
"anjir Abas balikin bangsat,itu punya gue!!". Revan lari mengejar baskara , mengelilingi meja makan di warung babeh , ia berusaha keras supaya baskara ketangkap olehnya. karena Abas mengambil gantungan kunci milik Revan , hadiah dari fansnya.
Baskara yang capek lari-larian mengelilingi meja makan di warung babeh itupun berhenti mengalah, hal hasil Abas mendapat injakan keras di kakinya.
"Sakit anjirr!!".
"Bodo". Ucap Revan dengan segera merebut gantungan itu dari tangan Abas.
"Gantungan kunci doang anjir sampe segitunya". Lanjut baskara sambil mengambil roti yang ada di depan matanya lalu memakan dengan lahap.
"Meskipun hanya gantungan kunci, tapi gue harus menghargai pemberian orang". Jawabnya dengan kesal. "Makanya ganteng supaya banyak fans". Lanjutnya dengan mengejek.
"gini gini juga gue punya cewek gak kayak lu". Ejek baskara balik.
Sagara dan Andra hanya ketawa dengan tingkah laku kedua bocah ini yang selalu kayak tikus dan kucing .
Tida lama tawa'an itu hambar berubah jadi dingin, tatapan mata yang biasanya saga lontarkan pada keluarganya.
Iya Azka. Dia tiba tiba Dateng dan menghampiri Sagara , karena Sagara baru pertama kali melihat Azka datang ke warung babeh , pada dasarnya Azka tidak pernah ke warung belakang di dekat sekolahan.
"Gue pergi dulu". Ucap saga lalu berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan halaman itu. Azka melihat kepergiannya itu hanya tersenyum dengan sabar , Azka pengen dekat dengan saudaranya itu tapi selalu gagal dengan sikap Sagara yang tidak pernah menganggap ada keberadaan keluarganya.
"Sorry ya gara gara gue, Sagara jadi pergi". Ucapnya lalu pergi dari warung babeh. Ketiga temen Sagara itu hanya saling pandang sudah biasa menanggapi Sagara dengan keluarganya tidak pernah akur itu.
...••••••...
Di parkiran sore ini sudah kosong , kendaraan yang lain sudah pada dibawa oleh sang pemiliknya, tinggal hanya ada motor Sagara dan seorang perempuan Di depan gerbang menunggu angkutan umum. Iya dia Nara Zelienna Khansa, siswi baru yang sama sama tadi pagi dapat hukuman.
Sagara segera memakai helm dan menaiki motor sport nya dan melajukan menuju kerbang dimana Nara berdiri disana. Nara yang melihat motor yang berhenti di depannya menoleh ke orangnya yang sedang melihat dia dari balik kaca helm.
"Kenapa?". Tanya Nara bingung
Sagara berdehem kecil lalu membuka kaca helmnya.
"Lo belum pulang?". Tanyanya basa basi.
"Belum. Lagi nunggu angkutan umum".
"Okey". Jawabnya lalu turun dari motor dan berdiri di samping Nara. Nara yang melihat tingkah saga bingung dan aneh.
"Kamu ngapain turun?".
"Nemenin lo".
"Maksudnya?". tanyanya bingung
"Perempuan gak boleh sendirian". Jelasnya dengan pandangan ke sekeliling kendaraan yang lain yang lewat. Nara yang melihat tingah laku saga yang dingin , tapi ada sisi baik dari dirinya, Nara hanya tersenyum melihatnya.
5 menit setelahnya angkutan umum yang menuju rumah Nara datang dan Nara pun pamit pada saga.
"Aku duluan ya".
Sagara mengangguk mengiyakan lalu segera menaiki motornya setelah Nara masuk ke dalam mobil angkutan itu. Kedua Kendaraan itu melaju pergi dengan berlawanan arah.
...••••••...
"Kak EL!!". Nara sontak berteriak setelah ia sampai di depan rumah. kakanya seloyongan saat jalan dan darah mengalir di hidung , Nara panik dan segera memapah kakaknya itu menuju sofa.
"Kakak mau kemana sih keluyuran gini". Tanyanya khawatir , elvano hanya tersenyum lemas pada adiknya itu.
"Jangan senyum gitu, jelek." Ucapnya dengan nada bergetar seolah olah ingin menangis tapi ia tahan , karena tidak mau kakaknya lebih khawatir.
"Nangis aja gakpapa Ra". Lirihnya sambil memejamkan matanya sejenak.
__ADS_1
Nara yang tadi sedang membersihkan darah dari hidung vano itu sontak berhenti dan lolos begitu saja air dari matanya yang dari tadi ia tahan.
