
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Aisyah yang berusaha tak lagi memikirkan Intan terus memfokuskan dirinya pada Sang suami. Sagara yang tak lagi merajuk karna cemburu kini sudah kembali ke setelan awal yaitu manja yang gemasnya kadang menyebalkan.
Seperti saat ini, ia tak mau bangun dari atas pangkuan Aisyah setelah makan siang, perdebatan di antara sepasang suami istri itu berhasil membuat keduanya tak menikmati sarapan pagi.
"Kita jadi pulang besok sore?" tanya Aisyah.
"Hem, malam juga gak apa-apa," jawab Sagara yang masih usel usel tak jelas di perut bawah istrinya.
"Kalau pulang malam, nanti sampai rumah lewat tengah malam kamunya pasti capek buat paginya berangkat ke sekolah." Jangankan di perjalanan, usai pelepasan saja Aisyah harus sabar membangunkan Si anak SMA itu.
"Nanti izin gak usah sekolah."
"Hey!!! berani bolos, akan ku cincang SosTel mu!" ancam Aisyah seolah balas dengan pada suaminya.
Mendengar itu, Sagara tertawa tapi ia masih enggan untuk bangun. Dunia Sagara kini hanya berpusat pada Aisyah, dan itu terbukti dengan tak acuhnya ia pada yang lain termasuk pada ponselnya sendiri. Mommy dan Papa Zico sampai menelepon Aisyah demi bisa bicara dengan Segara.
"Iyaaaaa, Bu Guru!, tapi ngomong-ngomong kamu mau kerja lagi?" tanya Sagara, entah kenapa pikiran itu terlintas di otaknya sekarang.
"Ngajar?" tanya balik Aisyah yang di jawab anggukan kepala.
"Entah, kalau kamu izinkan aku mau."
"Ngajarin aku aja sambil kita bikin anak, abis itu kamu ajarin anak kita kalau kamu hamil," kekeh Sagara yang kini menciumi sekilas perut rata Aisyah yang selama pemanasan ia selelu senang mendaratkan bibirnya di sana.
Sedangkan anak tak pernah ada obrolan akan hal tersebut. Mereka yang melakukannya secara mendadak pada malam itu tentu membuat Aisyah tak memakai penghalang apapun. Sagara juga yang baru pertama kali langsung mengeluarkan lahar cintanya di tempat yang semestinya.
"Kamu mau punya anak?"
"Kenapa? kamu gak percaya kalau aku bisa ngurus kalian?" tanya balik Sagara.
"Bukan, begitu Saga."
"Lalu apa? apa karna aku masih sekolah? kan sebentar lagi lulus, malu ya punya suami kaya aku?" Sagara sampai bangun dari baringnya karna ingin bicara serius dengan Sang istri.
"Kok kamu punya pikiran kaya gitu sih? enggak lah, kenapa aku harus malu? justru aku bangga karna pria semuda kamu bisa nafkahin aku dari hasil uangmu sendiri," jelas Aisyah.
Sebagai istri tentu ia tahu dari mana nafkahnya berasal. Sagara sudah menjelaskan sumber kekayaannya yang tak sedikit itu. Sagara yang punya beberapa kartu ajaib kini salah satunya di pegang oleh Aisyah dan itu adalah bentuk nafkah untuk istrinya, uang yang ada dan terus mengalir ke rekening tersebut tak lain dari keuntungan saham di perusahaan Pradipta Group yang jadi haknya. Sedangkan kartu ajaib lain berisi uang jajan dari Papa Zico, Mommy Daddynya dan juga warisan dari alhamarhum Oppa Wisnu yang pastinya tak sedikit.
Hidup Aisyah dan anaknya kelak tentu akan terus berkecukupan meski Sagara masih berstatus pelajar SMA atau mahasiswa nantinya.
"Jadi gak apa apa kalau kamu hamil?" tanya Sagara yang perasaannya jauh lebih tenang.
"Gak apa apa, tujuan nikah kan selain ibadah pastinya membuat keturunan. Umurku yang segini udah harusnya juga jadi Ibu," jawab Aisyah.
Jika biasa soal usia, wanita itu memang terbilang sudah cukup matang menyandang status istri dan Ibu. Ia yang penyabar, dewasa dan penuh perhatian pastilah akan memberi rasa nyaman untuk anak anaknya kelak seperti pada Sagara yang selalu ia manja dengan segala sentuhan lembut tangannya.
