
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mendengar ada suara lain selain ia dan kepala pelayan tentu membuat Aisyah menoleh dengan cepat. Meski hanya matanya saja yang terlihat tapi siapapun bisa menebak jika wanita itu kini sedang mengerang kesal pada pria didepannya saat ini, tanpa dosa dan rasa bersalah Sagara langsung berhambur memeluk dan usel usel manja, jika biasanya Aisyah selalu mengelus kepala atau punggung tapi tidak dengan kali ini, ia menjewer telinga Sang suami agar menjauh.
"Sakit, Sayang," protes Si calon ayah itu sambil mengusap telinga kanan yang merah karna ulah si Bumil.
"Diem! aku lagi laper."
"Sama, aku juga. Makan yuk," ajaknya dengan nada bicara biasa seolah sebelumnya tak terjadi apa-apa.
Tatapan mata Sagara kini beralih Pada Kepala pelayan, ia memerintahkan wanita berkacamata itu untuk menyiapkan makanan, tapi lagi lagi saat Si Kepala pelayanan ingin beranjak malah di cegah oleh Aisyah.
"Tak perlu, kami makan di luar saja," ucap Aisyah.
Perintah dari Sang Nona muda tentu sedikit mengagetkan Sagara. Jarang sekali wanita itu ingin keluar tanpa meminta pada suaminya tapi justru langsung memberi perintah seperti tadi.
Aisyah yang kembali ke kamarnya di susul oleh Sagara, sampai di ruang ganti wanita itu malah di peluk dari belakang.
"Kita makan di Hotel ya," bisik Sagara, mumpung wanita itu belum berhijab jadi ia masih bebas menciumi leher Sang istri.
__ADS_1
"Mau tidur atau makan?"
"Kan ada Restonya, Sayang. Nanti abis makan kita nginep disana," jawab Sagara, sambil menyelam minum air itulah yang ada di otak mesum pria yang sering "KeLaparan" di waktu dan tempat yang kadang tak tepat.
"Kan kamu denger, aku mau tahu isi Sumedang!"
"Jadi, kita makan sama nginep di Hotel Sumedang? kejauhan ah," tolaknya yang pasrah saat di tinggal Aisyah.
Wanita berbadan dua itu malas sekali rasanya meladeni Sagara, ia biarkan saja pria itu bicara sesuka hatinya ternasuk saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Ke Sumedang beneran nih kita?" tanya Sagara memastikan.
"Ah, aku jadi ingat es itu lagi," bathin Aisyah sedih, ia masih ingin tapi rasanya sudah tak berselera untuk menikmatinya.
Perjalanan yang baru dua puluh lima menit itu akhirnya menepi di depan mini market pinggir jalan, disana ada ada penjual gorengan dan juga minuman cup dengan aneka rasa. Aisyah turun berdua dengan suaminya untuk membeli apa yang sudah di niatkan dari rumah tersebut.
" Campur aja semua nya, Bang." Aisyah yang tergugah seleranya serasa semua itu kini sudah ada di ujung lidah. Melihat cemilan yang baru di angkat dari penggorengan tentu bisa di bayangkan betapa enaknya makanan tersebut saat di makan panas-panas.
"Terimakasih," ucapnya lagi saat menerima uang kembali dan pelengkap Si gorengan tadi.
__ADS_1
Tak hanya itu saja, dua minuman cup jumbo rasa Jeruk manis pun di pesan Aisyah. Semua ia yang memilih tanpa bertanya lagi pada Sagara, dan pria itu pun hanya menurut saja tanpa melayang kan protes ataupun ingin yang lain.
Meski tangan Sagara sudah ada tentengan ia tatap berjalan lebih dulu ke arah mobilnya untuk membuka pintu, pantang bagi keturunan Singa melihat wanitanya melakukan hal tersebut sendiri.
Braaak...
Sepasang suami istri itu kini sudah berada di dalam mobil, sebelum menyalakan mesin mobilnya Sagara sedikit memiringkan posisi duduknya agar bisa berhadapan dengan Aisyah.
"Sayang, mau dong satu," pinta Sagara.
"Nih," jawab Aisyah, ia keluarkan isinya dan memberikan plastik beserta....
.
.
.
Kok aku dikasih cabe rawit nya doang???
__ADS_1