
Setelah pulang sekolah Seperti biasa di warung babeh Hasan sudah banyak kalangan kalangan remaja yang bersantai di halaman itu, termasuk keempat cowok yang terkenal di kalangan cewek. Iya siapa lagi kalau bukan,sagara dan rekan rekannya.
"Udah saga , Lo udah habis banyak batang rokok jangan nambah lagi , gak sehat buat Lo". Ucap baskara khawatir. tidak biasanya dia melihat Sagara menghabiskan 5 batang rokok. Biasanya saga hanya 1 batang satu hari kalau lagi stress , itupun kalau dia mau.
Tetapi beda lagi dengan hari ini.
"Gue gakpapa santai aja kali". Ucapnya sambil main hp di tangan kanannya sedangkan di tangan kiri untuk menghisap puntung rokok.
"Pipi Lo kenapa tuh lembab?". Andra terpokus pada pipi kiri saga sedikit membiru, membuat Andra bertanya tanya.
Baskara dan Revan yang baru sadar pun juga terpokus pada pipi saga.
"Siapa yang mukul lo?". Baskara berdiri lalu Rahangnya mengeras tidak terima Sagara dipukuli , baskara sadar kalau saga banyak menghisap rokok itu karena stres dipukuli seseorang.
"Udah tenangin diri Lo gak usah pake emosi". Revan menenangkan baskara, untuk membicarakan baik baik.
Sagara Terkekeh kecil melihat tikah baskara yang penuh emosi dan khawatir akan dirinya.
"Gak usah dipermasalahkan, gue gakpapa, ini urusan keluarga gue". Sagara tersenyum lalu membuang putung rokok yang terakhir.
"Jadi bokap Lo yang mukul?". tanya Andra kaget memastikan.
"Wah gila sih orangtua lo rela mukul anaknya". Revan yang juga kaget ikut bicara , tidak terima Sagara di pukuli
"Gak bisa di biarin ini. Harus di laporin atas kekerasan pada anak". baskara yang udah biasa sagara di kasadin oleh ayahnya sendiri, kali ini gak bisa di biarin.
Ketiga temannya menyerobot bicara penuh kekhawatiran ,padahal bukan pertama kalinya Sagara bonyok lembab sana sini.
"Apaan sih , kan udah gue bilang urusan keluarga".
"Gue pulang duluan ya". Sagara beranjak dari duduknya lalu mengambil tasnya.
"Saga ini bukan pertama kalinya Lo dipukulin sama bokap lo". Baskara ikut berdiri lalu menatap Sagara serius, begitupun Sagara menatap baskara serius lalu Tersenyum.
"Gue gapapa".
"Udahlah gue pulang ya dah... Beh saga pamit". Segera Sagara berjalan meninggalkan area halaman warung babeh Hasan.
"Hati hati nak". Teriak babeh Hasan sedikit aneh Sagara pulang lebih awal.
Ketiga temannya terpokus pada saga yang pergi dari area halaman warung babeh tanpa ingin mengejar. Bukan berarti mereka gak peduli. Peduli sama saga itu pasti, cuman saga butuh waktu sendiri, makanya saga dibiarkan untuk pulang lebih awal.
...•••••...
"Kak. Nara hari ini mau keluar sebentar ya". Ucap Nara pada sang kakak yang terbaring lemah di kasurnya.
"Mau kemana, capek loh baru pulang sekolah masa mau pergi lagi".
Nara tersenyum lalu mengusap kepala kakaknya itu , meski menahan tangis, Nara tetap berusaha tersenyum.
"Gak akan lama ko kak. nanti obatnya jangan lupa diminum terus banyakin istirahat ya".
"Iya bawell". Ucap Elvano sang kakaknya sambil tersenyum manis.
Nara mengecup kening kakanya penuh sayang, air mata yang tadi ditahan kini lolos mengalir membasahi pipi kakaknya."cepet sembuh kak".
Elvano mengangguk lalu mengusap kepala nara lalu memeluknya erat.
"Jangan nangis , jelek tau".
Itulah kata kata kakaknya yang selalu diucapkan kalau Nara menangis.
Nara terkekeh lalu mengusap air matanya. "Nara akan segera kembali dah".
"Hati hati, jangan terlalu capek!!". Teriak Elvano yang melihat kepergian nara menuju pintu keluar kamarnya.
°°°°
saat di luar Nara keluar masuk ke toko toko ataupun cafe tidak ada satupun yang menerima untuk Nara bekerja.
