
🍂🍂🍂🍂
"Dee... sini temenin Aga. Udah dua jam di parkiran sambil sarapan," ucap pewaris Pradipta tersebut tanpa dosa.
AgaSyah menepuk pelan tempat kosong di sebelahnya, sebagai tanda ia ingin wanita yang kini ada di depannya itu duduk bersama.
"Emang Aga gak makan di rumah?" tanya Deeva yang kemudian menuruti maunya si Bayi besar.
"Sarapan, ini sisanya di bungkus sama PanDa," jawab Aga.
Awalnya Deeva bingung dengan sebutan orang tua Aga, tapi lama lama ia paham juga. Tak seperti kebanyakan anak yang cukup memanggil dengan sebutan yang umum di dengar.
"Pasti di marahin PanDa lagi, iya kan?"
"Enggak, kan ada Ibun. Cuma matanya aja besar, haha." gelak tawa Aga tentu membuat Deeva ikut tersenyum juga.
Dulu, pria itu sangat ketus saat di dekati, sering mengancam hingga tak jarang marah marah. Tapi, lihatlah kini, Aga begitu jinak saat bersama Deeva.
Seperti Ibun, Aga dapat sosok wanita sabar yang tak pernah mengeluh saat ia bertemu dengan piring, sendok dan isinya.
"Ya udah, cepet habisin, kamu ada kelas jam berapa?" tanya Deeva sambil melihat jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Tak seperti Aga yang masih terlihat semangat, Deeva justru sudah malas kuliah hari ini. Berawal dari telatnya datang ke kampus, berdebat dengan pangeran Rahardian sampai harus berlari ke area parkir hanya untuk memastikan jika bukan Aga yang di pukuli oleh ketua genk motornya.
"Lima belas menit lagi, kenapa?" tanya balik Aga yang hanya di jawab dengan gelengan kepala.
"Disana, tadi ada yang ribut, memang Aga gak tau?"
"Tau, tapi biarin aja, bukan urusan Aga. Mending makan," jawabnya santai.
Ia yang seorang mahasiswa baru tak pernah ingin terlibat dengan hal yang merugikan dirinya sendiri untuk sekarang dan dimasa mendatang.
"Baguslah," sahut Deeva yang merasa lega tapi itu semua tak akan membuat ia lengah, apalagi para pengeran Rahardian sudah memberi ultimatum keras untuknya beberapa saat lalu.
Deeva benar-benar menemani Aga sampai 15 menit berlalu, keduanya berpisah di parkiran karna Deeva memilih untuk pulang ke rumah
.
.
Di dalam kelas, Aga yang sudah duduk di kursinya tinggal menunggu dosen datang yang seharusnya kelas sudah di mulai 10 menit lalu.
"Dosen kemana ya, Ga?" tanya teman di sebelah nya yang terlihat sudah bosan menunggu.
__ADS_1
"Nanya aku?"
"Iyalah, kan di sebelah Lala adanya cuma Aga!" oceh gadis itu yang tak lain teman saat SMA dulu.
Aga hanya tersenyum dan itu membuat Lala salah tingkah, sudah lama ia menaruh rasa meski hanya sekedar suka, tapi baru di perguruan tinggi ini lalah keduanya dekat karna duduk bersebelahan dan ikut di organisasi yang sama juga.
"Ga--," panggil Lala pelan karna ia masih ragu melayang kan satu pertanyaan yang sangat pribadi. Tapi, ia tak bisa menahan rasa penasaran nya sebab di kelas dan hampir seluruh kampus sudah panas dengan kabar yang masih belum jelas kebenaran nya.
"Apa?" tanya Aga yang langsung menoleh, karna ia tahu Lala bukan orang yang pandai berbasa-basi, jadi cukup aneh baginya saat mendengar Lala hanya memanggil nya saja.
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanya aja," sahut Aga yang nampak tak keberatan.
"Hem, memang kamu dan Kak Deeva pacaran?" tanya langsung Lala sangat pelan hingga rasanya Aga ingin gadis itu mengulangnya lagi.
.
.
Aku dan Deeva itu, sebuah rasa nyaman tanpa ikatan...
__ADS_1