Sagara

Sagara
Part #104


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Masih jelas di ingatan Aisyah bagaiamana sakit dan hancur hatinya ketika melihat tanda merah di bagian leher Sang suami yang saat itu pulang dalam keadaan tak sadarkan diri. Tak ada rasa kecewa melebihi kejadian tersebut, dan yang membuat dadanya semakin sesak tentu semua itu tak lain karna ulah sahabat baik Sagara sendiri yang sekarang tak berani menunjukan batang hidungnya setelah mendapat hukuman yang membuat Tata jera.


Lalu? mungkinkah semua terulang kembali?


Tak ada jaminan yang jauh saja yang bisa menggoda karna nyatanya yang dekat justru lebih berbahaya.


Teng... teng... teng...


Bunyi mangkuk di ketuk langsung membuyarkan lamunan Aisyah, ia bangun dari duduk dan berjalan sedikit untuk memanggil agar apa yang di tunggu nya mendekat.


"Bang, di sini ya," panggil Aish.


"Wah, iya, Neng Aish, siap," jawab Kang baso langganan Sagara.


"Saya ambil mangkuk dulu, Abang tunggu sebentar."

__ADS_1


"Iya, Neng, silahkan," jawab Si Abang senang karena ia tahu jika suami dari wanita itu sangat royal, tak hanya sering mentraktir orang sekitar tapi juga memberi uang lebih saat membayar.


Aisyah kembali masuk kedalam rumah, kali ini ia langsung menuju dapur untuk mengambil wadah dan langkahnya berhenti saat berpapasan dengan Anti yang juga sedang berada di dapur.


"Mbak mau beli bakso, kamu mau gak?" tawar Aisyah yang tak membalas senyum saudari sepupunya itu.


"Enggak, Mbak. Anti abis makan kue yang di bawa Mbak dari kota, enak," ujarnya sambi tertawa kecil.


Aisyah hanya mengangguk sekali lalu melanjutkan lagi niatnya. Karna Anti menolak jadilah ia hanya mengambil tiga mangkuk, untuknya, Sagara dan juga Ibu. Tak perlu bertanya lagi Aisyah paham dengan selera dia orang tersebut.


"Bang, kaya biasa ya, buat ibu bening tapi kalau buat suami saya pedes sedangkan buat saya jangan pakai saos kasih sambel aaj sedikit," pesan Aisyah setelah menyerahkan mangkuk pada Si Abang.


Awalnya Aish kaget tapi setelah iael menebak jika ini pasti karna Ibu, saking senangnya menyambut cucu ketiga ia pasti akan bercerita pada siapa pun.


Aish yang kembali ke teras tak lama menerima sebuah nampan yang berisi tiga mangkuk baso yang begitu sangat menggugah selera.


"Bu, Aish kasih ke Sagara dulu ya," ucapnya yang memberikan satu mangkuk untuk ibu sedangkan yang dua ia bawa ke kamarnya di lantai atas.

__ADS_1


Ceklek


Aisyah masuk kedalam kamarnya, ia menarik napas pelan saat melihat suaminya terlelap sambil mendengkur cukup keras.


"Kamu pasti lelah. Maaf, aku malah merajuk padamu," ucap Aisyah yang merasa kasihan. Ia letakkan nampan yang ia bawa itu diatas meja rias tepat di samping ranjang.


Aisyah lalu duduk di tepiannya dengan kedua mata jelas melihat kearah Si Sostel yang sama nyenyaknya.


"Ini yang aku khawatirkan tadi, ada perempuan lain yang masuk saat kondisi mu seperti ini. Kadang, sebuah kesalahan datang karna terpaksa melakukannya lalu terjadilah hal yang tak di inginkan padahal semua tak pernah di rencana kan," ucap Aisyah yang sambil membenarkan handuk yang tersingkap hingga Si imut yang sedang mengkerut jelas terlihat.


"Sayang, ayo bangun, aku sudah belikan bakso kesukaan mu."


.


.


.

__ADS_1


Aw... pelan-pelan Anti...


__ADS_2