
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Ingin doaku sampai kepada Mamah, jika bukan aku anaknya, siapa lagi?" ucapnya sedih dan Aisyah paham akan hal itu meski nasibnya jauh lebih beruntung karna orang tuanya masih lengkap, Bapak dan Ibu serta Mas Fatih yang sehat adalah Rejeki paling berharga baginya.
"Kamu benar, Saga. Tetaplah jadi anak baik, soleh dan juga bertanggung jawab," balas Aisyah yang mencoba menenangkan Sang suami yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.
Ia tahu jika Sagara memang seorang piatu yang di tinggal mamanya tiga tahun lalu karna sebuah penyakit yang cukup lumayan parah. Rasa takut dan trauma itulah yang perlahan membuat Sagara menjadi anak yang bebas di luaran sana karna di tambah hilangnya juga perhatian dari papanya yang terlalu larut dalam kesedihan.
Rasa sepi itu di lampiaskan Sagara di jalan bersama teman dan sahabatnya. Tapi di mata keluarga ia tetap anak baik hati dan tidak Sombong meski dari mereka harus bergantian menghadap wali kelas Sagara di sekolah.
"Nanti ku kenalkan pada Mama, gimana?"
Aisyah yang bingung dengan tawaran suaminya langsung menautkan kedua alisnya, dan ekspresi itu sangat menggemaskan di mata Sagara.
"Kita ke makam Mama, aku ingin kalian bertemu meski terhalang tanah Merah," jelas Pemuda tampan tersebut.
"Oh, baiklah. Aku mau, karna ada atau tidak Mamamu tetap Mertuaku dan itu tetap SurgaMu," jawab Aisyah.
"Adududuh, Cuit banget istri Sagara padahal Maharnya cuma 2500," goda nya yang malah membuat kedua mata Aisyah bulat sempurna.
Ingin rasanya wanita itu memukuli Pemuda di depannya tersebut karena selalu saja membuat hatinya seolah menaiki Rollercoaster.
__ADS_1
.
.
Usai melaksanakan kewajiban utama berdua sebagai suami istri di hari pertama, Aisyah pun melakukan hal lain termasuk mandi secara bergantian sebelum akhirnya mereka sarapan bersama dengan Papa Zico juga.
Meski awalnya mereka berdebat tapi Aisyah menurut juga saat Sagara bersikukuh ingin tetap Sekolah meski tangannya masih terluka.
"Kamu mau ikut, ayo."
"Mau apa? jadi ibu gurumu, iya?" sahut Aisyah yang baru saja selesai mengobati tangan suaminya yang baru selesai membersihkan diri dan lagi dan lagi Sagara hanya memakai handuk sebatas pinggang saja.
"Aku istri yang tersembunyi, begitu maksudmu?"
"Hem, mungkin. Karna aku tak ingin berbagi keindahan Tuhan dengan orang lain," sahut Sagara yang menatap lekat kedua mata istrinya.
Ia senang karna sejak semalam begitu bebas dan leluasa menikmati wajah cantik Aisyah yang tak di tutupi oleh cadar seperti biasa.
"Ya sudah aku siapkan dulu perlengkapanmu," ujar Aisyah yang sadar jika hari beranjak semakin siang. Wanita itu tentu tak ingin Sagara sampai terlambat datang ke tempat ia menuntut ilmu.
Siapa sangka langkah Aisyah di ikuti oleh suaminya yang masuk juga kedalam ruang ganti karna niat hatinya akan memanggil Sagara saat ia sudah menyiapkan seragam sekolah suaminya.
__ADS_1
"Cepat pakai, aku tunggu di luar," titah Aisyah yang hanya di jawab anggukan kepala dan senyum penuh arti.
Sagara yang senang kini di perhatikan dan di urus ingat dengan orangtuanya, dan satu kenangan manis pun terbesit di benaknya yaitu kebiasaan yang sering dilakukan mama pada papanya.
"Aish, bisa bantu aku?" pinta Sagara sambil menyerahkan benda berupa kain panjang pada istrinya setelah ia selesai memakai seragam sekolah yang tinggal hitungan bulan ia tanggalkan untuk selamanya.
"Tentu, kemarilah," bukan tak canggung, hanya saja Aisyah harus menerima dan terbiasa dengan kedekatan yang bukan satu dua hari tapi sebisa mungkin sampai maut yang memisahkan.
"Kenapa senyum senyum?" tanya Sagara pada istrinya saat ia merapihkan Si kain panjang tersebut di lehernya.
"Lucu aja gitu," sahut Aisyah yang kini mulai terkekeh.
"Lucu? lucu kenapa?" tanya ulang suaminya.
.
.
.
Harusnya kan aku pakein Dasi ke setelan baju kerja suamiku, bukan justru malah seragam sekolah SMA...
__ADS_1