Sagara

Sagara
Part 77


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Pagi harinya, Sagara yang tertidur di depan pintu terbangun saat kepala pelayan datang.


Ia yang merasa tubuhnya sakit semua berusaha bangun meski rasanya itu sangat sangat sulit.


"Tuan," ucap lirih kepala pelayan yang bingung.


"Aisyah belum keluar?" tanya Sagara.


"Belum, Tuan. Sarapan sudah siap dari tiga puluh menit yang lalu."


"Hem, iya."


Sagara bangun setelah ia merasa jauh lebih baik meski kepalanya masih sangat berat ia rasakan. Ia bangun dan berdiri pun dibantu sampai tubuhnya bisa seimbang.


"Aish, kita sarapan dulu ya, kamu sudah bangun belum, Sayang?" tanya Sagara di depan pintu sambil mengetuknya pelan. Namun lima menit menunggu tak juga ada jawaban sama sekali dari wanita yang masih merajuk padanya itu.


"Ya sudah, aku ke kamar dulu, aku mau mandi dan setelahnya akan pergi ke rumah Marcel, aku akan cari tahu siapa yang sudah berani mengusik ketenangan rumah tangga kita," ucap Sagara yang sekalian pamit karna ia sudah tak sabar ingin menyeret orang tersebut ke hadapan Aisyah.


"Kamu jangan lupa sarapan ya, aku tak mau kamu sakit, aku mencintaimu, Aisyah."


Sagara tersenyum sambil berurai air mata, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya jadi Aisyah sekarang.


Dan Sagara sudah bertekad akan dengan cepat menyelesaikan semuanya. Ia begitu rindu dengan Aisyahnya sekarang. Jangan sampai ada kata perpisahan diantara mereka yang baru saja mereguk manisnya madu cinta dalam bahtera rumah tangga.


"Tolong siapkan sarapan untuknya, Istriku tak akan mau keluar jadi bawakan saja kemari," titah Sagara sebelum kembali ke kamarnya.


Bukan tak cinta, hanya saja kadang seseorang memang butuh waktu untuk sendiri dan Sagara paham hal tersebut. Sembari menunggu Aisyah pulih dari rasa sakitnya ia juga tak akan tinggal diam, Sagara akan pergi untuk membereskan badai pernikahannya ini.


Di dalam kamar, Sagara langsung mandi dan ia tak ingin melihat tubuhnya sendiri. Pantas Aisyah kini begitu jijik karna ia Sendiri saja merasakan hal yang sama. Sagara sengaja membiarkan itu untuk hari ini sebagai bukti jika ia sudah di lecehkan oleh seseorang.


"Masa ia Marcel?" gumam Sagara yang kemudian menggelengkan kepala dengan cepat.


"No! dia normal dan gue tahu itu!" sambungnya lagi yang kemudian membuang napas kasar.


"Tata kah orangnya?"


Sagara yang mengingat ingat terus saja memutar otaknya mencari tahu siapa yang harus ia habisi sekarang karna sudah berhasil menyakiti istrinya.


Tak ingin berlama lama akhirnya Sagara dengan cepat merapihkan dirinya, ia sengaja memakai kemeja agar mudah memperlihatkan pada Marcel nanti. Hanya satu temannya itu yang pertama harus memberinya penjelasan sembari ia mengambil mobilnya yang dibawa pemuda itu.


Keluar dari kamar pribadinya, Sagara kembali ke kamar tempat Aisyah bersembunyi untuk pamit. Meski tak ada jawaban tapi setidaknya ia sudah izin mau kemana dan bertemu siapa agar salah paham tak lagi mengusai pikiran Aisyah yang pastinya juga masih kacau.


"Berikan ponsel ini padanya, boleh keluar kamar tapi awas saja kalau sampai kabur keluar rumah, kepala kalian yang jadi taruhan," ancam Sagara. Ia meminta dua orang penjaga menjaga Aisyah di depan pintu kamar karna takut wanita itu kabur. Sedangkan ponselnya di kembalikan agar Sagara mudah menghubunginya sebab benda pipih itu tak di bawa oleh Aisyah semalam.


.


.


.


Sagara pergi dengan di antar oleh supir pribadi karna memang mobilnya ada di rumah Marcel, Karna tak ingin repot terlebih kepalanya juga sedang berdenyut hebat kali ini, perut yang lapar saja kalah dengan rasa penasaran karena ia ingin cepat cepat bertemu dengan temannya itu.


