Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Semua tahapan tes masuk kuliah selama beberapa waktu kemarin sudah beres di lalui oleh SyahRaa dan AgaSyah. Kini mereka sudah resmi menjadi seorang mahasiswa di Universitas yang berbeda.


Aga yang tetap ingin satu kampus dengan Rain mau tak mau di turuti meski Sagara harus merayu keponakannya itu lebih dulu dengan susah payah. Dan imbalannya adalah ia harus mau membayar semua tagihan makan, susu dan dokter hewan si para kuncing keturunan Si Ireng dan kini bertambah lagi si Madu selama 3 bulan lamanya, tentu permintaan tersebut di dukung penuh juga oleh Phiu Samudera yang ikut senang saat sepupunya tersiksa.


"Kata Bum Bum, kalau mau satu kampus dengannya itu makan cepet di abisin," titah Sagara pada sang Putra.


"Sejak kapan Aga makan gak habis?" tanyanya bingung karna seingatnya ia tak pernah melakukan itu jika bukan sakit radang tenggorokan yang membuatnya sulit menikmati makanan.


"Hem, iya sih. Cepetan! maksud PanDa itu buruan makannya," ucap Sagara yang tinggal sedikit sarapannya sedang Aga masih menumpuk.


"Dah tahu makannya lama, ambil nasi udah kaya gunung merapi aja tingginya. Gak tau diri!" sindir SyahRaa sambil mencibir.


"Biarin ih, dari pada Kakak, sok sokan makan dikit demi Diet padahal aslinya celamitan tuh pengen punya ku 'kan?" ledek Aga tak mau kalah.

__ADS_1


SyahRaa yang memang memiliki tubuh yang cepat gemuk itu harus menekan napsu makannya agar tetap ideal tinggi semampai. SyahRaa memang tak seperti ibunnya yang tertutup hingga kedua matanya saja yang terlihat namun meski begitu semua pakaian yang di kenakan Nona muda Pradipta selalu sopan. Ia tak pernah memperlihatkan bahu dan kakinya sama sekali sejak kecil hingga saat ini, meski rayuan sudah sering di lontarkan Ibun tapi hidayah itu nyatanya belum datang padanya.


.


.


.


Sampai di kampus, SyahRaa langsung menuju ke kelasnya, disana ia tak lagi merasa asing karna sudah kenal dengan beberapa tenanan nya entah itu yang baru ataupun yang memang dari SMA satu sekolah. Kampus yang ia pilih adalah satu dari sekian banyak kampus Favorit di ibu kota, jadi tak salah jika ia pasti akan bertemu dengan teman temannya lagi.


"Kirain bakal kesiangan!" gerutu SyahRaa sambil meletakkan tasnya ke kursi.


Bagaimana ia tak merasa kehilangan, karna sudah sejak dari rahim bersama hingga 17 tahun lamanya. Dan setelah lulus SMA itulah Aisyah dan Sagara memang memberi pilihan pada kedua Anaknya tersebut. Dirasa SyahRaa dan AgaSyah sudah cukup dewasa dan paham dengan apa yang ia pilih dan bisa ia pertanggung jawabkan nantinya.


"Kayanya bakal jadi puasa ngomel nih, tapi kok gak seru juga ya begini. Bingung mau ngapain kalau gak marahin Adek," gumam SyahRaa sambil tersenyum karena membayangkan justru kini Rain yang akan mengambil alih semua itu. Meski AgaSyah menyebalkan karna makannya yang lama, namun SyahRaa tetap sayang pada adiknya satu-satunya itu. Jika tak ada AgaSyah ia tak akan jadi kakak.

__ADS_1


"Maaf, apa aku mengganggu?" tanya seorang laki-laki berperawakan tinggi yang baru di lihat oleh SyahRaa.


"Hem, tidak, ada apa ya?" tanya SyahRaa yang terpesona dengan tatapan teduh orang di depannya saat ini.


"Apa ini milikmu? sepertinya terjatuh tadi dan aku menemukannya." pria itu menyodorkan satu benda yang memang milik SyahRaa yaitu sebuah gantung kunci.


"Ah, iya. Ini milikku, Terima kasih," ucap SyahRaa yang begitu senang karna benda itu adalah hadiah ulang tahunnya 3 tahun lalu.


"Sama-sama, namamu siapa?"


"Aku-- , Aku SyahRaa. Kamu?" tanya balik SyahRaa.


.


.

__ADS_1


.


Aku--, Christ...


__ADS_2