
🍂🍂🍂🍂🍂
"Aku... aku takut kamu suruh aku pake ini," ujar Aisyah yang kebingungan sendiri sambil mempertahankan apa yang ada di tangannya
Dan itu.... sangat membuat Sagara semakin penasaran. Ia terus memajukan langkahnya sedangkan Aisyah justru mundur teratur hingga ia sadar jika di belakang punggungnya kini ada dinding yang pastinya mau tak mau ia berhenti juga.
"Di beli ya memang harus di pake, emang kamu mau kalau itu jadi mubazir jadinya, hem?" jawab Sagara yang membuat Aisyah menelan salivanya kuat kuat.
"Ya--, gak gitu juga, aku--, aku cuma gak mau pakenya. Eh, belum mau pakenya. Itu aja sih," bela Aisyah yang semakin merasa terpojok kan.
Sagara yang tersenyum kecil khawatir Aisyah semakin takut, jadi ia lepaskan istrinya. Sagara masuk kedalam kamar mandi karna ada sesuatu yang bergeliat di balik celana seragam sekolahnya.
"Sial!" umpat Sagara saat ia menurunkan resletingnya.
Semakin hari, daging tak bertulang itu semakin kurang ajar sering bangun disaat dekat dengan Aisyah. Meski halal tapi rasanya ia belum berani mengajak Sang istri untuk bersilaturahmi halal.
Ia yang cuma terpancing untung saja bisa menetralkan lagi hasratnya, tak perlu sampai mengorbankan sabun cair, cukup ia membasuh wajah lalu mengalihkan fokusnya. Dan kini Sagara sudah kembali keluar dengan tanpang santainya lagi seolah tadi tak terjadi apapun antara ia dan Aisyah.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, tadi langsung pulang, kamu sudah?" tanya balik Sagara yang di jawab anggukan kepala.
Sagara hanya melempar senyum, ia tak masalah karna rasa lapar juga belum ia rasakan. Kali ini keduanya hanya duduk di ranjang karna Aisyah harus memeriksakan kembali luka di tangan suaminya.
__ADS_1
"Semoga lusa semakin sembuh ya, aku tahu ini rasanya tak nyaman kan?"
"Hem, iya. Aku kadang suka lupa akhirnya kerasa sakit lagi," jawab Sagara.
Keduanya pun terus mengobrol sampai akhirnya tak sadar terdengar suara perut yang tak lain itu adalah perut Sagara.
"katanya belum lapar?" ledek Aisyah yang cadarnya tentu sudah ia lepaskan.
"Hem, dikit."
"Mau makan? biar ku siapkan ya," ujarnya pada Sang suami, tapi belum juga Sagara bangun ternyata ponselnya berdering, ada panggilan masuk yang tak lain itu dari papanya sendiri.
Aisyah yang tak ingin menguping, tentu meminta izin untuk keluar lebih dulu. Ia biarkan suami dan Papa mertuanya tersebut berbicara yang entah membahas apa.
Dan kini, di dalam dapur bersih ia kembali kebingungan sendiri sampai harus di kagetkan oleh kepala pelayan di rumah tersebut.
"Hem, aku ingin menyiapkan makan untuk suamiku," jawab Aisyah.
"Baiklah, apa Tuan Muda mengatakan jika ingin makan apa?"
"Tidak, dia tak bilang apa apa."
"Nona bisa menunggu, biar Chef yang akan memasak untuk Tuan Muda," ujar wanita berkaca mata itu sambil mengulas senyum sopan.
__ADS_1
"Chef? bisakah saya sendiri yang masak?" pinta Aisyah dan itu mengingat kan Sang kepala pelayan dengan Nyonya besarnya yang juga sering memasak sendiri untuk suami dan putra tinggalnya tersebut.
"Tentu, jika Tuan Muda mengizinkan."
"Tenang saja, saya biasa melakukannya," kata Aisyah penu percaya diri.
Setelah ia mengatakan apa yang ingin di masaknya, beberapa pelayan membantu menyiapkan bahan masakan yang akan Aisyah olah. Bukan menu yang sulit tapi ia harap Sagara suka dan kenyang.
Hampir 45 menit, Sagara datang bertepatan dengan siapnya makanan di atas meja makan dalam dapur bersih, ini berbeda dengan meja makan yang tadi pagi di pakai untuk sarapan.
"Wow, enak nih. Kamu yang masak?" tebak Sagara dengan rasa bahagia luar biasa. Pria mana pun akan senang jika di layani seperti ini.
"Iya, tapi hanya ini saja, maaf ya aku tak bertanya dulu kamu mau makan apa," ucap Aisyah yang masih harap harap cemas takut Sagara tak suka dengan menu yang sudah di siapkan olehnya.
.
.
.
Tenang saja, aku HARGAI jerih payahmu, aku nikmati yang ada, dan tak akan mencari yang tak ada....
__ADS_1
*Co cweet 😥...
Emang suka kesel sih, saat udah siapin sesuatu hal yang banyak eh yang di cari yang gak ada 😭 langsung lemes dan berasa sia sia*..