Marcel tinggal sendiri di sebuah kos kosan mewah tak jauh dari ibu kota. Jika Sagara patah hati karna di tinggal Sang Mama lain halnya dengan Marcel yang harus menelan pil pahit jika ia adalah anak dari istri kedua papanya yang memang seorang pengusaha. Jadilah ia kini memilih tinggal sendiri agar kehidupannya jauh lebih tenang meski nyatanya justru semakin bebas dan lepas tanpa perhatian dari orang tua. Padahal, Sagara sudah sering mengingat kan untuk ia pulang karena bagaimana pun Marcel jauh lebih baik darinya yang masih punya orangtua lengkap.


Kuran lebih empat puluh lima menit, Sagara sampai di tempat tinggal temannya. Ia meminta supirnya itu pulang karena sudah melihat mobil dan motor besar Marcel ada di Parkir kost'an dan itu pertanda jika memang Pemuda tersebut ada di kamarnya.


Sagara masuk seperti bisa, ia laporan lebih dulu pada satpam yang ada di post depan, meski hanya deretan kamar kamar kecil tapi keamanan dan kebersihannya bisa di acungi jempol sebab yang tinggal di sana adalah mahasiswa dan pekerja kantoran.


Sagara naik ke lantai dua dengan tangga biasa karna bangunan itu memang ada tiga lantai dan masing-masing lantai berbeda ukurannya, langkah kaki Sagara begitu cepat hingga ia sempai di kamar nomor tujuh.


Ia yang mengetuk pintu sebanyak lima kali akhirnya terbuka juga. Marcel menyembulkan kepalanya dan kaget saat ia melihat Sagara yang datang sepagi ini.


"Udah sadar lo?" tanya Marcel sambil membuka pintu lebih lebar agar Sagara bisa masuk ke dalam.


"Udah, ada urusan penting banget gua sama lo," ucap Sagara serius sambil membuka satu persatu kancing kemejanya


"Heh, mau apa lo?" tanya Marcel panik, ia yang hanya memakai boxer tipis dan pendek langsung menyembunyikan inti tubuhnya dengan tangannta sendiri.


"Jangan gila! gue gak napsu sama lo! gue datang kesini mau nanya sama lo, ini bikinan siapa?" tanya Sagara dengan nada tinggi. Marcel yang habis mabuk serta bangun tidur harus jauh lebih dekat jika ingin melihat dengan serius.


"Gile! bikinan siapa ini gede gede amat? belom bisa tuh pasti, kurang profesional masih amatiran," ledek Marcel yang langsung di lempar bantal oleh Sagara


"Gue serius! ini bikinan siapa?" tanya ulang Sagara.


"Lah, mana gue tahu. Lo yang di cumbu kenapa nanya sama gue?!" oceh Marcel yang tak tahu apa apa.


"Ok, sekarang bilang sama gue, semalem gimana pertama kali lo temuin gue, ayo cerita cepetan!" pinta Sagara, jauh lebih cepat bukankah lebih bagus agar ia cepat bisa pulang juga.

__ADS_1


"Jadi gini, semalam, pas gua lagi ciuman sama cewe baru gue tiba tiba ada Waiters datang nemuin gue dan dia bilang kalau ada temen gue yang lagi mabuk di dalam mobil warna putih tempatnya di parkiran Club dari situ gua bingung temen gua siapa? karna penasaran dan khawatir, akhirnya gua keluar dari Club buat langsung ke parkiran dan di situ cuma ada satu mobil warna putih dan itu gua tahu banget kalo itu mobil milik lo, gua samperin dan benar lo udah nggak sadarin diri dan akhirnya gue bawa lo pulang. Udah gue cuman tahu sampai situ aja," jelas Marcel


"Terus yang kasih tahu waiters buat bilang kalau itu siapa?" tanya Sagara semakin penasaran Karna ini sepertinya benar-benar di sengaja seolah Sagara di jebak dalam mobilnya sendiri.


"Lah, mana gue tahu!"


"Sekarang gue yang tanya, itu gimana ceritanya lo bisa Pingsan dalam mobil? kata Waiters lo mabok tapi gue gak cium alkohol sama sekali," tanya Marcel yang ikut penasaran, sebagai tukang mabok tentu ia tahu dan bisa membedakan maka itu ia bilang jika Sagara justru pingsan.


