Sagara

Sagara
draft


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pagi harinya, Sagara yang tertidur di depan pintu terbangun saat kepala pelayan datang.


Ia yang merasa tubuhnya sakit semua berusaha bangun meski rasanya itu sangat sangat sulit.


"Tuan," ucap lirih kepala pelayan yang bingung.


"Aisyah belum keluar?" tanya Sagara.


"Belum, Tuan. Sarapan sudah siap dari tiga puluh menit yang lalu."


"Hem, iya."


Sagara bangun setelah ia merasa jauh lebih baik meski kepalanya masih sangat berat ia rasakan. Ia bangun dan berdiri pun dibantu sampai tubuhnya bisa seimbang.


"Aish, kita sarapan dulu ya, kamu sudah bangun belum, Sayang?" tanya Sagara di depan pintu sambil mengetuknya pelan. Namun lima menit menunggu tak juga ada jawaban sama sekali dari wanita yang masih merajuk padanya itu.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu, aku mau mandi dan setelahnya akan pergi ke rumah Marcel, aku akan cari tahu siapa yang sudah berani mengusik ketenangan rumah tangga kita," ucap Sagara yang sekalian pamit karna ia sudah tak sabar ingin menyeret orang tersebut ke hadapan Aisyah.


"Kamu jangan lupa sarapan ya, aku tak mau kamu sakit, aku mencintaimu, Aisyah."


Sagara tersenyum sambil berurai air mata, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya jadi Aisyah sekarang.


Dan Sagara sudah bertekad akan dengan cepat menyelesaikan semuanya. Ia begitu rindu dengan Aisyahnya sekarang. Jangan sampai ada kata perpisahan diantara mereka yang baru saja mereguk manisnya madu cinta dalam bahtera rumah tangga.


"Tolong siapkan sarapan untuknya, Istriku tak akan mau keluar jadi bawakan saja kemari," titah Sagara sebelum kembali ke kamarnya.

__ADS_1


Bukan tak cinta, hanya saja kadang seseorang memang butuh waktu untuk sendiri dan Sagara paham hal tersebut. Sembari menunggu Aisyah pulih dari rasa sakitnya ia juga tak akan tinggal diam, Sagara akan pergi untuk membereskan badai pernikahannya ini.


Di dalam kamar, Sagara langsung mandi dan ia tak ingin melihat tubuhnya sendiri. Pantas Aisyah kini begitu jijik karna ia Sendiri saja merasakan hal yang sama. Sagara sengaja membiarkan itu untuk hari ini sebagai bukti jika ia sudah di lecehkan oleh seseorang.


"Masa ia Marcel?" gumam Sagara yang kemudian menggelengkan kepala dengan cepat.


"No! dia normal dan gue tahu itu!" sambungnya lagi yang kemudian membuang napas kasar.


"Tata kah orangnya?"


Sagara yang mengingat ingat terus saja memutar otaknya mencari tahu siapa yang harus ia habisi sekarang karna sudah berhasil menyakiti istrinya.


Tak ingin berlama lama akhirnya Sagara dengan cepat merapihkan dirinya, ia sengaja memakai kemeja agar mudah memperlihatkan pada Marcel nanti. Hanya satu temannya itu yang pertama harus memberinya penjelasan sembari ia mengambil mobilnya yang dibawa pemuda itu.


Keluar dari kamar pribadinya, Sagara kembali ke kamar tempat Aisyah bersembunyi untuk pamit. Meski tak ada jawaban tapi setidaknya ia sudah izin mau kemana dan bertemu siapa agar salah paham tak lagi mengusai pikiran Aisyah yang pastinya juga masih kacau.


.


.


.


Sagara pergi dengan di antar oleh supir pribadi karna memang mobilnya ada di rumah Marcel, Karna tak ingin repot terlebih kepalanya juga sedang berdenyut hebat kali ini, perut yang lapar saja kalah dengan rasa penasaran karena ia ingin cepat cepat bertemu dengan temannya itu.


