
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Suara sepeda motor yang baru masuk dan akhirnya berhenti di garasi samping rumah tak luput dari penglihatan Sagara, pria itu langsung bangun dan menghampiri Sang istri, ia buka helm yang masih di kepala Aisyah setelah mencium takzim punggung tangan Ibu.
"Sudah bangun?" tanya Aisyah, ia sedikit kaget saat melihat suaminya sedang duduk berdua dengan Anti di teras.
"Baru, tapi belum mandi," jawab Sagara sambil terkekeh, sedang Aisyah membalas dengan senyum karna merasa prianya sudah kembali seperti dulu. Seharian kemarin hatinya bagai rollercoaster yang naik turun tak karuan, senyum dan tangis di waktu bersamaan.
"Aku belikan makanan, ayo masuk," ajak Aisyah. Ia yang sedikit lelah merasa jauh lebih nyaman saat di rangkul oleh suaminya. Mungkin hal sepele
tapi efeknya cukup nyata bagi para istri.
Sejak awal menikah, Sagara dan Aisyah punya
kesepakatan bersama yaitu jika di rumah Pradipta mereka layaknya Tuan dan Nona muda yang semua di layani. Tapi, jika sudah di kampung terutama di rumah Bapak dan Ibu, mereka seperti suami istri biasa. Jadi, Sagara tak banyak menuntut untuk wanitanya itu berdiam diri saja seperti di rumahnya, ia biarkan Aisyah masih tetap menikmati perannya di sini tak hanya sebagai istri tapi juga adik dan anak perempuan dari orang tuanya yang tentu rindu sosok putri bungsu mereka itu.
__ADS_1
Karna semua orang juga pasti tahu kebersamaan bersama keluarga tak akan pernah bisa terulang indahnya karna waktu yang di miliki orang tua kian detik kian menipis.
Masuk kedalam rumah, pasangan yang baru berbaikan itu kini sudah berada di dapur. Ada ibu dan Anti juga disana yang sama sama sedang menyiapkan piring untuk mereka makan.
"Kamu beli apa?" tanya Sagara saat ia menarik kursi meja makan untuk dirinya sendiri.
"Laksa, entah kamu suka atau enggak tapi aku belum pernah lihat kamu makan ini," jawab Aisyah, sebelum dirinya sendiri tentu ia lebih dulu melayani suaminya.
"Suka, pernah makan beberapa kali buatan Amma."
"Hem, bikin pesawat aja bisa, Sayang," Sindir Sagara seolah mengingat kan jika tangan Amma itu AJAIB.
Aisyah tersenyum simpul, ia yang sudah melepas cadar nya tentu terlihat sangat jelas semerah apa kedua pipi wanita hamil itu.
Si cantik tersipu malu, konyol memang permintaannya saat itu tapi percaya atau tidak memang di otaknya hanya ada Pesawat dan Pesawat saja. Sampai terjadi satu hal yang tak terduga yaitu Aisyah benar-benar punya pesawat pribadi saat ini.
__ADS_1
"Hey, dimakan dong, kok malah senyum sambil melamun," ujar Sagara pada istrinya.
"Hayoooo, Mbak Aish mikirin apa?" ledek Anti juga yang duduk di samping Ibu dan tepat di depan Sagara.
"Enggak, enggak mikirin apapun. Ayo makan," jawab Aisyah yang masih tersipu malu.
Keempat orang di meja makan melanjutkan makan mereka dengan sedikit lahap, apalagi Sagara yang baru bangun tidur. Ia belum mencari apapun di dapur untuk mengisi perutnya.
"Enak gak? ini langganan ku sama Ibu dari dulu, tapi kurasa enakan buatan Amma," ujar Aisyah yang tahu buatan Sang Nyonya besar Rahardian memang tak ada bandingannya.
.
.
.
__ADS_1
"Sama aja, yang penting menurutku itu bukan apa yang ku makan tapi dengan siapa aku menghabiskan makan."