
🍂🍂🍂🍂🍂
Kunci mobil yang ada di tangan Aga hampir saja jatuh ke bawah saat ia mendengar Deeva pergi sejak sore, karna memang di waktu sore itu juga wanita tersebut mulai sulit bahkan sama sekali tak bisa di hubungi olehnya, tak tahu siapa pastinya yang datang itu jugalah yang semakin membuat Aga tak tenang.
"Kalau gitu Aga pamit ya, Pak. Maaf ganggu malam malam," ujar Aga dengan senyum yang di paksakan.
"Iya, Den. mungkin besok pagi Non Deeva pulang," jawab si penjaga yang memang kenal baik dengan hampir seluruh penghuni kost milik Buaya cengeng dan Jan Hujan deres yang takut petir.
"Iya, Pak."
Tentu saja Aga ragu dengan yang di ucapkan pak penjaga barusan, bukan tak tahu bahkan semua juga tahu siapa Deeva yang tak lain adalah gadis pemberani yang satu-satunya seorang wanita dalam sebuah club motor yang cukup ada nama di kalangan pergaulan anak muda ibu kota.
"Deeva udah janji buat gak pulang pagi lagi kan? kenapa ingkar? Aga cuma takut Deeva kenapa napa di jalan, cuma itu aja kok," gumamnya yang menyandarkan kening nha di atas setir mobil yang mesinnya belum kunjung di nyalakan.
Rasa khawatir sungguh menyesakkan dadanya hingga isi kepala pemuda tampan itu rasanya mau pecah. Ia tak pernah sakacau ini karna Deeva biasa memberinya kabar, tak seperti sekarang yang justru entah ada dimana.
__ADS_1
"Janji besok pulang ya, kita ketemuan di kampus," ucapnya lagi yang kali ada senyum di ujung bibirnya sebab tatapan mata Aga tertuju pada foto Deeva yang menjadi Wallpaper ponselnya, ia yang baru saja menghubungi kembali gadis itu nyatanya tetap mendapatkan hasil yang sama.
.
.
.
Paginya, di kediaman Pradipta para ahli waris di kejutkan dengan kedatangan kakek Zico, pria baya itu sudah tak sabar ingin bertemu dengan cucu kembarnya yang sudah satu bulan ini tak ia kunjungi.
"Kirain pulang bawa gandengan, Pah." ledek Sagara yang rasanya masih saja memiliki dendam meski sudah lebih 20 tahun berlalu, anak mana yang tak kecewa mana kala selalu di hindari hadirnya karna hanya alasan memiliki kemiripan wajah dengan mendiang istri.
"Nanti pulang kuliah, Kakek jemput kakak ya, kita jalan jalan, Ok," pinta si sulung yang tertunya akan di iyakan oleh sang kakek.
Pria baya itu memang akan selalu menghabiskan waktu bersama dengan si kembar, dan itu juga bagai angin segar bagi Sagara karna imbasnya ia akan menjadi pengantin baru lagi bersama istrinya tanpa mendengar teriakan si bayi kesayangan Ibun.
__ADS_1
"Aga, kenapa? kok diem aja?" tanya Kakek Zico.
"Adek lagi sariawan," jawab SyahRaa asal dan ia langsung mendapat tatapan tajam dari adiknya yang di ledek barusan.
"Kamu sakit? kok gak bilang Ibun?" tanya wanita bercadar itu yang tentunya langsung panik jika sudah melihat Aga merenggut diam seribu bahasa.
AgaSyah tak menjawab, ia hanya menggeleng kan kepalanya tanpa semua baik baik saja meski sebenarnya tak begitu, sikap lainnya pagi ini tentu membuat semua yang ada di ruang makan saling pandang, tapi tetap Ibun yang paling khawatir sebab ia tahu ada yang mengganjal dalam hati anak bungsu laki kakinya tersebut.
"Sekali lagi Ibun tanya, Aga kenapa?"
.
.
.
__ADS_1
Aga kangen....