
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Acara yang di gelar di Pondok Pesantren akhirnya selesai di jam 10 malam, SyahRaa yang datang sejak sore kini bersiap pulang bersama Ibun dan PanDanya, karena kakek dan nenek sudah lebih dulu dari satu jam lalu. Semakin lama, dua keluarga itu semakin dekat, apalagi Nuriah yang tak mau jauh dari SyahRaa selama acara berlangsung, bahkan anak gadis remaja tersebut berkali-kali menawarkan SyaRaa untuk menginap dan tidur di kamarnya.
"Nuri, jangan begitu. Kakaknya mau pulang," kata Ning Tyas, Ibu dari Nuriah. Ia sampai tak enak hati sebab sang putri terus saja merengek memeluk SyahRaa.
"Tak apa, nanti lain kali kakak nginep ya," tolak halus SyahRaa yang tak punya kesiapan apa pun jika menuruti maunya Nuriah malam ini.
"Mau pulang dengan orang tuamu, Raa?" tanya Ning Tyas.
"Iya, mungkin mereka sudah menunggu. Ara pamit pulang dulu," balasnya sambil tersenyum lalu mencium takzim punggung tangan wanita di depannya.
Tak ada basa basi SyahRaa akan di antar oleh Agam karna waktu sudah hampir tengah malam dan Nuriah pun pasti enggan menjadi orang ketiga di antara dua orang dewasa itu. Jadi tak ada alasan untuk mereka berdua setelah acara selesai.
__ADS_1
Namun, baru juga SyahRaa keluar dari Aula terdengar suara pria yang kini tak lagi asing di telinganya. Ia sudah bisa menebak meski tak menoleh sekali pun.
"Sudah mau pulang?" tanya Agam, ia langsung menundukkan sedikit pandangannya karna baginya hari ini SyahRaa terlihat sangat cantik luar biasa dengan gamis dan pashmina satu warna senada.
"Iya, Ibun dan PanDa pasti sudah menunggu, aku duluan ya," pamit SyahRaa lagi yang terlihat sudah mengantuk.
"Iya, hati hati ya, jika sempat bisakah kabari aku saat sampai di rumah nanti?" pinta Agam yang cukup sederhana namun tak semua orang bisa melakukannya apa lagi jika tak ada rasa.
"InshaAllah ya, aku tak janji," jawab SyahRaa dengan senyum simpul di ujung bibir nya yang merah muda alami.
SyahRaa yang melangkah pergi lebih dulu masih di tatap punggungnya oleh Agam tetap berdiri di posisinya, sama seperti SyahRaa barusan, senyum lebar pun terukir jelas di wajah Agam yang selalu saja teduh bagi siapa pun yang memandangnya.
"Kamu bukan milikku, tapi kamu pusat dan tujuan akhirku, Raa."
__ADS_1
Tiga hari di kota kelahiran Ibun, banyak yang di lakukan oleh SyahRaa termasuk bermain bersama dengan si Choky yang hanya bisa di kandangnya saja, andai ia seorang manusia tentu pasti sudah tua renta mengingat SyahRaa yang kini hampir 20 tahun.
"Raa--, kita pulang sore nanti ya," ucap Ibun yang sangat mengagetkan SyahRaa, ia yang sedikit melamun langsung terlonjak kaget.
"Sore ini, Bun?" tanya SyahRaa memastikan.
"Iya, tapi ngomong ngomong selama disini Agam tak kemari, kenapa? apa dia sedang pergi?" Ibun yang merasa tumben pun akhirnya di buat penasaran dengan ke beradaan si sosok pria tampan yang biasa akan datang berkunjung satu atau dua kali. Tapi kali ini, sekali pun tak memperlihatkan batang hidungnya semenjak acara di pondok selesai malam yang lalu.
"Entah, aku gak dapat kabar apapun juga darinya," jawab SyahRaa yang bahkan baru ingat dengan Agam.
"Apa kalian bertengkar?"
"Enggak, Bun. Apa yang mau kami ributkan?" jawabnya sambil terkekeh karna merasa tak pernah ada masalah dengan Agam.
__ADS_1
Syukur lah, Ibun hanya khawatir. Raa, cinta sepihak itu menyakitkan, tolong jaga perasaannya ya.