Iyah. Nara keluar untuk cari kerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhannya, dan untuk memenuhi biaya pengebotan kakaknya. Karena kakaknya sedang sakit parah semenjak usia 12 tahun ginjalnya rusak jadi mau gak mau Nara harus merawatnya. Dulu kakaknya yang cari kerja tapi setelah kakaknya sakit dialah yang harus cari kerja.
Orangtua mereka sudah lama meninggal semenjak nara umur 4 dan Elvano10 tahun , orangtuanya meninggal karena kecelakaan dan beruntungnya Nara dan kakanya selamat dari kecelakaan itu.
Sejak kejadian itu mereka di kirim ke panti asuhan, setelah mereka besar karena tidak mau menyusahkan orang di panti jadi mereka memutuskan nyari tempat tinggal.
°°°°°°
Dengan tidak sengaja Nara melihat salah satu cafe yang kini sedang rame dan ada tulisan lowongan pekerjaan, Nara tersenyum lalu lari menuju cafe yang ramai dipenuhi pembeli , menurutnya kesempatan ini bagus untuknya untuk membantu pelayan yang kesusahan melayani pembeli.
__ADS_1
"permisi pak kalian butuh bantuan? Kayaknya cafe sedang ramai". Ucap Nara pada salah satu pelayan yang sedang mengamankan orang orang diluar supaya tidak berdorong dorong untuk masuk.
"Iya aduh neng tolongin ini banyak banget yang beli, karena cafe kita baru saja membuat minuman baru, baru 2 menit sudah banyak pelanggan gini".
Nara mengangguk mengerti tidak heran cafe ini banyak yang beli karena minumanya enak enak dan terdengar cukup murah tapi tidak murahan ya hehe.
"Kebetulan banget pak saya mau ngelamar pekerjaan disini".
"Yasudah langsung aja masuk di depan ada bos kita tuh lagi bantuin nyatet pesanan".
Nara mengangguk lalu berusaha untuk masuk, tidak peduli orang orang meriakinya karena sudah berani masuk medahuli mereka. Bapak tadi pun menjelaskan bahwa Nara akan kerja disini otomatis yang mengantri pada diam nahan malu.
Setelah didalam Nara langsung menghampiri pemilik cafe , tapi sepertinya sedang sibuk banget jadi menghiraukan Nara meski sudah di panggil beberapa kali.
Karena merasa kasian udah mengganggu menurutnya nanti saja kalau sudah beres, sebaiknya Nara segera membantu karyawan yang kesusahan bawa minuman dinampan banyak.
"Sini aku bantu kak".
Meski Karyawan itu bingung tapi tidak salahnya ada yang menolong lalu dia menunjuk untuk mengantarkan ke meja no 4. Nara mengangguk lalu berjalan ke meja no 4 .
Sampai pukul 7 malam pelanggan sudah makin berkurang dan karyawan bisa istirahat sejenak.
"Makasih ya udah mau bantu, kalau gak ada kamu kita bener bener kewalahan menanggapi pelanggan". Ucap salah satu karyawan perempuan yang duduk bersandar , tidak beda jauh perempuan itu sepertinya seumuran jadi mudah untuk di ajak bicara.
Nara mengangguk lalu mengatur nafasnya karena ia sepertinya akan kambuh lagi, dan benar saja setelah 1 menit kemudian asmanya kambuh, perempuan tadi panik kenapa sama Nara , Nara mengambil inhalernya lalu menghirupnya dengan tenang.
"Kamu punya asma?". tanya perempuan disebelahnya.
Nara mengangguk "aku kalau kecapean mudah kambuh".
"yaampun maaf ya harusnya tadi kamu gak usah bantuin". perempuan itu panik khawatir sambil memegang kedua tangan nara.
Nara tersenyum "gak usah minta maaf aku kan kesini emang tujuannya mau bantuin sekalian mau ngelamar kerja".
Tidak lama pemilik cafe datang dan memberikan minuman pada karyawan yang sudah bekerja keras hari ini, termasuk Nara juga.
"Terimakasih banyak atas bantuannya". Ucapnya ramah.
"Denger denger kamu mau ngelamar disini?".
Nara tersenyum lalu mengangguk bersamangat.
"Kamu diterima, selamat. nama saya satria, kamu kalau mau tanya tanya bisa hubungi nomor ini". ucap pemelik cafe itu dan memberikan kartu namanya.
Nara langsung berterimakasih pada pemilik cafenya yang cukup berumur.
"Oh iya nama saya Nara pak, tapi saya masih sekolah apa tidak apa apa?".
"Aku juga masih sekolah , pak satria juga gak mempermasalahkan". Ucap perempuan tadi yang mengajaknya bicara.
"Oh iya aku icha". Ucapnya memperkenalkan diri. Nara tersenyum lalu menerima ulurannya.
