
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Perdebatan sepasang suami istri itu di akhiri dengan keluarnya Aisyah dari kamar, rambut panjangnya yang di ikat memang tak terlihat berantakan tapi wajahnya tak bisa di bohongi jika wanita itu sedang banyak pikiran. Dan di ujung tangga ia malah berpapasan dengan gadis kecil biang dari rasa kesalnya.
"Mbak, mau kemana?" tanya Anti yang baru masuk, rumah yang nampak sepi membuat hanya ia dan Anti saja di lantai bawah.
"Ke dapur, ambil minum," jawab Aisyah dengan nada ketus.
Adakah wanita di dunia ini yang bisa menahan rasa cemburu?
"Biar Anti yang ambilin ya, Mbak Aish duduk aja di sini," balasnya yang kemudian mengajak kakak sepupunya itu untuk duduk menunggu di kursi meja makan.
"Mau minum apa? dingin atau hangat?" tanya Anti lagi.
Awalnya Aisyah diam, ia lekat-lekat menatap Anti yang terakhir bertemu masih sangat menggemaskan tapi saat ini, malam ini tepatnya gadis itu sedang ranum ranumnya jika jadi setangkai bunga.
"Mbak--, Anti tanya, Mbak mau minum apa?"
__ADS_1
"Hem, maaf. Mbak gak denger, air biasa saja di gelas yang ukuran sedang ya, tolong di isi penuh," jawab Aisyah, jika tangannya tak di sentuh ia pasti tak sadar dari lamunannya.
Anti tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu berjalan ke arah Dispenser Air setelah mengambil gelas di dalam rak.
"Ini, Mbak. Mbak ngapain turun ke bawah kalau cuma mau minum? tinggal suruh Kak Saga aja, kan?" ucap Anti yang ikut duduk juga di sebelah Aisyah.
"Hem," sahut Aisyah yang kemudian menegak minuman yang di ambil oleh Anti.
Tak ada obrolan apapun hingga akhirnya Aisyah melayangkan pertanyaan basa basi karna sejak ia datang ia belum menyapa anak gadis itu, justru malah mengusirnya dari kamar.
"Ayahmu bagaimana? kata Ibu sakit lagi?"
"Sabar ya, doakan Ayahmu agar cepat sembuh."
"Anti pasti lakuin itu, karna Anti gak mau sendirian. Cukup Mama yang pergi, Ayah jangan, Mbak," ucap lirih Anti yang memang anak piatu. Mamanya meninggal sudah cukup lumayan lama dan ia hanya tinggal berdua dengan Ayah nya saja selama ini.
"Ada kami, kamu tak perlu takut dan merasa sendiri," jawab Aisyah yang ikut melow, ia seolah lupa jika gadis yang kini ia peluk sempet mencubit suaminya hingga ia geram dan merajuk hingga kini.
__ADS_1
"Tapi tetap tak bisa menggantikan Mama dan Ayah, Mbak. Kalian tetap asing."
Deg..
Benarkah?
Apa itu juga yang dirasakan oleh Sagara?
Sedalam itu memang luka di tinggal seorang Ibu sampai memang tak ada yang bisa menggantinya termasuk dengan hadirnya istri atau suami, rasanya akan tetap berbeda. Ibu adalah benar benar arah pulang yang sesungguhnya.
"Hem, kamu benar. Tapi kami akan sebisa mungkin ada untukmu. Bapak juga tak punya siap-siap lagi jika bukan kamu dan Ayahmu 'kan."
Anti mengangguk masih dalam dekapan Aisyah, berbeda dengan istri Mas Fatih ia memang lebih berani pada Aisyah karna mungkin benar-benar saudaranya.
.
.
__ADS_1
Aku rindu semua tentang Mama, Mbak. Jika di kaki nya saja terdapat surga lantas bagaimana dengan doanya? dan aku, aku tak bisa merasakan itu lagi sekarang.