
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Entah, Aisyah berlebihan atau tidak yang jelas ia langsung meminta Anti keluar kamarnya. Kamar yang kini tak hanya ada dia tapi ada suaminya, suami yang meski akhir akhir ini menyebalkan tapi sangat di cintainya.
"Maaf, Mbak," ucap lirih bocah remaja itu ketika Aisyah menunjuk kearah pintu.
"Lain kali, jangan pernah masuk tanpa mengetuk pintu. Kamu sudah besar harusnya sudah lebih bahan tata krama," balas Aisyah dengan dada naik turun.
Kesal, kecewa, sedih dan tak rela bercampur dalam dada wanita itu, ia bahkan tetap bergeming saat Anti keluar dengan menundukkan kepalanya.
Sedang Sagara, menatap lekat istrinya dan ia memang menemukan ekspresi kesal dari wanita itu.
"Aku mau mandi," ucap Sagara yang langsung berlalu ke kamar mandi yang sebelumnya melempar dulu Si selimut ke arah ranjang. Yang di harapkan Aisyah pria itu memeluknya tapi yang ia dapat justru di tinggalkan tanpa memberi kejelasan. Padahal, biasanya Sagara tak pernah menunggu istrinya bertanya lebih dulu.
Rasa kesal yang kian bertambah tentu berpengaruh pada tubuhnya. Aisyah lemas karna memang ia juga lelah setelah menempuh perjalanan cukup jauh, walau berkali-kali berhenti tapi rasanya sama saja. Aisyah duduk di tepi ranjang dengan tangan mengusap perutnya yang kini sudah terlihat membuncit jika dalam posisi seperti itu. Tapi, saat tak lebih dari 30 menit menunggu, Sagara justru keluar dengan sikap seolah tak terjadi apa-apa.
"Sayang, tukang baso yang suka lewat itu udah ada belum ya? aku pengen."
__ADS_1
"Entah, biar nanti ku tanya Ibu," jawabnya masih dengan nada kesal.
Sagara hanya mengangguk, ia yang sama lelahnya memilih merebahkan tubuhnya yang masih memakai handuk sebatas pinggang di tengah ranjang setelah Sang istri keluar dari kamar, semua terasa nikmat dan perlahan hilang saat keduanya terpejam hingga mimpi beranjak datang lalu membuainya.
.
.
.
"Aish--,nunggu apa?" tanya Ibu, ia yang melihat anaknya di teras seorang diri tentu langsung menghampiri.
"Sepertinya belum, untuk Sagara?" tebak Ibu, ia tahu jika menantunya suka sekali dengan baso yang biasa lewat depan rumah, tak jarang pria tampan itu menghabiskan sampai 4 mangkok sekaligus.
"Tapi jualan kan? aku juga pengen."
Ibu mengangguk, meski tertutup hijab dan cadar tapi Ibu merasa ada yang lain dari putri bungsunya.
__ADS_1
"Kamu lelah ya, masuk saja ke kamarmu nanti Ibu berhentikan jika lewat," titah wanita baya tersebut.
"Enggak, Bu. Aku sekalian nunggu Bapak juga," tolak Aisyah yang memilih tetap di teras, rasanya malaa berdekatan dengan Sagara saat sikap pria itu justru tak acuh padanya, padahal dengan sengaja Aish menunjukan ekspresi kesal dan tak suka.
"Bapak gak tau kapan pulang, anginnya tak baik buatmu. Apa--, ada yang ingin kamu bicarakan pada Ibu?"
Aisyah menoleh, kapan ia bisa berbohong pada Ibu, bathinnya yang kadang bingung sendiri, ibu tak pernah bertanya ada apa dengannya, tapi ia langsung menawarkan diri dan itu tak bisa di tolak oleh Aisyah karna ia memang butuh tempat untuk bercerita.
"Anti cantik ya, Bu. sampai kapan dia disini?" tanya Aisyah berbasa basi lebih dulu.
"Ibu juga gak tahu pasti, mungkin sampai ayahnya sembuh dulu, kenapa?" tanya balik Ibu.
.
.
.
__ADS_1
Tidak, Aish takut kejadian tahun lalu terulang...