
🍂🍂🍂🍂
SyahRaa yang di izinkan duduk di kursi depan tepatnya di samping Agam membuat pria itu tak lepas mengukir senyum. Satu tahap lebih baik setidaknya ada di hubungan mereka.
Meski belum terikat apapun tapi setidaknya SyahRaa tak terlalu menjaga jaraknya akhir akhir ini dan itu terbukti saat keduanya tak berdebat saat pulang ke ibu kota dan juga cepatnya SyahRaa membalas pesan.
"Masih berhubungan dengan Christ, Raa?" tanya Agam yang langsung membuat gadis di sebelahnya itu menoleh.
"Aku boleh menyebut namanya kan?" lanjutnya lagi masih dengan tersenyum.
"Masih," jawab SyahRaa singkat dan sangat jelas hingga rasanya mencubit hati Agam.
"Aku yakin dia sangat baik hingga begitu beruntung karna sangat di cintai olehmu."
Tak ada jawaban dari SyahRaa, ia tak membenarkan karna baik buruknya Chris cukup ia yang tahu selama menjadi wanita satu satunya yang paling dekat dengan pria tersebut.
Tapi, helaan napas berat SyahRaa membuat siapapun tahu jika dadanya sesak dan sakit saat mendengar nama Christ di sebut apalagi itu oleh Agam.
"Kamu bisa mencintaiku, tapi jangan paksa aku melupakan orang yang aku cintai, bagaimana?" tanya SyahRaa.
__ADS_1
"Aku tak akan melakukannya, Raa. Tapi boleh aku minta sesuatu darimu?"
SyahRaa menatap lekat Agam, kali ini akan ada negoisasi di antara mereka yang di harapkan tak memberatkan hati masing-masing.
"Kamu mau apa dariku?" tanya SyahRaa.
"Tolong jangan perjuangkan Christ secara berlebihan, Raa--," mohon Agam, "Aku memang tak tahu siapa jodohmu, dan aku pun tak bisa mengklaim jika aku akan menjadi pendampingmu, tapi bisa kah kita semua cukup mengikuti alur takdir yang di buat Tuhan?"
SyahRaa mengangguk pelan, bahkan sangat pelan hingga Agam saja tak tak bisa memastikan apa gadis itu menyetujui permintaannya barusan.
"Aku hanya tak bisa memaksa untuk melupakannya, dia cinta pertamaku. Dia bahagia serta luka ku untuk saat ini," ucap lirih SyahRaa.
Akan ada saatnya Tuhan menuntun setiap manusia pada jodohnya masing-masing, sebab Ia tak mungkin menciptakan seorang hamba tanpa pasangan.
.
.
Sampai di kampus, SyahRaa turun dari mobil Agam, setalah kurang lebih 15 menit keduanya hanya diam dan tenggelam dengan pikiran masing-masing. Agam yang sekalian pamit menitip kan beberapa pesan pada SyahRaa yang salah satunya yaitu agar gadis itu bisa menjaga diri. Ia hanya tak ingin hal buruk menimpa SyahRaa yang selalu ia doakan menjadi masa depannya kelak.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan ya, Terima kasih banyak karna aku sudah sangat merepotkanmu," ucap SyahRaa.
"Tak apa, aku senang melakukannya."
Agam yang masih di tempatnya tak beranjak sama sekali sebelum SyahRaa menghilang dari pandangannya. Namun, justru hal lain yang tertangkap oleh kedua mata pria baik itu.
"Raa--," panggil Christ yang ternyata mengikuti SyahRaa sejak gadis itu di parkiran.
Ia yang namanya di panggil oleh suara yang jelas di hapal nya itu pun sontak membalikkan tubuhnya.
"Padahal, aku harap ini bukan wangi tubuhmu, Christ," tutur SyahRaa yang sedikit memanyunkan bibirnya. Sudah ada firasat memang jika pria tersebut ada di dekatnya.
Christ tertawa kecil, ia senang jika melihat SyahRaa merajuk seperti ini, seolah ada tantangan untuk memeluk tapi pastinya ia tak akan bisa melakukan hal tersebut. Cintanya begitu tulus hingga tak ingin menyentuh gadis itu meski hanya sebuah pelukan semata.
Kini, keduanya berdiri saling berhadapan dengan sebuah rasa yang sama, yaitu rasa RINDU. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa kecuali tersenyum dengan tatapan sendu, hingga mereka yakin jika...
.
.
__ADS_1
.
Terkadang, Tuhan mempertemukan kita dengan orang yang salah lebih dulu sebelum akhirnya bertemu dengan orang yang tepat. Tapi, sebenarnya tak ada yang salah dengan CINTA hanya saja, terkadang kita yang kurang pas menempatkannya....