Sagara

Sagara
season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂


SyahRaa yang sudah ada di mobil bersama adiknya masih diam belum buka suara meski Aga berkali kali melirik ke arahnya.


Entah harus mulai dari mana, yang jelas adik kakak itu masih menunggu siapa yang lebih dulu akan bicara.


"Ehem," dehem Aga saat mobil berhenti di lampu merah, masih ada 20 menit lagi bagi mereka berdua sampai di rumah.


"Dia baik, kamu jangan khawatir," kata SyahRaa yang langsung membuat adiknya menoleh.


"Syukurlah, itu yang aku harapkan," jawab Aga meski perasaannya tetap tak lega, ada yang mengganjal dalam hatinya yang ia yakin sedang ada yang di sembunyika oleh sang kakak.


"Hem, saking baiknya aku tak sanggup harus merebut Christ dari Tuhannya," lanjut SyahRaa dengan hembusan napas yang begitu berat.


"Maksudmu apa, kak?" tanya Aga, iasampai menepikan mobilnya saking tak paham dengan yang di maksud oleh kembarannya tadi.


"Kami berbeda, tapi kami punya rasa yang sama, saling mencintai dan ingin memiliki meski itu musrahil. Dia anak Tuhan yang baik, aku takut, Dek," jelasnya dengan cairan bening yang menggenang di pelupuk mata.

__ADS_1


"Dia--?" tanya Aga yang tak kuat meneruskan karna tangis SyahRaa akhirnya pecah juga.


"Iya, kamu benar. Apa kami salah?"


Aga diam, ia tak punya jawaban perihal pertanyaan yang di lontrakan sang kakak barusan sebab ia tak punya pengalam akan hal tersebut.


"Ibun tahu?"


SyahRaa mengangguk, ia jug menjelaskan jika kedua orang tua mereka sudah meminta Christ untuk kembali tapi pria itu menolaknya dengan alasan tak siap.


" Jangan, Kak. Jika kalian sudah terlalu nyaman di tambah sudah kenal dengan keluarga masing masing semua akan smakain rumit," jawab Aga yang tak mau wanita pemegang tahta tertinggi dalam hati nya itu kecewa.


"Ibun tak sejahat itu kan, Dek?"


Ya, Ibun tentu tak kan melarang jika mereka hanya berteman saja, sebab untuk menjalin silaturahmi tentu bisa dengan siapa pun, tapi entah jika mereka mengaku saling mencintai karna taruhannya adalah sebuah iman dan keyakinan. Saingan terberatnya tentu bukan ciptaannya tapi penciptanya.


Sudah lama SyahRaa memang ingin cerita pada Aga, namun baru kali ini mereka ada waktu untuk bicara. Dan saat semua sudah ia luapkan tanpa ada yang di sembunyikan lagi, rasanya tentu seperti terlepas sedikit dari beban yang terus menghimpit dadanya.

__ADS_1


**Ceklek**


Pintu terbuka setelah SyahRaa mempersilahkan orang yang ada di balik pintu kamarnya yang berwarna putuh itu untuk masuk.


Di saan ternyata ada pria kesayangannya yang kini sedang berjalan mendekat.


"Tuan putri PanDa lagi apa?" tanya pria itu saat menghampiri anak sulungnya yang sedang duduk membaca buku di sofa panjang.


"Gak ngapa ngapain, cuma lagi iseng aja," jawab SyahRaa sambil memperlihat kan apa yang sedang ia pegang sekarang.


"Ini bukannya buku Ibun?" tanya PanDA Sagara.


Si sulung pun langsung mengangguk, benda yang ada di tangan SyahRaa memang sebuah buku milik Ibun yang sudah satu minggu lalu ia pinjam namun baru hari ini sempat ia baca, itu pun karna bosan menunggu telepon dari Christ yang belum pulang kerja paruh waktu.


"Kakak mau Hijrah?" tanya PanDa nya lagi dengan tatapan penuh selidik.


"Hem, Hijrah?" tanya balik SyahRaa yang kaget namun mendapat jawaban anggukan kepala dari pria yang kini duduk di dekatnya.

__ADS_1


Doakan saja, karna aku sedang berjuang untuk tidak GOYAH...


__ADS_2