.
__ADS_1
.
.
Dua hari di rumah Ibu dan Bapak, kini saatnya pasangan itu berpamitan. Mereka tak tahu sama sekali jika anak dan mantunya sempat berselisih paham meski hanya dalam hitungan jam. Aisyah memang sengaja tak menceritakan apa pun pada orangtuanya selagi ia bisa mengatasi permasalahannya sendiri. Aib suami akan ia tutup serapat mungkin karena sesungguhnya itu adalah tugasnya sebagai seorang istri, ia bukan hanya berperan menjadi pasangan saja tapi juga baju untuk pria tersebut.
"Kalian hati hati ya, jika ada waktu senggang pulanglah lagi kemari," pesan Ibu setelah mengurai pelukannya dari Si bungsu. Rumah akan kembali terasa sepi karena kedua anaknya sedang menjalankan tugas masing-masing.
"Iya, Bu. Kalau ada waktu Aish kemari lagi. Kalian jaga kesehatan ya, Ibu juga jangan banyak melamun," pesan balik Aisyah.
Dari segala yang ia khawatirkan tentu Ibu lah yang paling ia pikirkan. Aisyah selalu mengatakan jika Ibu harus punya kegiatan lain selain pengajian rutinnya yang seminggu dua kali agar ia tak merasa kesepian di rumah seorang diri.
"Tentu, Ibu akan sesekali ikut Bapak ke Pondok, Nak."
Setelah mencium takzim punggung tangan Ibu dan Bapak secara bergantian keduanya benar-benar bergegas kearah mobil mewah milik Sagara usai mengucap Salam. Aisyah tetap memaksa untuk mereka pulang pada sore hari agar Sagara juga tak terlalu lelah. Istirahat cukup setelah perjalanan jauh suatu kewajiban untuk pria tampan berjaket coklat tersebut yang paginya harus beraktifitas seperti biasa lagi.
Kendaraan mewah beroda empat itu masih berjalan dengan kecepatan sedang karna masih di area jalan raya kota. Dengan di selingi obrolan biasa kini mereka hampir melewati Rumah Sakit tempat Intan masih di rawat hingga sekarang, Aisyah masih ingat betul saat Haris mengatakan nama bangunan tersebut yang berharap ia datangi kemarin.
"Ngelamun? mikirin apa?" tanya Sagara yang menoleh sesaat.
"Gak ada kok."
"Mau mampir? aku tahu kamu masih mikirin anak itu kan?" tawar Sagara dan itu berhasil membuat Aisyah menoleh dengan cepat saking tak percayanya dengan yang di ucapkan Sang suami.
"Boleh?" tanya Aisyah memastikan.
"Sekalian lewat, tapi sebentar aja. Aku kasih kamu kesempatan untuk jelasin pada anak itu biar dia gak berharap banyak padamu. Jangan sampai pernikahan kita jadi beban untuk orang lain. Aku gak liat kamu ada dirasa bersalah karna gak bisa kasih pengertian."
"Hem, iya." sahut pria itu sembari membelokan setir mobilnya kearea parkiran rumah sakit berlantai 4.
Setelah kendaraan yang mereka tumpangi sudah berhenti, keduanya turun dan langsung masuk kedalam bangunan tersebut. Aisyah yang melangkah dengan pasti tak perlu bertanya lagi sebab ia masih ingat semua yang di beritahu Haris padanya.
"Ini ruangannya?" tanya Sagara saat ia merasa seolah semua di luar kepala Aisyah.
"Iya, aku hapal rumah sakit ini karna bebrapa kali datang menjenguk," jelas Aisyah yang seperti tahu apa yang di pikirkan suaminya.
Suatu keberuntungan bagi mereka yang datang bertepatan di jam besuk, jadi tak ada drama apapun saat pertama kali datang hingga kini sudah ada di depan kamar rawat inap Intan.
Cek lek
"Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," sahut Haris dan seorang Suster wanita yang kebetulan sedang mengganti infusan baru untuk Intan.
"Ibuuuuu, Ibu Aish," teriak Si anak cantik dengan senyum khasnya yang lebar hingga deretan gigi kecilnya terlihat hampir semua.
"Sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Aisyah yang langsung duduk di tepi ranjang pasien setelah Haris menggeser posisinya sedikit lebih jauh agar ada jarak diantara mereka.
"Ibu dari mana? Intan kangen," ujarnya yang langsung berderai air mata. Inilah yang di takutkan oleh Aisyah, ia tak ingin sama sekali melihat anak itu menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Maaf ya, Ibu gak pamit sama Intan."
"Ibu kenapa pergi? gak sama Intan lagi di sekolah? Ibu juga gak mau jadi Ibu Intan," ucapnya di sela isak tangis, siapa pun yang mendengar pasti akan sedih termasuk Sagara.
Jadilah pria itu keluar dari ruang rawat inap saking tak sanggup nya melihat kesedihan Intan, hidup tanpa sosok Ibu itu memang sangat berat seolah sendiri padahal ada di tempat yang ramai.
"Intan, bukannya selama ini Ibu adalah ibunya Intan? apa Intan lupa kalau Ibu Aish, Ibu Nissa dan Ibu Atika semuanya Ibu Intan?" Ia pun langsung mengingat kan jika seorang guru adalah orang tua kedua bagi semua muridnya, maka itu Aisyah juga menyembutkan nama guru lainnya pada Intan.
"Bukan Ibu itu, Intan mau Ibu Aish jadi Ibu juga di rumah. Ibu menikah sama Ayah."
"Maaf, untuk hal itu tak bisa ya, Sayang. Ibu sudah menikah dengan Om Sagara," jelas Aisyah, ia harus berkata jujur pada anak itu agar bisa menerima semua yang tak sesuai harapan anak itu.
"Intan maunya Ibu sama Ayah."
Intan yang terus merengek mencoba di tenangkan, Aisyah sama sekali tak melepas pelukannya meski anak itu meronta kasar karna kecewa.
Dan sikap sabar Aisyah lagi dan lagi mengalahkan amukan Intan yang akhirnya lelah sendiri, percuma di rayu dengan segala cara kalau anak itu masih saja marah. Jadi yang harus di lakukan cukup diam sambil mendengar apa yang di keluhkan Intan dalam pelukan.
"Tak semua harus kamu punya sesuai inginmu, Nak. Percaya pada Ibu ya, nanti Intan akan dapat Ibu juga yang jauh lebih sayang pada Intan juga Ayah," ucap Aisyah yang sudah berkali-kali mencium kening anak itu.
"Tapi maunya--maunya Ibu Aish aja."
"Kan Ibu udah ada Om Sagara," jawab Aisyah masih sabar karna ini adalah makanan sehari-hari baginya selama ia mengajar anak-anak, ada saja yang di lakukan para malaikat kecil saat sedang di sekolah.
"Omnya buang aja, Buuuu."
Uhuk.. uhuk...
Sagara yang menunggu di kursi besi depan ruang rawat inap tiba-tiba tersedak, dan di keadaan tak sadar itu ia menerima minuman air mineral yang di sodorkan padanya.
"Terimakasih," ucap Sagara yang setelah menerima ia langsung membuka dan meminumnya.
"Terimakasih juga sudah mengizinkan Aisyah untuk datang menjenguk Intan."
"Sekalian lewat," jawab Sagara dengan ketusnya.
"Kalian mau pulang?" tanya Haris yang hanya di jawab anggukan kepala.
Malas rasanya jika Sagara harus meladeni pria berkacamata itu jika tak butuh air minumnya. Cukup lumayan lama juga ia menunggu tapi hasilnya Sang istri tak kunjung keluar, malah Sagara mendengar anak itu terus menangis yang sepertinya sembari mengamuk juga.
"Sepertinya aku percaya jika Aisyah sudah benar-benar menikah. Aku tak akan berharap lagi padanya," tutur Haris yang sepertinya akan belajar ikhlas.
"Baguslah, lagian emang kurang kerjaan banget ya nungguin istri orang?!"
"Bukan, begitu maksudku. Kamu harus paham posisiku yang mana mungkin percaya jika Aisyah sudah menikah sedangkan aku tak mendengar ia dekat dengan pria mana pun."
.
.
__ADS_1
.
Lo tau kalimat KUN FAYAKUN? itulah yang terjadi antara gue dan Aisyah...