
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Anti--," panggil Sagara yang akhirnya mendekat ke arah gadis remaja berponi yang sedang ayun ayun sendiri.
Mendengar suaranya di sebut, tentu ia langsung bangun dan menoleh. Raut wajah kaget tentu jelas terlihat dan Sagara langsung tersenyum simpul.
"Ngapain disini? nanti orang susah bedain loh, mana manusia dan kuntilanak," ledek Sagara saat mereka saling berhadapan tentunya dengan jarak.
"Mau deh di anggap kuntilanak, kan seru ketawa terus jadi keliatannya bahagia," sahut Anti dengan nada bicara ceria padahal sebelumnya Sagara melihat gadis itu terlihat murung sendiri.
"Kenyataannya?" tanya Sagara dengan tatapan lekat.
Deg
Perasaan Anti langsung mencelos, ia yang berubah panik membuat Sagara yakin sedang ada yang di sembunyikan oleh gadis itu.
__ADS_1
"Mbak Aish mana? kok gak di temenin? kan lagi hamil," tanya Anti mencoba mengalihkan obrolan, ia tak berani menatap Sagara yang ternyata masih memusatkan mata padanya.
"Kamu belum jawab pertanyaanku tapi sudah balik bertanya, gak sopan!"
"Hehe, maaf, Kak. Hanya saja--, rasanya tak perlu ku jawab." Anti yang kebingungan hanya bisa mengusap tengkuknya sendiri.
"Ayo masuk, anginnya cukup kencang. Nanti kamu kemasukan, bahaya." entah kenapa Sagara malah mengacak pelan pucuk kepala Anti, ada perasaan lain dalam hatinya tapi tentu bukan cinta karna itu sudah habis di Aisyah, wanita yang kini sedang mengandung anaknya.
"Kemasukan apa?" tanya Anti.
"Angin lah, masa Air," jawab Sagara yang lalu pergi untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Anti yang bergeming menatap punggung Sagara yang kini semakin jauh dari pandangannya, ada deru napas yang ia hembuskan secara kasar karna rasanya begitu berat dan sesak dalam dadanya.
"Kenapa aku tak seberuntung mereka?"
__ADS_1
Cek lek
Pintu kamar di buka Sagara dengan pelan, ia langsung ke arah ranjang karna disana ada Sang bidadari hatinya. Aisyah yang tiduran dengan posisi meringkuk pun langsung di peluk dari belakang.
Tak ada suara yang terlontar dari pasangan suami istri tersebut, keduanya masih diam denha pikiran masing-masing. Aisyah dengan rasa kesal dan cemburunya sedangkan Sagara dengan otak yang kini sedang melanglang buana kearea 21+.
Tangan yang di awalnya ada di perut kini naik wilayah pergunungan yang semakin bulat menantang, rasa kenyal namun padat tentu membutat Sagara betah berlama-lama disana, tapi itu kemarin-kemarin karna sekarang tangannya di tepis dengan cukup lumayan kasar.
"Kamu kenapa sih?!" tanya Sagara yang tahu jika istrinya tak mau di sentuh..
Tak ada jawaban dari wanita itu, ia diam seribu bahasa. Jangan kan mengeluarkan suara karna anggukan atau gelengan kepala pun tidak Aisyah lakukan sama sekali.
"Coba lihat aku, Aish. Aku buat salah apa padamu?" tanya ulang Sagara yang berusaha membalikkan tubuh istrinya yang tentu sangat hati-hati karna ia tak pernah lupa jika dalam perut wanita itu adalah keturunan dua keluarga berpengaruh dalam dunia bisnis.
"Jika aku yang mengatakan salahku, kamu pasti beranggapan aku ini berlebihan. Jadi pikirkan saja sendiri," jawab Aisyah yang memilih berdebat dengan hatinya sendiri dibanding dengan suaminya.
__ADS_1
"Aku bukan cenayang yang tahu semua hal, jangan beri aku teka teki, aku sudah pusing dengan semua tugas kuliahku!" balas Sagara yang tentu ini di luar dugaan Aisyah.
Oh, maksudmu selama ini aku hanya menjadi beban pikiranmu saja, begitu?