Marcel tinggal sendiri di sebuah kos kosan mewah tak jauh dari ibu kota. Jika Sagara patah hati karna di tinggal Sang Mama lain halnya dengan Marcel yang harus menelan pil pahit jika ia adalah anak dari istri kedua papanya yang memang seorang pengusaha. Jadilah ia kini memilih tinggal sendiri agar kehidupannya jauh lebih tenang meski nyatanya justru semakin bebas dan lepas tanpa perhatian dari orang tua. Padahal, Sagara sudah sering mengingat kan untuk ia pulang karena bagaimana pun Marcel jauh lebih baik darinya yang masih punya orangtua lengkap.


Kuran lebih empat puluh lima menit, Sagara sampai di tempat tinggal temannya. Ia meminta supirnya itu pulang karena sudah melihat mobil dan motor besar Marcel ada di Parkir kost'an dan itu pertanda jika memang Pemuda tersebut ada di kamarnya.

__ADS_1


Sagara masuk seperti bisa, ia laporan lebih dulu pada satpam yang ada di post depan, meski hanya deretan kamar kamar kecil tapi keamanan dan kebersihannya bisa di acungi jempol sebab yang tinggal di sana adalah mahasiswa dan pekerja kantoran.


Sagara naik ke lantai dua dengan tangga biasa karna bangunan itu memang ada tiga lantai dan masing-masing lantai berbeda ukurannya, langkah kaki Sagara begitu cepat hingga ia sempai di kamar nomor tujuh.


Ia yang mengetuk pintu sebanyak lima kali akhirnya terbuka juga. Marcel menyembulkan kepalanya dan kaget saat ia melihat Sagara yang datang sepagi ini.


"Udah sadar lo?" tanya Marcel sambil membuka pintu lebih lebar agar Sagara bisa masuk ke dalam.


"Udah, ada urusan penting banget gua sama lo," ucap Sagara serius sambil membuka satu persatu kancing kemejanya


"Heh, mau apa lo?" tanya Marcel panik, ia yang hanya memakai boxer tipis dan pendek langsung menyembunyikan inti tubuhnya dengan tangannta sendiri.


"Jangan gila! gue gak napsu sama lo! gue datang kesini mau nanya sama lo, ini bikinan siapa?" tanya Sagara dengan nada tinggi. Marcel yang habis mabuk serta bangun tidur harus jauh lebih dekat jika ingin melihat dengan serius.


"Gile! bikinan siapa ini gede gede amat? belom bisa tuh pasti, kurang profesional masih amatiran," ledek Marcel yang langsung di lempar bantal oleh Sagara


"Gue serius! ini bikinan siapa?" tanya ulang Sagara.


"Lah, mana gue tahu. Lo yang di cumbu kenapa nanya sama gue?!" oceh Marcel yang tak tahu apa apa.


"Ok, sekarang bilang sama gue, semalem gimana pertama kali lo temuin gue, ayo cerita cepetan!" pinta Sagara, jauh lebih cepat bukankah lebih bagus agar ia cepat bisa pulang juga.


"Jadi gini, semalam, pas gua lagi ciuman sama cewe baru gue tiba tiba ada Waiters datang nemuin gue dan dia bilang kalau ada temen gue yang lagi mabuk di dalam mobil warna putih tempatnya di parkiran Club dari situ gua bingung temen gua siapa? karna penasaran dan khawatir, akhirnya gua keluar dari Club buat langsung ke parkiran dan di situ cuma ada satu mobil warna putih dan itu gua tahu banget kalo itu mobil milik lo, gua samperin dan benar lo udah nggak sadarin diri dan akhirnya gue bawa lo pulang. Udah gue cuman tahu sampai situ aja," jelas Marcel


"Terus yang kasih tahu waiters buat bilang kalau itu siapa?" tanya Sagara semakin penasaran Karna ini sepertinya benar-benar di sengaja seolah Sagara di jebak dalam mobilnya sendiri.


"Lah, mana gue tahu!"

__ADS_1


"Sekarang gue yang tanya, itu gimana ceritanya lo bisa Pingsan dalam mobil? kata Waiters lo mabok tapi gue gak cium alkohol sama sekali," tanya Marcel yang ikut penasaran, sebagai tukang mabok tentu ia tahu dan bisa membedakan maka itu ia bilang jika Sagara justru pingsan.


__ADS_2