"Yang gue ingat, gue mau pulang tapi Tata datang minta gue anterin dia pulang juga. Gue yang mau pesenin taksi online tapi di nolak. Akhirnya gue ngobrol sambil bukain minuman buat dia," jelas Sagara menurut yang ia ingat.


Lagi lagi dua pria itu tak curiga sebab membuka tutup botol adalah hal biasa bagi mereka berempat karna Tata satu-satunya wanita di geng motor BlackDiamond. Wajar jika ia manja dan di manjakan oleh Sagara, Marcel dan Bian.


"Tapi habis itu Tata kemana?" tanya Marcel.


Sagara menggelengkan kepala, ia tak tahu dan tak ingat semenjak keluar dari Club.


"Gue juga gak liat dia, sebelum gue anterin lo pulang," ujar Marcel dengan membuang napas kasar, apa yang ia takutkan semoga saja tak terjadi dan bukan itu yang terjadi.


"Coba lo telepon, " Titah Sagara.


Marcel pun mengangguk ia bangun dari duduknya lalu meraih benda pipih miliknya itu di atas nakas samping ranjang, Marcel langsung membuka aplikasi panggilan telepon lalu mencari kontak milik Tata, sahabatnya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi tapi nihil hasilnya Gadis itu tak mengangkat sama sekali. Entah sengaja ataupun tidak Sagara dan Marcel kini hanya bisa saling menatap mencari tahu alasan dengan sikap Tata yang aneh tersebut tak seperti biasanya.


"Tata kemana? apa iya dia belum bangun?" tanya Marcel bergumam pelan.


"Kayanya disuni yang harus di cari tahu itu Waiters semalam, gue penasaran Karna yang dia tahu lo temen gue dan itu pasti dia nunjuk ke arah lo," ucap Sagara yang seolah makin gemas dengan masalah ini.


"Iya sih, siapa ya?" timpal Marcel yang juga penasaran.


"Mau anter gue kesana? kan lo yang tahu Waitersnya yang mana," pinta Sagara.


"Ya malem lah, pagi begini tutup mereka, Si waiters juga pasti masih tidur," jawab Marcel.


Sagara pun kembali membuang napas kasar, ia bingung karena tak ingin terus berlarut lebih lama sedangkan benar yang dikatakan oleh Marcel jika ia bisa menemui Si Waiters nanti malam. Lama lagi rasanya ia bisa berbaikan dengan Aisyah padahal rasanya sudah tak betah seperti ini.


"Lagian lo kenapa sih? kan cuma kissmark doang, kenapa di bikin panjang? lo mau tuh orang tanggung jawab buat balikin keperaaAawanan dada sama leher lo?" ledek Marcel yang kali ini ia tertawa karna sepolos itu temannya hingga tak rela jika ada yang menyentuhnya tanpa izin dan bukan waktu nya bak anak perawan.


"Bukan gitu, Cel," ujar Sagara yang bingung sendiri.


"Gitu gimana? ikhlasin aja, dua hari juga ilang kok," kekeh Marcel yang semakin senang menggoda teman yang di Anggap nya masih perjaka tersebut.


"Istri gue ngambek, dia marah dan ngurung diri di kamar gak mau ketemu sama gue."


Wajar rasanya jika Marcel sampai membulatkan kedua matanya saat mendengar pengakuan Sagara yang menyebut jika istrinya sedang marah sampai mengurung diri di kamar hingga tak ingin bertemu, siapapun tak ada yang akan menyangka Jika seorang Sagara Devano Pradipta ternyata sudah menikah entah itu kapan tepatnya, ia saja yang menjadi sahabatnya kali ini kaget karena tak tahu sama sekali perihal tersebut.


"Lo yakin? kapan nikahnya? kenapa, apa karna--,?" tanya Marcel meskipun apa yang ada di pikirannya itu tak mungkin tapi Bukankah apapun bisa terjadi termasuk pada Sagara


"Enak aja lo, gue nggak seburuk yang lo pikirkan sekarang ya!" potong Sagara yang tahu isi otak temannya tersebut.


"Ya terus kenapa? jangan bikin gua penasaran!" balas Marcel.


"Gua udah nikah beberapa bulan yang lalu secara mendadak, cuma keluarga aja yang tahu hal ini. Sorry gua sembunyiin ini semua dari kalian, gua gak ada maksud buat bohong. Tapi gua rasa ada saatnya suatu saat nanti gua akan jujur sama kalian," ujar Sagara yang kali ini mau tak mau akhirnya mengakui.


