh Aga yang sedikit jauh labih tinggi.
Kini, hampir semua pasang mata memperhatikan tiga orang tersebut, dimana ada Aga yang terlihat sangat posesif pada satu gadis diantara dua pria yang kini sedang berdiri saling berhadapan, meski tahu SyahRaa punya kembaran tapi tak banyak yang tahu seperti apa wajah adiknya itu. Dan bersiap lah jika nanti ada bahan gosip yang pastinya itu adalah suatu kesalahan pahaman dari sang tuan putri pewaris Pradipta.
Christ yang merelakan kepergian SyahRaa yang lebih dulu hanya bisa menatap punggung gadis itu yang perlahan jauh dari jangkauannya
.
.
.
.
*Sebodoh ini kah aku m**encintai mu? sedangkan mengharapkan mu adalah luka yang ku sengaja, Raa... sudah tahu tak akan bisa bersama tapi aku nekat terus melanjutkan nya*.
__ADS_1