Isakan demi isakan yang elvano dengar dari Nara , ia tersenyum meski sakit melihatnya , tidak kuat melihat sang adik satu satunya nangis di hadapannya itu sontak menarik Nara untuk didekappannya.
Tangisan Nara semakin deras saat berada di pelukan sang kakak. Elvano tidak kuat mendengar isakan sang adik kini dia juga berhasil mengalirkan air dari matanya.
"Bisa gak sih gak usah keluyuran disaat Ara gak ada hiks". Ucap Nara dari balik pelukan elvano sambil nangis. "Ara gak mau kehilangan orang yang Ara sayang kedua kalinya". Lanjutnya lalu melepaskan pelukan dari kakaknya lalu menatap elvano dengan sendu.
Elvano mengangguk dan tersenyum lalu mengusap kepala nara dengan lembut.
"Kakak gak akan kemana mana ra, udah ya gak usah nangis". Ucapnya sambil menghapus air mata Nara , meski dirinya juga menangis.
"Udah makan?. Udah minum obatnya?". Tanyanya
"Satu satu kalo nanya Ra". Jawab elvano dengan gemas. "Barusan udah. makanya kakak jadi begini. efek obat ra, gak usah khawatir ya". Lanjutnya , yang hanya dibalas anggukan oleh Nara ,
"Jangan pergi kak, Ara gak mau kak El nyusul mama. Ara gak mau sendiri,ara takut". Nara kembali nangis lalu kembali memeluk kakaknya itu.
...••••••...
Setelah pulang sekolah, Sagara langsung pergi ke tempat warung babeh Hasan , tanpa pergi dulu kerumah. Sampai jam 9 malam dia masih stay di sana tidak melakukan apapun hanya bermain game dan tidur di meja.
Ketiga temen Sagara setia nungguin Sagara sampai bangun karena tidak mau Sagara sendirian di sana, karena pada dasarnya warung babeh Hasan sudah tutup dari jam 9 malam.
tida lama suara getaran berasal dari suara hp Sagara, yang jadi pusat perhatian ketiga temannya itu.
Mereka tidak berani membangunkan macan yang tertidur, karena Sagara kalo udah lelap tertidur dia suka bablas, kalaupun di bangunkan dia bisa ngamuk berhari hari tidak menghampiri ketiga temannya itu. Jadi tidak ada yng berani membangunkan saga karena gak mau dimusuhi, cuman gara gara membangunkan Sagara. Ketiga temannya itu sangat sayang dan peduli seperti keluarganya sendiri.
Emang ya membangunkan seseorang dalam tidur itu sangatlah sepele, tapi bagi saga tidur adalah hal yang paling nyaman saat dia gabut, dan juga stress.
"Pinjam hpnya bentar ya saga , hp lu getar terus dari tadi". Ucap baskara yang diam diam mengambil hp saga di atas tasnya. Baskara langsung mengecek hp sagara yang tidak di kunci itu, lalu melihat pesan yang tertera disana dengan 5 pesan dari Abimanyu papanya Sagara.
PP A
||Pulang nak udah malem!
||Papa khawatir sama kamu!
||Saga kalaupun kamu masih marah sama papa, maafin papa ya , apapun yang kamu mau papa akan kasih , asalkan kamu pulang ya
||Saga mau sampai kapan kamu kayak gini sama papa?
Setelah ketiga temennya sagara melihat isi chat dari papanya itu bingung harus membalasnya apa diem aja tanpa membalas, mereka juga bingung nama kontak WhatsAppnya Abimanyu di namain PP A. Sesingkat itu. mereka bertiga awalnya pernah Melihat nama Abimanyu dinamain dengan Papa seperti anak anak pada umumnya yang menamai kontak papanya. tapi kini berubah dengan nama singkat padat.
Setelah Abimanyu melihat sudah centang biru , menurutnya Sagara membacanya , kini dia otomatis menelpon kontak Sagara yang sedang aktif.
Mereka bertiga kaget , gatau kalo Abimanyu akan menelopannya secepat itu , mereka bingung harus gimana lalu baskara sebagai yang memegang hp itupun sontak meletakkan kembali ke atas tasnya sagara. Sagarapun yang mendengar suara nyaring dari dering hpnya itu terbangun dengan wajah kesal.
"Berisik banget bangsat!!". Sagara mematikan daya hpnya setelah melihat nama yang tertera di layar hpnya siapa yang menelepon. Lalu dia memasukkan ke dalam celana sekolah nya yang masih ia pake.
"Mau balik gak?". Tanyanya kepada temannya itu sambil mata menyipit sebelah karena masih ngantuk.
"Ya balik lah , ini udah jam 11". Jawab Andra sambil bangun dari duduknya.
