Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Dan, siapa lagi kak?" tanya Nuria.


SyahRaa yang di tanya seperti itu hanya memberikan senyum simpulnya, ia langsung pura pura mengambil permen milik Nuria saat tatapannya bertabrakan dengan Agam di kaca spion depan.


SyahRaa yang berusaha tenang terus mengukir senyum dan Agam yang peka akan hal tersebut entah kenapa merasa sama tak baiknya.


Ya, pria tersebut tahu apa ya dirasakan oleh gadis itu, jika dulu SyahRaa bebas menceritakan segala tentang Christ, rasanya lain dengan sekarang yang perlahan harus ia batasi. Mungkin, hanya orang yang paling dekat dengannya saja yang bisa mendengar SyahRaa mengucap nama laki-laki tersebut.


Perjalanan yang di tempuh cukup lama perlahan hening karna Nuria sudah terlelap bersandar di bahu SyahRaa yang juga terpejam namun tidak tidur. Ia justru sedang menikmati bayangan bayangan Christ yang terlintas dalam benaknya, hanya itu yang bisa SyahRaa lakukan sekarang. Bukan tak lagi berkomunikasi hanya saja pria itu kini sedang sibuk sibuknya kuliah serta kerja paruh waktu, SyahRaa yang tak pernah banyak menuntut memang hanya bertemu di campus atau ia datang ke tempat kerja Christ itu pun jika di izinkan untuk membawa makan malam.


Lagi dan lagi, parkiran akan menjadi tempat Favorit untuk mereka berdua saat mengisi perut dan bertukar cerita. Semua di Terima oleh SyahRaa termasuk kesederhanaan Christ yang selalu jujur saat ada tak ada, tentu sebagai pria ia pun pasti ingin memanjakan gadis kesayangannya tapi uang kuliah, kebutuhan sehari-hari dan biaya tempat tinggal mengalahkan semua keinginan itu.

__ADS_1


"Menepilah jika lelah, jangan di paksakan, ini sudah malam," ucap SyahRaa yang tahu di depan ada rest area.


"Iya, aku butuh kopi, Raa," jawab Agam. Meski hanya sebatas percakapan singkat namun hatinya sudah senang, karna suara SyahRaa yang tak seketus dulu saat pertama kali kenal.


Mobil menepi di depan restoran cepat saji, Agam yang turun lebih dulu membenarkan posisi Nuria agar tak lagi bersandar di bahu SyahRaa yang katanya ingin ke toilet sebentar.


Dan, 15 menunggu nyatanya SyahRaa datang dengan dia gelas kopi di tangannya yang salah satunya di berikan pada Agam.


"Untukmu, tapi maaf, aku gak tahu kamu suka kopi apa, jadi ku samakan dengan punya ku," ucap SyahRaa yang sempat bingung barusan.


SyahRaa mengangguk pelan, entah terbuat dari apa hati pria di dekatnya ini hingga begitu banyak memiliki rasa sabar untuknya padahal ia sering kali dengan terang terangan menolak apapun itu yang Agam berikan padanya termasuk perhatian, tak pernah sekalipuh ia merespon semua itu apa lagi sampai membalasnya meski sekedar basa basi.


"Yakin, mau pulang ke rumah utama?" tanya Agam saat mereka duduk di pinggiran trotoar dekat mobil yang terparkir.

__ADS_1


"Iya, aku udah bilang sama Ta Buy mau langsung ke sana," jawab SyahRaa yang masih menggenggam gelas kopi yang mengepul asapnya.


"Aga dan PanDamu dimana? apa disana juga?" tanya Agam lagi.


"Mereka di rumah, kamu ke sana saja, biar Nuria denganku," saran SyahRaa karna takut Agam canggung di rumah utama.


"Tak apa, nanti aku langsung pulang setelah melihat mu masuk kedalam rumah," tolak Agam yang memang hanya ingin memastikan SyahRaa pulang tak sendiri.


"Kasihan Nuria, dia pasti lelah jika kalian bolak balik nantinya."


.


.

__ADS_1


.


"Dia biasa seperti itu, kamu tak perlu khawatir. Cukup aku saja yang mengkhawatirkanmu ya, Raa.."


__ADS_2