"Sumpah, ini kejutan banget buat gue Bian dan Tata juga pasti kaget banget kalau tahu lo udah married, Ga!" dalam hal ini perasaan gadis itu yang sangat Marcel khawatirkan sebab ia tahu Jika Tata punya rasa lain pada Sagara.


"Sorry gue bener-bener minta maaf, tapi Sumpah gua gak bohong gua udah nikah sama seorang perempuan dan kejadian ini bikin dia marah besar sama gue. Gue harus jelasin ke dia bsiapa yang udah lakuin ini atau mungkin jebak gue sampai bikin Kissmark di dada dan juga leher gue, biar gue bisa yakinin istri gue kalau gua nggak seburuk itu gua masih jadi suami yang setia buat dia," jelas Sagara dengan nada Frustasi.


"Ya gua paham posisi lo, oke nanti gua akan bantu lo dan kita cari tahu siapa orang yang udah bikin ulah kaya gini," jawab Marcel yang masih menepis tebakannya.


"Thanks ya, Cel, sekali lagi gua minta maaf," tutur Sagara.


"Gak apa-apa, mungkin dengan cara ini lo jadi jujur sama kita meskipun harusnya dari awal sih lo jujur. Kita temenan itu bukan satu atau dua bulan tapi udah tiga tahun dari awal SMA sampai kita lulus SMA, emang lo nggak percaya sama kita? padahal setiap ada rahasia semua aman, dan gak ada satu orang luar pun yang tahu." Marcel mencoba mengingat kan dibalik rasa kecewanya tersebut.


Sagara hanya bisa diam, memang benar yang dikatakan Marcel seharusnya ia cerita dari awal tapi entah kenapa niat itu tak pernah ada dalam hatinya ia selalu menunda-nunda kejujuran tersebut sampai hal yang tadi diinginkan ini pun terjadi


Sagara dan Aisyah masih menjalani ikatan pernikahan di bawah tangan. Baru beberapa bulan ke depan saat semua urusan kelulusan Sagara selesai barulah ia akan meresmikan pernikahan nya tersebut untuk dicatat di Kantor urusan Agama agar pernikahan mereka sah secara agama dan juga hukum negara di sanalah nanti Sagara baru ingin mempublikasikan hubungannya dengan Aisyah di depan orang banyak termasuk ketiga temannya yaitu Marcel Tata dan Bian tapi rencana tinggal rencana semua tak sesuai apa yang ia inginkan hingga masalah ini terjadi dan akhirnya terbongkar tak sesuai dengan apa yang sudah diniatkannya sejak awal.


.


.


.


.


Sagara kini pulang dengan tangan kosong tapi ia senang karna perasaannya cukup lega. Sebab menyembunyikan sesuatu dari orang orang yang kita sayangi itu adalah hak yang berat dan Sagara cukup kali ini saja merasakannya.


Ia yang sudah janjian dengan Marcel akan bertemu lagi nanti malam di Club, berharap temannya itu masih ingat dengan wajah Si waiters yang memberitahunya tersebut karna saat kejadian Marcel juga dalam keadaan setengah mabuk. Tapi Sagara yakin, jika ia masih berjodoh dengan Aisyah tentu akan banyak cara untuk mereka terus bersama entah apapun itu caranya nanti.


Sagara pulang saat makan siang, perutnya yang belum terisi apapun sejak pagi mulai melayangkan protes berjamaah. Ia yang mau naik ke lantai atas kamarnya seolah tak bertenaga sedangkan untuk makan ia tak bernafsu sama sekali, bayangan Aisyah yang semalam tak sadarkan diri di bawah guyuran air shower sangat menghujam jantungnya hingga ia bersumpah demi Tuhan tak akan membuat Aisyah nya seperti itu lagi untuk kedua kalinya. Cukup masalah ini adalah yang pertama dan terakhir meski rasanya tak mungkin sebab dua kepala di satu rumah, satu kamar, satu ranjang dan satu selimut yang sama selalu saja bertemu dengan yang namanya masalah entah itu berbentuk kerikil kecil atau hujan badai yang sedang di alami mereka saat ini.

__ADS_1


"Tuan, apa Tuan baik baik saja?" tanya salah satu pelayan saat ia melihat Sagara duduk di tengah tangga dengan keadaan lemas.


