
🍂🍂🍂🍂
Alzawjat almustaqbalia
Senyum terukir di ujung bibir Agam saat ia mengetik huruf demi huruf di atas layar ponselnya saat ini
Bagaimana tidak, karna nama yang di ganti di kontak nomer SyahRaa artinya adalah Calon masa depan yang ia harap kelak akan menjadi istrinya. Biarkan itu semua tak hanya sebuah nama atau panggilan tapi juga doa untuk hubungan Agam dan juga SyahRaa kedepannya yang ia harap jauh lebih dari ini. Baru pertama kali melihat nyatanya Agam langsung merasa jatuh cinta di pandangan pertama.
"Kenapa? apa ada yang salah dengan nama yang ku berikan?" tanya SyahRaa yang ternyata diam diam memperhatikan.
"Tak apa, ayo masuk, ini sudah petang," ajak Agam yang di iyakan juga oleh SyahRaa.
Keduanya beda arah saat di ruang tengah, Agam masuk ke kamar tamu sedangkan SyahRaa ke arah tangga karna kamarnya ada di lantai dua.
.
.
.
Setelah melakukan kewajiban masing-masing, kini keluarga tersebut berkumpul lagi di ruang makan untuk menikmati sajian yang bisa memanjakan perut dan juga lidah, karna Kakek dan Nenek datang cukup mendadak jadilah hidangan yang di masak pun yang ada di kulkas saja.
"Papamu kapan pulang? sudah lama Ayah tak bertemu," tanya kakek tentang besannya yang selama ini bisa di hitung dengan jari mereka berjumpa.
__ADS_1
"Gak tau, Yah. Mungkin pas cucunya ini pada nikah nanti," jawab Aga sambil terkekek.
Bak Jailangkung, Papa Zico tak bisa di tebak kapan kembali, sebagai anaknya saja Sagara tak bisa memastikan hal tersebut. Pria baya itu tak lagi sibuk dengan urusan kantor, ia justru sibuk menyenangkan dirinya sebagai Duda Keren kaya raya.
"Kemarin telepon Aga, katanya minggu ini pulang, terus tanya Aga mau di beliin apa?" cerita si bungsu bagai bocah taman kanak-kanak karna matanya fokus pada makanan di atas piring.
"Terus Aga minta apa?" tanya Ibun Aisyah.
"Minta kakek pulang aja, gak usah beli apapun," jawabnya cerdas, karna rasa rindu yang di balas dengan pertemuan tak ternilai harganya.
Sagara dan istrinya pun tersenyum bangga, karena tak hanya Aga, semuanya pun sangat rindu pada Tuan besar Pradipta.
"Minta bawain pacar sana," ledek SyahRaa yang tahu jika adik kembarnya itu sedang dekat dengan seorang gadis.
"Gak!" tolak Aga dengan sorot mata memicing.
"Anak bayi Ibun udah mau punya pacar kah?" tanya wanita bercadar itu mulai panik karna hal tersebut tak pernah terpikir olehnya sama sekali selama membesarkan Aga.
"Enggak," jawab Aga tak panik.
"Enggak salah lagi," timpal SyahRaa sambil tertawa kecil dan itu semakin membuat Agam jatuh cinta melihatnya.
"Iyalah, kan udah punya. Ngapain juga minta sama Kakek," lanjut PanDanya, ia senang jika Aga punya pacar karna ia bisa merebut kembali wanita halalnya dari si anak bujang.
__ADS_1
"Ish, enggak! Aga gak punya pacar, kan gak boleh sama Ibun. Tapi, Aga punya temen cewe perempuan," jelasnya yang keceplosan.
Dan itu berhasil membuat yang lain tercengang.
"Emang Aga bisa deket sama perempuan? bukannya suka takut?" tanya Kakek yang tahu betul bagaiamana cucunya itu.
"Bisalah, kan Aga udah gede!"
"Jangan pacaran dulu ya, kuliah yang bener," pinta Ibun yang seolah sedang menahan rasa cemburu.
"Gak apa apa kalau cuma deket, Bun. Aga cukup kasih perhatian aja," sahut Sagara sambil mengusap punggung tangan istrinya.
"kasih perhatian gimana?" tanya Aga, ia tak pernah melakukan itu, karna justru ia yang sangat di perhatikan oleh Deeva selama ini.
"Ya ingetin apa gitu, atau minimal nyuruh temen deketmu itu makan," timpal SyahRaa yang akhirnya gemas sendiri.
"Dih gak mau," jawab Aga sambil menggeleng kan kepalanya.
"Lah, emang kenapa?"
.
.
__ADS_1
.
Ngapain nyuruh makan, ngasih beras aja enggak!