
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Usai mereguk manisnya surga dunia dengan peluh yang membanjiri tubuh masing-masing, kini sepasang suami-istri yang sempat seharian tenggelam dalam kesalah pahaman bangun di waktu menjelang pagi dengan rasa lega dan bahagia, terutama Aisyah yang perasaannya sudah jauh lebih baik. Setelah melakukan kewajiban bersama, ia keluar dari kamar sedangkan Sang suami mwmilih melanjutkan tidur seperti biasa.
Di lantai bawah, tepatnya di dapur Aisyah bersama Ibu mulai menyiapkan untuk sarapan pagi. Bapak yang akan keluar kota hari ini cukup membuat Ibu kerepotan menyiapkan segalanya.
"Anti belum bangun, Bu?" tanya Aisyah yang mencari sosok adik sepupunya.
"Sudah, tapi malah masuk lagi ke kamar, biarkan saja. Dia tak punya kewajiban melakukan apapun. Semua terserah pada kesadarannya saja," jawab Ibu. Ia memang tak pernah meminta di bantu, jika pun ada yang harus di kerjakan, ibu akan kerjakan sendiri semampunya.
"Hem--, semalam dia menangis, menangis dalam pelukanku karna ingat mamanya. Aku sulit sekali menenangkannya saat itu sebab aku tak mengerti posisinya," adu Aisyah dengan kejadian semalam.
"Semua orang akan merasakannya, tinggal tunggu giliran saja," jawab Ibu sembari mengusap kepala putrinya.
"Ibu--," Protes Aisyah yang tentu ia belum siap jika sesuatu akan terjadi pada wanita baya itu, dan Ibu malah terkekeh dengan senyum khasnya.
Semua kembali pada aktifitas masing-masing, Aisyah selalu sarapan lebih dulu semenjak hamil ketika suaminya tak kunjung bangun. Apalagi di masa liburnya sekarang, wajar rasanya ia ingin bermalas-malasan karna bagaimana pun Sagara tetapa mahasiswa seperti umumnya meski status yang sebenarnya adalah seorang suami dan calon ayah.
__ADS_1
.
.
.
Tap... tap.. tap...
Sagara yang baru bangun dan keluar kamar langsung turun ke lantai bawah karna di atas tak siapapun. Ada secarik kertas dekat gelas air putih bertuliskan jika Sang istri sedang pergi sebentar mengantar Ibu, dan Sagara belum tahu siapa saja yang ada di dalam rumah dua lantai ini.
"Njiiir, gue di tinggalin, kalau di gondol kucing gimana, cowo setampan dan selucu gue ini," ucap Sagara sambil meregangkan otot di teras depan rumah.
Merasa ada suara lain, tentu membuat Sagara menoleh lalu membalikkan tubuhnya yang hanya berbalut kaos putih dan celana pendek rumahan.
"Kirain gak ada juga," ucap Sagara dengan tatapan ikut kearah Anti yang duduk di salah satu kursi.
"Enggak, aku jagain rumah, lagian males keluar," jawabnya santai dengan senyum lebar, ini berbeda dari yang kemarin Sagara lihat saat gadis remaja itu main ayun ayunan sendiri.
__ADS_1
"Kamu kesini liburan? tapi setahuku ini bukan masanya libur sekolah," tanya Sagara yang di buat penasaran.
Anti pun lekas menoleh, ia tak menyangka mendapat pertanyaan seperti itu. Ia pikir kakak sepupunya sudah bercerita tapi nampaknya belum sama sekali.
"Kalau Ayah masuk rumah sakit, pasti aku kesini karna Ayah gak mau aku dirumah sendiri," jawab Anti, ia masih mencoba tersenyum walau sangat di paksakan.
"Oh, ibumu pasti sibuk di rumah sakit juga kan?" tebak Sagara, itu hal lumrah sebagai sepasang suami-istri.
"Enggak, Mama sudah tenang disana, mungkin sekarang sedang bernegosiasi dengan Tuhan untuk jangan mengambil Ayah secepatnya karna masih ada aku yang butuh teman berbagi."
"Kamu---, anak piatu?"
Anti menoleh lalu mengangguk, tak ada cairan bening di kedua mata sendunya tapi Sagara tahu jika hati gadis itu tak baik baik saja.
.
.
__ADS_1
.
"Jangan menangis, aku paham lukamu. Di tinggal seorang wanita yang tak Bermahkota namun punya surga layaknya dunia tak lagi punya warna."