Sagara

Sagara
Part #90


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


Satu hari, dua hari, tiga hari, empat hari Sagara masih menuruti keinginan Aisyah yang ingin makan dan menghabiskan waktu di Bandara, tapi tidak di hari kelima sekarang.


"Aku ada tugas, Sayang," tolak Sagara saat wanita yang setahun itu sudah menemani hari-harinya.


"Ya udah anter aja ke Bandara, biar aku yang liat pesawatnya sendiri," mohon Aisyah.


Sagara yang sedari tadi di ikuti langkahnya oleh Sang istri yang terus merengek itu pun langsung diam dan menatap Aisyah dengan lekat.


"Kamu pikir aku akan izinin, hem?" tanya Sagara yang kini sudah melipat tangan di depan dada.


Aisyah menunduk, harusnya ia tahu dan ingat jika tiada hari yang ia lewati sendiri tanpa Sagara, meskipun pria itu tak bisa menemani, pastilah ada saudarinya yang menjaga Aisyah. Dan wanita itu dengan konyolnya malah ingin pergi sendiri, tentulah Sagara tak akan pernah meng izinkan nya.


"Tapi aku mau," jawabnya lirih masih mencoba membantah dan ini tentu di luar kebiasaan Aisyah selama ia menyandang status sebagai seorang istri.


Tak perduli siapa pria itu, berapa umurnya dan apa statusnya, Aisyah sangat menghormati Sagara sebagai imamnya, tujuannya dan juga sandaran hati serta hidupnya. Dan kini, hanya gara-gara ingin melihat pesawat maju mundur lalu lepas landas wanita yang tak bercadar dalam kamar itu terus merengek dengan sangat menggemaskan.


"Besok ya, aku janji," ucap Sagara yang langsung menangkup wajah cantik Sang istri lalu di ciumnya kening dan kedua pipi yang sedikit mengembung.


"Kamu gemukan ya, Sayang?"

__ADS_1


"Masa sih? enggak ah," sahut Aisyah sedikit panik padahal semalam pikiran itu sempat terlintas di benaknya, ia yang sudah lupa dan ingin menepis malah di ingatkan lagi oleh suami.


"Iya, makin enak di ciummya." alih alih takut Aisyah marah karna dibilang gemuk karna katanya itu adalah kata horor bagi kaum hawa jadilah Sagara buru buru memeluk dan menciumi lagi pipi gembil sang istri.


Aisyah yang lupa dengan rasa paniknya pun mulai tergelak dan tertawa geli, ia yang kini jauh lebih sensitif biasanya akan langsung merajuk jika tak di turuti.


.


.


Aisyah yang kini mengalah, hari ini di rumah tanpa Sagara. Pria itu benar benar ada urusan yang tak bisa di tinggalkan sama sekali, tak ada yang di lakukan wanita cantik itu kecuali berbaring di tengah ranjang usai berkali-kali memuntahkan isi perutnya.


Ya, Aisyah yang merasa mual terus saja bolak balik ke kamar mandi sampai tubuhnya kini serasa tak bertulang.


Kedua mata yang tergenang cairan bening ia pejamkan hingga airnya kini jatuh ke pipi.


Tak jelas kenapa dan bagaimana karna yang ada di pelupuk mata Aisyah hanya Si burung besi yang berputar putar seolah sedang parkir.


Drrtt... drrttt... drrrt...


Getar ponsel diatas nakas tentu langsung membuat Aisyah mengerjap, ia raih dengan tubuh lemas benda pipi tersebut, ada nama Sang suami di layar ponsel miliknya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Sayang," ucap Aisyah setelah ia menggeser icon hijau ke atas.


"Waalaikum salam, kamu udah makan, Sayang?" tanya Sagara, ia langsung menelepon istrinya ketika kepala pelayanan membuat laporan jika nona muda mereka tak kunjung turun untuk makan.


"Belum, aku mau makannya sambil liat pesawat," jawab Aisyah, dan itu tak membuat Sagara kaget.


"Makan dong, nanti kamu sakit gak bisa liat pesawat," rayu Sagara.


"Enggak, aku mau pesawat!" kekeuh Aisyah yang mendadak keras kepala.


"Iya, besok ya, Cinta," sahut Sagara.


"Ya udah, makannya besok juga."


"Kok gitu, gak bisa dong, Aish!" protes Sagara yang tak suka dengan ancaman istrinya tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Ya udah, kalau makannya gak sambil liat pesawat, aku aja yang makan pesawat....


__ADS_2