"Tidak, aku bisa sendiri." jangankan wanita lain, orang rumah saja tak ada yang bisa sembarangan menyentuh dirinya, seharusnya Aisyah paham hal tersebut. Tapi sulit memang jika hati sudah di kuasai api cemburu.


Bukankah sudah ada ceritanya jika seorang wanita bisa selama puluhan tahun menyembunyikan rasa cintanya dengan sangat rapih tapi ia tak bisa satu menit pun menutupi rasa cemburu nya dan itu bukan sekedar kisah melainkan benar-benar nyata dalam kehidupan sehari-hari.


"Istriku sudah makan? apa dia keluar dari kamar?" tanya Sagara, pikirannnya sungguh kini bercabang kemana mana.


"Sarapan dan makan siang sudah diantar, Tuan. Tapi nona hanya keluar sekali yang sepertinya hanya mengambil baju salin saja," jelas Si pelayan yang jawabannya kurang memuaskan sebab ia tak tahu makanan yang diantar di habiskan atau tidak oleh istrinya.


"Ya sudah, pergilah," titah Sagara yang kepalanya kian sakit.


Tapi, beruntung Papanya datang tepat waktu, Zico langsung membawa Sang putra kedalam kamar yang semalam menjadi saksi hebat pertengkaran Sagara dan Aisyah.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Papa Zico setelah membaringkan Sagara ketengah ranjang.


"Papah--, pah--, Saga," panggilnya lirih dengan kedua mata berkaca kaca.


Ceklek


Suara kamar pintu yang terbuka membuat Ayah dan anak itu menoleh dengan cepat, Papa Zico yang tadinya ingin melayangkan pertanyaan pun urung ia lakukan saat Aisyah masuk dengan langkah tergesa-gesa.


"Dari mana?" tanya Papa Zico pada menantunya.


"Hem, Maaf, Pah. Aish habi beresin kamar lain," jawab wanita itu sambil menunduk takut jika Papa mertuanya akan Curiga.


"Sagara sakit? coba tolong urus suamimu ini, panggilkan Dokter jika perlu," titah Tuan Pradipta.


"I--iya, Pah."


Papa Zico langsung bangun dari duduknya di tepi Ranjang, ia berlalu keluar dari kamar Sang putra untuk membiarkan Aisyah mengurusnya lebih dulu.


Pertama-tama Aisyah kembali menutup pintu kamar agar leluasa saat mengurus Sagara. Ia pun membuka cadarnya yang lalu ia letakan di atas meja rias, belum ada satu patah kata pun keluar dari mulut wanita itu. Sedangkan Sagara tak lepas menatap Aisyah dengan tatapan penuh damba dan kerinduan. Bagaimanapun cint pria itu luas dan tak main-main, hatinya penuh dengan satu nama yaitu Aisyah Nura, da permasalahan ini membuat hatinya patah sepatah-patahnya.


"Aku merindukanmu," ucap lirik Sagara ia bingung harus berkata apa sedangkan ia takut Aisyah bosan dengan perkataan maaf nya yang sudah dari semalam ia lontarkan entah berapa banyak nya.


"Apa kamu belum makan? biar nanti kusiapkan," tanya Aisyah yang seperti tak menghiraukan ucapan dari suaminya barusan.


"Apa Kamu pikir aku bisa makan saat melihatmu seperti ini? aku tak bisa di diami olehmu seperti ini," jelaa Sagara.


"Akan kusiapkan makanan untukmu habis ini minum obat," ujarnya lagi.


Aisyah keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk mengambil makanan yang akan ia siapkan untuk Sagara, ia tak bisa terus marah saat Papa mertuanya justru datang di saat dia bermasalah dengan sang suami, apapun itu jika masih bisa ia hadapi sendiri Aisyah akan menghadapinya sendiri tanpa bicara apapun entah itu pada orang tua nya maupun Ayah mertua nya terbukti hingga saat ini belum ada yang tahu tentang apa yang sedang menimpa rumah tangga nya khusus nya kejadian semalam.


Ceklek


Pintu dibuka dengan tangan kanan karena tangan kiri Aisyah kini sedang memegang nampan berisi satu piring nasi putih beserta sayur dan lauknya juga ada air putih hangat di sana untuk minum obat.


"Aku ingin Maafmu, bukan ingin makan, Ais" protes Sagara.