Sagara mengangguk mengiyakan sambil masih mengumpulkan nyawanya.
"Capek banget kita duduk disini Berjam jam , hanya gara gara nungguin Lo bangun dari tidur. anjir ngeselin banget". Ucap baskara kesel mamandang Sagara yang tertutup matanya sambil duduk.
"Ngantuk banget kayaknya tuh". Ucap Revan lalu beranjak dari duduknya segera mendekati sagara. " Udah ah ayo balik udah malem banget ". Lanjutnya lalu menyeret saga dari duduknya.
"Gendong!". 1 kata dari bibir Sagara yang berhasil membuat ketiga temennya itu melotot kaget.
"Gila aja anjir Lo nyuruh kita gendong". Ucapnya baskara tidak terima apa yang di ucapkan Sagara barusan.
__ADS_1
Ya iyalah siapa yang mau coba menggendong manusia Segede saga.
"Jalan sendiri bego". Umpat Revan juga tidak terima
"Okey kita musuhhan". Sagara langsung bangun dari duduknya lalu pergi mendahului mereka bertiga.
"tolol lu saga! Lu tuh udah gede anjir!!". Umpattan Dan teriakan dari baskara , membuat Sagara berhenti dari langkahnya. Lalu berbalik melihat mereka bertiga yang sedang juga melihat Sagara dengan kesel.
"Lo bilang apa tadi?". Tanyanya kepada Abas dengan ekspresi dingin . Baskara yang takut dengan ekspresi Sagara sekarang ini dia langsung pergi duluan dari halaman warung babeh Hasan.
"Udah gak usah marah marah. balik keburu Tengah malem". Ucap andra mencairkan suasana lalu menyeret Revan dan Sagara keluar dari halaman warung babeh.
...••••••...
Plak!!
Tamparan keras berhasil mendarat di pipi Sagara yang baru saja memasuki area rumah yang sudah di suguhi tamparan dari sang ayah, yang sudah berada di balik pintu menunggu kepulangan sang anak. Otomatis Sagara meringis pelan karena tamparan itu.
"Dari mana aja kamu malem gini baru pulang?!". Tanyanya keras mengintrogasi anaknya.
Sagara tersenyum miring melihat Tingkah laku papanya yang berubah rubah , kadang baik kadang kayak macan yang belum dikasih makan.
'manis di awal pahit di akhir keren!'. Ucapnya dalam hati sambil memegang pipinya.
"Papa udah sabar ngadepin kelakuan kamu ini saga.tapi kamu malah berbanding terbalik atas perlakuan papa kekamu ".
"Berbanding terbalik apanya pah?. Papa yng suka tampar tamparan sama saga? Iyah?".
Sagara terdiam sejenak "oh iya saga lupa papakan yang menyelamatkan hidup saga . Itu kan kata papa berbanding terbalik".
"Tapi saga gak pernah tuh buat pengen tetap hidup, kalau Sagara tau dari awal , Sagara pengen milih mati dari pada harus sama papa!".
Plak!!
Tamparan yang kedua kalinya mendarat di pipinya Sagara dengan keras.
"CUKUP SAGA!!".
"Papa ngelakuin ini karena kamu!".
Sagara berdecak kesal. "Ngelakuin apa pah, papah tuh gak pernah ngelakuin apa apa, papah hanya bisa ngekang saga inilah saga itulah, saga tuh pengen bebas pah, saga pengen ngelakuin apa yang saga lakuin".
"Dan saga yang sering dapat bentakkan , tamparan dari papa. Sedangkan Azka gak pernah tuh dibentak sama papa".
"Ya karena kamu sama Azka itu berbeda!". Bentaknya dengan suara beratnya.
"Iya beda , saga dilahirkan dari manusia baik baik , sedangkan Azka dilahirkan hasil jinahan papa!". Ucapnya tidak kalah bentak. "Haram!!". Lanjutnya penuh penekanan dan keras sehingga Azka dan mamanya dapat mendengar dari balik pintu kamar masing masing.
Bugh!
kali ini yang ketiga kalinya yang saga dapat tonjokan Yeng mendarat di pipinya berhasil membuat sudut bibirnya berdarah. Sagara Terkekeh tidak percaya , baru kali ini ia dapat pukulan keras dari sang ayah.
"Keren pah. Lanjutkan". Ucapnya penuh penekanan.
...••••••...
Part selanjutnya akan segera di publish. Tunggu aja ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Mohon maaf bila ada perkataan yang kurang enak didengar, bisa di bilang gak sopan buat yang baca.
Thanks ya udah baca jangan lupa baca terus ya jangan bosen bosen.
__ADS_1
♡♡♡