Sagara

Sagara
Part 25


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Untuk menghalalkannya," sahut Sagara dengan percaya diri.


Olla yang awalnya diam, lalu kaget dan berakhir dengan tawa karna tak percaya dengan jawaban Sagara membuat pemuda itu merengut kesal.


"Aku gak bercanda loh, La."


"Selesaikan dulu sekolahmu, baru berpikir untuk menghalalkannya, Saga. Lagi pula dia sedang menikamati perannya sebagai guru," jelas Olla lagi sedikit mengingat kan.


"Hem, kami juga memiliki umur yang jauh, tapi aku tak perduli. Buktiknya mama dan papa hanya maut yang memisahkan mereka," jawab Sagara, bukan tak tahu, jika kisah cinta orangtua nya pun cukup unik karna tak hanya berbeda kasta tapi juga usia.


Keduanya terus mengobrol terutama Sagara terus mengulik tentang pribadi Aisyah yang Olla tahu, tapi sepupunya malah tak banyak bercerita karna mereka memang tak terlalu dekat satu sama lain. Bertemu dan berbincang saat Olla memang sedang ada kunjungan ke Ponpes tempat Bapak mengajar santri disana.


Panggilan pun berakhir dan kini berganti dengan satu pesan yang masuk ke dalam ponsel Sagara yang masih ada ditangannya.


Senyum lebar di perlihatkan Sagara tanpa sadar saat melihat isi pesan yang di kirim Olla apalagi jika bukan nomer ponsel Aisyah.


Deretan angka yang berjumlah 12 biji itupun di simpan dengan nama yang membuat Sagara geli sendiri meski jauh di dalam lubuk hatinya ia sangat mengAamiinkan hal tersebut.


.


.

__ADS_1


Tak langsung menghubungi Aisyah, ia justru memilih untuk mandi, dan setelah itu mengambil beberapa barang yang memang sudah di niatkan untuk ia ambil lalu setelah itu pergi lagi dari rumah orangtuanya yang sepi seolah tak berpenghuni.


"Saga--," panggil Papa Zico yang berhasil menghentikan langkah putra semata wayangnya tersebut.


"Hem, kenapa?" tanya Sagara setelah ia membalikkan tubuhnya hingga keduanya kini saling berhadapan.


"Mau kemana? bukankah Papa sudah memintamu untuk tetap tinggal?"


"Aku mau kerumah utama, Gala dan Awan disana, Pah," jawab Sang putra.


"Oh, baiklah. Tapi Papa mohon pulang kemari ya," pinta ulang Pria itu.


"Iya!" singkat jelas dan padat adalah jawaban yang di berikan oleh Sang Tuan Muda.


Dengan menggunakan sepeda motor besarnya, Sagara membelah jalanan di bawah langit petang menuju malam, ia memang tak berbohong jika akan pergi ke rumah utama, rumah ketiganya setelah kediaman Pradipta.


Sampai disana, Sagara langsung menuju kamar Sang putra mahkota yang tak lain adalah Samudera ErRainerly Rahardian Wijaya.


Ceklek


"Lama!" cetus Awan yang sedang berjalan dengan sebuah minuman di tangannya.


"Yang penting dateng, Kak Tutut mana?" tanya ia saat sadar si Empunya kamar justru tak terlihat

__ADS_1


"Di ketek Gajah," sahut Gala sambil cekikikan.


Sagara yang duduk di atas karpet meletakkan ponselnya di atas meja kaca, ia yang ingat dengan Aisyah langsung mencoba menghubungi gadis itu. Tak tahu harus berkata apa yang jelas kali ini ia hanya ingin mendengar suara Aisyah meski hanya ucapan salam saja.


Sekali dua kali tiga kali panggilannya tak di respon sama sekali, dan itu membuat Sagara sedih dan kecewa hingga ia memutuskan untuk ke kamar mandi tanpa membawa Si benda pipih.


Drrtt... drrtt... drrtt.


"Suara apa tuh?" tanya Awan.


"Ponsel Saga nih," jawab Gala.


"Coba liat siapa yang telepon, takutnya Uncle Zico, Daddy Ricko atau malah Mommy Meera karna pacar kayanya gak mungkin ya," sahut Awan lagi sambil tertawa yang di iyakan oleh Gala juga.


"Omegot!" pekik Baby Koala sambil melihat kearah layar ponsel milik sepupunya.


"Ada apa? siapa yang telepon?" tanya Awan yang penasaran.


.


.


.

__ADS_1


Calon Istri....


__ADS_2