
🍂🍂🍂🍂🍂
"Ra, bisa kita bicara?" pinta Agam yang membuat SyahRaa diam mematung belum memberi jawaban, ia malah mengedarkan pandangan mencari tempat yang nyaman untuk mereka.
"Di halaman samping aja, kayang ada yang lagi bersihin kolam," sahut SyahRaa.
Agam pun mengangguk, ia tentu sama dengan SyahRaa tak ingin berdua saja, harus ada orang lain agar tak timbul fitnah nantinya.
SyahRaa yang jalan lebih dulu langsung duduk di kursi yang menghadap kepada para pekerja yang sedang membersihkan taman serta kolam, lalu di ikuti oleh Agam yang justru memilih duduk menghadap SyahRaa.
"Kamu kuliah dimana, Raa?" tanya Agam memulai basa basi sebelum asik mengobrol.
SyahRaa yang tanpa menoleh menyebutkan salah satu Universitas ternama dan paling bergengsi di Ibu kota, sedang kan Agam hanya mengulum senyum sembari mewajar kan hal tersebut, mengingat siapa keluarga Pradipta. Pastinya, ia akan memilih yang terbaik dari yang baik untuk bekal masa depannya.
"Aku dua hari disini, dan lusa baru pulang ke kota ku, kampung halaman mu. Aku senang bisa berkenalan denganmu, Raa."
__ADS_1
"Terima kasih," jawab SyahRaa yang belum merasakan kesan apa pun di pertemuan pertamanya dengan Agam.
SyahRaa duduk bersama seperti ini seolah ada yang mengganjal dalam hatinya, ia ingat Christ yang kini sedang bekerja paruh waktu di salah satu Resto.
Lima belas menit lagi waktunya pria itu istirahat jadi tak salah jika SyahRaa mulai tak nyaman karna rasanya ingin mengakhiri obrolan ini.
"Kapan kamu libur kuliah?" tanya Agam lagi karna SyahRaa tak kunjung balik bertanya padanya.
"Masih kurang lebih dua bulan lagi," jawab SyahRaa, meski beberapa pertanyaan sudah di layangkan Agam, namun belum ada pertemuan kontak mata di antara mereka.
Tubuhnya sedang bersama Agam, sedangkan hati dan pikirannya tertuju pada Christ.
"Apa? Maaf, aku tak bisa basa basi," ucap SyahRaa yang mulai merasa bersalah.
Agam tersenyum, hatinya berdebar hebat padahal tatapan dan ekspresi wajah wanita itu sangat datar sekali, ini jarang bahkan tak pernah ia temukan dari gadis mana pun. Biasanya, hampir semua yang Agam temui untuk melakukan pendekatan pasti malu malu dengan langsung merah merona di kedua pipinya. Tapi, pada SyahRaa ia tak menemukan hal tersebut. Agam yang sejak pertama sudah mulai tertarik kini justru merasa ada tantangan lain agar bisa jauh lebih dekat dan kenal, syukur syukur ia bisa menaklukan hati nona muda Pradipta tersebut yang nampak dingin baginya.
__ADS_1
"Tak apa, Raa, santai saja. Nanti, jika kamu ada waktu berkunjung ke kampung halaman, bisa hubungi aku ya. Boleh ku minta nomer ponselmu?" tanya Agam penuh harap dan itu sangat terlihat jelas.
SyahRaa yang menimbang keinginan Agam tak lama menadahkan tangan kanannya, Agam yang paham hal tersebut buru buru meraih ponsel di saku celana panjang yang ia kenakan.
Dengan jari lentiknya, SyahRaa menekan beberapa angka yaitu nomer ponselnya yang jarang orang tahu. Tapi, ia berikan itu karna masih menghargai kakek dan neneknya. Agam pasti orang baik, ia tak akan menyalahkan gunakan apa yang di berikan SyahRaa saat ini.
"Ini, sudah ku simpan dengan namaku," ucap SyahRaa sambil mengembalikan benda pipih milih Agam
Ia yang menerima barang miliknya tersenyum simpul saat melihat nama SyahRaa di layar ponselnya, Agam yang punya getaran lain dalam hati sejak pandangan pertama, buru buru mengganti nama kontak yang di buat SyahRaa dengan cukup namanya itu menjadi...
.
.
.
__ADS_1
Alzawjat almustaqbalia