"Tapi Bukankah untuk menjelaskan sesuatu padaku kamu harus punya tenaga? jika lemas begini apa yang akan kamu buktikan padaku, Saga? "teges Aish penuh dengan penekanan.


"Oke, tapi aku mohon Maafkan aku dulu. Aku tak bisa berlama-lama seperti ini denganmu, " Sagara kembali melontarkan kata maaf untuk Aisyah.


Aisyah tentu tak setega yang orang pikirkan ia duduk di tepi ranjang dengan nampan yang ia bawa tadi di atas pangkuannya Aisyah meminta Sagara untuk sedikit bangun dari baringnya dengan dua bantal di belakang punggung agar ia tak tersedak saat makan nanti, tiga suapan kini sudah masuk ke dalam mulut pria tersebut, tapi suapan keempat dan kelima segera menolaknya karena rasanya itu sudah lebih dari cukup.


"Minum obatnya dulu, jangan sampai kamu sakit," titah Aisyah sambil menyiapkan air minum


"Justru aku yang sudah menyakitimu Aisyah," balas Sagara


Masih dengan sikap tak Acuh nya Aisyah membuka obat yang terdiri dari dua kapsul lalu diberikannya kepada Sang suami beserta air putih yang ia bawa juga dari dapur beserta makaanan yang tak habis


Meski rasanya malas, mau tak mau Sagara pun akhirnya meminumnya karena benar yang dikatakan oleh Aisyah Jika ia juga butuh tenaga untuk menjelaskan semuanya pada wanita itu jika ia sakit atau lemah Bukankah semua akan berlarut lebih lama dan ia tak suka akan hal itu kali ini ia tak melihat senyum Aisyah saja dunianya bagai gelap apalagi harus sampai ditinggalkan wanita itu cukup satu wanita yang pergi meninggalkan Sagara jangan sampai ada lagi yang harus pergi darinya yang jelas jelas bukan karena kesalahannya


"Aku sudah menemui Marcel dan aku juga sudah bicara banyak dengannya. Nanti malam aku akan kembali ke Club itu untuk mencari tahu siapa yang sudah menjebakku di dalam mobil, aku mohon untuk kamu sabar sebentar lagi akan ku jelaskan semuanya padamu Jika aku benar-benar tak salah dalam hal ini, aku setia aku mencintaimu dan cukup kamu satu-satunya yang ada dalam hati juga hidupku, " jelas Sagara yang entah akan diterima atau tidak oleh istrinya


"Terserah padamu," sahut Aisyah yang sepertinya kepalanya akan meledak saat ini, begitu banyak yang ia pikirkan tentang baik dan buruknya semua yang terjadi dalam rumah tangganya sekarang.


Meski ada rasa percaya dalam hati Aisyah. Tapi tetap saja saat dia ingat ada beberapa tanda merah di tubuh suaminya itu rasanya begitu sakit , sakit sekali.


bayangan Segara dicumbu selalu berputar dalam otaknya. Ia juga wanita biasa yang punya rasa cemburu seteguh apapun imannya tak pernah terbesit dalam hatinya untuk berbagi suami


Sedangkan untuk sekarang belum ada bukti apapun Saga seolah masih ragu untuk menjelaskan karena saat itu ia juga tak tahu apa-apa


" Jangan begitu, Sayang, aku sedang berusaha untuk mempertahankan rumah tangga kita aku paham perasaanmu jangankan kamu aku pun sekarang jijik melihat tubuhku sendiri yang masih ada jejak merah di sana, bukan hanya kamu yang terluka aku pun sama" Satu Tetes cairan bening jatuh di ujung mata Sagara yang tak bisa menyembunyikan luka dan rasa takutnya di tinggal Aisyah.


Aisyah hanya mengangguk paham, musuh terberat seseorang Ya tentu dirinya sendiri di mana ia harus menekan egonya perasaannya kenyataannya juga air matanya.


Ia yang masih berada di ambang kepastian masih berusaha untuk ikhlas apapun akhirnya nanti. Disini ia masih ragu apakah Sang suami melakukan hal yang sama juga pada wanita itu, rasa tak sadar yang seperti apa uang di rasakan Sagara ia pun tak paham sama sekali. Sedangkan untuk menunggu hingga malam hari rasanya begit lama jika untuk sebuah pembuktian.

__ADS_1


__ADS_2