
🍂🍂🍂🍂🍂
Tata yang hanya ingin sedikit main main bersama Sagara meninggalkan pria itu di dalam mobilnya setelah di Pakaikan lagi bajunya. Ia senang sudah bisa memberi kenang-kenangan yang cukup Tata saja yang tahu. Tapi ada satu yang ia sesali yaitu tak bisa berciuman dengan Sagara dan untuk melakukan penyatuan tubuh tentu tak ada juga dalam rencana Tata, terbukti ia sama sekali tak membuka celana Sagara meski ia penasaran dengan jendolAan besar yang sedang meronta.
Tata takut jika ia semakin berani, resikonya pun lebih parah. Bukan hanya Sagara yang akan murka tapi juga Marcel dan Bian.
Dirasa sudah aman, Tata yang sudah keluar dari mobil Sagara kembali masuk kedalam Club, ia lalu berbisik pada salah saru waiters disana.
"Mbak, tolong bilang sama laki-laki berkaos hitam itu, kalau temennya mabok di dalam mobil warna putih di parkiran ya," ucap Tata yang setelahnya
memberi uang selembar ke telapak tangan Si waiters tersebut.
"Iya, Kak."
Dengan langkah ragu wanita pekerja di Club malam itu menghampiri laki-laki yang di tunjuk oleh Tata, yaitu Marcell yang sedang asik bercumbu dengan pacar barunya.
"Mas, permisi, maaf ganggu," ucap Si Waiters sedikit berteriak karna jika bicara biasa pasti tak terdengar.
"Iya, ada apa?" tanya Marcel yang sudah setengah mabuk. Bau mulutnya karna alkohol dan rokok mrmbuat siapa pun pasti menghindar jika tak biasa.
"Temen, Mas mabuk, sekarang ada di dalam mobil putih di parkiran."
Marcel mengernyitkan dahi, dalam keadaan seperti ini tentu otaknya akan lama berpikir dan itu terbukti dengan ia masih diam belum memberi jawaban apapun.
"Mas, temennya mabuk, bisa di liat dulu?" ulang Si Waiters yang di iyakan oleh Marcel dengan ketus.
Rasa jengkel dalam hati Marcel membuat ia bangun sambil menggerutu, tak lupa ia juga mengancam Si waiters jika ini hanya lelucon semata.
Dengan langkah sedikit sempoyongan, Marcel keluar dari Club menuju parkiran sesuai yang di berita tahu padanya barusan. Hanya ada satu mobil putih disana dan Marcel yakin itu adalah milik sahabatnya.
"Masa sih Sagara?" gumam Marcel tak percaya tapi berusaha untuk mendekat saking penasarannya.
Kini, langkah pemuda itu berhenti di kendaraan berwarna putih yang mesin mobilnya menyala. Ia yang yakin itu memang kepunyaan Sagara pun langsung membuka pintu bagian kemudi
__ADS_1
"Saga!" pekik Marcel.
Benar, pria di dalam mobil itu adalah Sagara, temannya yang beberapa bulan ini seolah asing baginya dan juga Bian serta Tata.
"Saga, lo kenapa?" tanya Marcel yang terus menggoyang tubuh Sagara.
Tak ada bau mencurigakan termasuk Alkohol jadi Marcel Yakin jika itu bukan karna mabuk seperti yang di bilang oleh Si Waiters di dalam.
"Lo kalo ngantuk nginep hotel sana, ngapain tidur disini, ganggu gue pacaran!" omel Marcel di keadaan setengah sadarnya.
Tapi, namanya teman tentu ia tetap menolong Sagara, ia antarkan pria itu pulang ke rumahnya setelah berhasil memindahkan Sagara ke kursi penumpang.
"Bau cewe sih?!" bathin Marcel.
Tak lupa ia juga terus memarahi Sagara yang belum jelas entah tidur atau pingsan.
