Sagara

Sagara
Part 38


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Byuuuuur..


Uhuk... uhuk... uhuk...


Siapapun terutama orang tua pastinya akan kaget saat mendengar anaknya yang tak jelas ada dimana lalu tiba-tiba ingin menikah, apalagi jika anak itu masih sekolah.


Ya, itulah yang kini dialami oleh Papa Zico, putra tunggalnya tak ada angin dan tak ada hujan minta di nikahkan dengan Sang pujaan hati hari ini juga sebelum Adzan Dzuhur.


"Kamu ngelindur?" omel papa Zico pastinya pada Sagara saat ia ditelepon diwaktu sarapan pagi.


"Enggak, aku mau kawin pokonya," jawab Sagara masih dengan santainya.


"Aisyah memang mau sama kamu, hah?" tanya pria paruh baya itu semakin kesal.


"Kalau udah begini, mau gak mau ya harus mau, Pah."


Mendengar jawaban Sagara, dahi Zico pun menyerit. Ia yang dulu teramat dekat dengan Sang Putra tentu punya ikatan batin juga antara Ayah dan Anak, sayangnya saja justru kini mereka sedang tersesat di sebuah ego yang tinggi.


"Kamu gak abis apa-apain anak perawan orang kan, Sagara?" selidik Papa Zico menarih curiga yang teramat pada Si tunggal.

__ADS_1


"Enak aja! aku masih perjaka ya!"


Zico pun mengelus dadanya sendiri karna lega, bisa habis dirinya jadi santapan Mommy Daddynya jika sampai Sagara mencoreng nama baik keluarga.


"Lalu kenapa? kamu masih sekolah, Nak." Zico pun mencoba memelankan bicaranya, ia ingin jadi teman bicara Sagara seperti yang selama ini mendiang istrinya lakukan.


"Tapi kan aku udah punya uang buat kasih makan istriku nanti," sahut Sagara yang pikirannya memang masih ala-ala remaja labil.


"Emang cuma butuh makan, hah?!" yang awalnya rendah kini sudah meninggi lagi, Zico memang sedikit BAR-BAR mirip sekali dengan Mommy nya. Ia tak bisa sedikit saja di pancing, maka meledak lah langsung emosinya.


"Ya terus apa? kan aku juga cinta, Pah."


"Pokonya kalian semua harus datang!"


Sambungan telepon pun langsung di putus oleh Sagara secara sepihak. Ia bisa seenaknya sebab kini minim nya perhatian dari orang tuanya.


Zico membuang napas kasar, ia masih menatap layar ponselnya yang kini sudah mati karna ulah anaknya barusan. Jika tak ingat dengan Sagara rasanya ia ingin ikut dengan istrinya saja.


"Kenapa?" tanya Mommy yang baru datang ke meja makan, jika akhir pekan memang mereka sarapan sedikit lebih siang tapi Zico justru sudah meminum segelas kopi.


"Cucu Mommy tuh," adunya langsung dan kembali membuang napas kasar.

__ADS_1


"Kenapa cucu Daddy? sudah pulang?" kini Tuan besar pradiptalah yang melayang kan pertanyaan.


"Gimana mau pulang, yang ada minta kawin tuh hari ini, sebelum adzan Dzuhur," jelas Zico di depan orang tuanya.


Mommy dan Daddy pun saling pandang, tentu pasangan itupun terkejut bukan kepalang mendengar keinginan cucu mereka tersebut. Jika minta motor baru itu sudah biasa dan jadi makanan sehari-hari, tapi jika minta kawin??


"Kamu yakin Sagara mau nikah?" tanya ulang Daddy memastikan.


"Iya, Dadd. Tadi barusan telepon aku dan minta kita semua datang ke kota B sekarang juga," jelas Zico yang kepalanya kini berdenyut hebat.


"Oh, ya udah ayo kalau gitu, Mommy telepon Uncle Reza berserta keturunannya yang banyak itu, makin rame makin seru kan?" jawab Mommy yang malah sangat antusias sekali, ia bangun lagi dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan anak dan suaminya di meja makan.


"Kok ayo sih? kalian gak apa-apa kalau Sagara nikah, kalian setuju?" tanya Zico yang melihat orang tuanya nampak santai menghadapi kekonyolan cucu mereka pagi ini.


.


.


.


Setuju dong, Zee... asal ada aja perempuannya untuk dinikahi..

__ADS_1


__ADS_2