"Makanya, Ga! udah begini temen lo yang susah tapi kenapa akhir akhir ini lo berubah, pacar gak punya tapi lo aneh, kaya ngehindar. Tapi susah tetep sahabat lo yang turun tangan!"
Dengan meminta tolong petugas keamanan, Marcel mengeluarkan Sagara dari dalam mobil.
Ia sempat berdebat saat tak di izinkan masuk padahal biasanya rumah itu bagai rumah keduanya selama ini.
Marcel yang kesal langsung pergi membawa kembali mobil Sagara, ia tak perduli karna tak mungkin juga pulang dengan berjalan kaki.
.
.
.
Jika pulang dengan keadaan babak belur atau luka luka tentu itu sudah biasa. Tapi malam ini Sang Tuan Muda pulang dengan keadaan tan sadar tapi semua nampak mulus hingga kepala pelayan bingung jika di tanya oleh Nona mudanya yang pasti sama kagetnya.
Tiga kali wanita berkacamata itu mengetuk pintu kamar, akhirnya di buka juga. Aisyah yang rapih seperti biasa tentu kaget saat melihat suaminya di bopong oleh Satpam pos depan.
__ADS_1
"Ada apa ini? suami saya kenapa?" tanya Aisyah histeris tapi tak ada satupun yang menjawab.
"Kenapa kalian diam saja, ayo jawab! suami saya kenapa?" teriak Aisyah yang kini tak kuasa menahan tangis saking sedih dan takutnya.
"Maaf, Nona kami tak tahu, Tuan Marcel pun tak tahu, ia hanya mengantar Tuan Muda Sagara yang sudah seperti ini di dalam mobil yang ada di area parkiran Club," jelas kepala pelayan sesuai yang di katakan Marcel barusan.
Tangis Aisyah semakin pecah saat ia sadar jika rasa takutnya kini menjadi nyata. Apa ini jawaban dari beratnya ia melepas Sang suami pergi?
Aisyah yang merasa kacau meminta semua untuk keluar dari kamar, ia yang merasa sesak ingin sekali melepas cadarnya yang basah oleh air mata.
"Kamu kenapa? jangan bikin aku takut, ayo bangun, Saga!"
Isakan histeris Aisyah tak membuat pria itu membuka kedua matanya. Sampai Aisyah akhir berinisiatif membuka baju Sagara.
Dengan tangan bergetar dan tubuh lemas, Aisyah berusaha membuka pakaian atas suaminya, kedua alisnya mengernyit saat ia sadar baju yang sedikit basah itu berbau lain yang jelas itu bukan parfum suaminya yang sepertinya kini sudah bercampur jadi satu.
"Ya Tuhan! bau apa ini?" Aisyah terus mengendus untuk memastikan apa yang ia cium keliru.
"Saga! kamu habis ngapain?" teriak Aisyah lagi yang dunia bagai runtuh di atas kepalanya saat ada dua tanda merah di dada dan dua lagi di leher.
"Jahat kamu! sumpah Demi apapun aku gak akan maafin kamu!"
Jika bau parfum lain masih bisa ia tolerir tapi tidak dengan apa yang ada ditubuh Sagara. Ia bukan wanita bodoh yang tak tahu itu apa, karna Sagara hampir setiap malam membuat yang sama seperti itu di tubuhnya. Dan Aisyah ingat betul saat Sagara keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk tak ada apapun di bagian dada dan lehernya karna keduanya sempat bercumbu sekilas, tapi karna Aisyah tak bisa membuat jadilah Sagara selalu aman, tak seperti dirinya yang tak pernah absen dari tanda merah bagian dada dan leher.
Aisyah yang Perasaannya kacau berjalan dengan langkah terseok menuju kamar mandi, entah penjelasan apa yang akan di dengarnya dari Sagara nanti yang jelas rasanya ia tak akan percaya apapun lagi pada pria itu.
.
.
.
Pak...Bu, jemput Aish....
__ADS_1