"Aku Nara , sekolah di SMA Nusa abadi".
Icha kaget lalu matanya berbinar.
"Wah kebetulan banget aku juga sekolah disana, tapi aku gk pernah liat kamu ya".
Nara tekekeh "aku anak pindahan jadi wajar aja kamu gak liat aku".
"Udah nanti aja ngobrol ngobrolnya udah malem sebaiknya kalian pulang". Ucap pak sastria pemilik cafe itu
Nara baru ingat ini udah malem takut kakaknya khawatir. "Makasih pak atas bantuannya saya janji akan kerja lebih baik lagi".
Pak satria mengangguk lalu tersenyum.
"tapi pak maaf, nara sebaiknya di tempatkan di kasir saja, soalnya Nara gak boleh kecapean dia punya asma pak". Icha meminta pak satria supaya Nara di tempatkan di kasir karena kalau jadi pengantar ke pelanggan dia akan kecapean.
"kasir udah ada yang isi, kita butuh karyawan jadi pengantar Icha". tegas pak satria.
"aku gakpapa ko , lagian jadi pelayan kan seru bisa ngobrol sebentar sama pelanggan. lagian aku juga gak akan capek capek". ucap Nara tersenyum ke Icha memastikan bahwa Nara tidak akan apa apa.
Icha menghela nafasnya lalu mengangguk.
"Yaudah saya duluan ya". pamit nara lalu pergi ke area halte.
setelah di halte Sudah 10 mening Nara menunggu tapi bus tidak kunjung datang , tumben sekali bus jam segini udah gak ada , masa sih padahal baru jam 19.30 malam , sementara berhenti jam 21.00.
"Nara!".
__ADS_1
Nara menoleh ke sumber suara bahwa namanya di sebut. lalu mendapati Azka sedang turun dari mobilnya lalu menghampiri Nara.
Awalnya Nara kaget ada yang memanggilnya tapi kini dia tau bahwa Azka yang datang dia sedikit lega.
"Kamu ko bisa ada disini?".
"Harusnya gue yang nanya,Lo ngapain disini sendiri?".
"Aku lagi nunggu bus".
"Oh Lo gak tau ya, pekerja bus hari ini lagi libur makanya jam setengah 8 udah gak ada. Mereka lagi istirahat".
"Kenapa kamu bisa tau". Tanya Nara heran , siapa tau Azka lagi modus, cowok cowok zaman sekarang kan kayak gitu modus supaya bisa Deket. Tapi kayaknya Azka kelihatan serius dan baik anaknya. Dan denger denger juga dia adiknya saga , sangat berbeda sekali sifatnya sama saga.
"Gue gak sengaja denger dari yang lewat sih".
Nara mengangguk meski agak gak percaya tapi iyain ajalah.
"Terus kenapa berhenti disini?".
"Lo gak liat udah malem".
"Ya terus apa urusannya?".
Azka menghela nafasnya sebegitu polosnya dia sampe gak peka.
"Gue anter pulang".
Nara melotot kaget "tuh kan bener ih apa yang aku pikirkan terjadi juga".
Azka bingung lalu mengernyitkan keningnya. "Apasih?".
"Kamu tuh sama aja kayak cowok lain , modus. biar bisa jalan bareng iyakan".
"Astaga enggak gitu, gue cuman kasian anak perempuan malam malam gini sendiri nungguin bus,yang udah jelas gak akan datang".
"Kamu serius?". Meski Nara ragu, tapi setelah mendengar orang disebelahnya juga lagi membicarakan pekerja bus yang sedang libur.
"Denger sendiri kan?".
Nara tersenyum kaku malu lalu mengangguk "maaf ya udah berpikir yang aneh aneh".
Azka mengangguk mengerti "Yaudah, karena Lo temen kelas gue, gue anterin".
...••••••...
Tepat pukul 21.00. saga tidak pulang kerumah, dia bilangnya akan pulang , tapi bukan pulang kerumahnya , tapi pulang ke rumah tempat mamanya tinggal. Iya pemakaman mamanya, di Bandung tempatnya di buah batu.
Tidak peduli sekarang malam hari.
"Aduh den udah malem besok aja ya". Ucap mang Jajang penjaga pemakaman.
Mang Jajang ini udah kenal baik sama saga karena saga sering datang ke sini.
"Biarkan saya masuk ya mang". Ucapnya lirih karena dia sedang menagis sekarang.
Mang Jajang merasa kasian dengan remaja satu ini. Pada akhirnya mang Jajang membukakan gerbang pemakamannya.
"Makasih mang". Saga segera masuk dan meninggalkan mang Jajang sendiri. Sedangkan mangjajang berdiri memperhatikan saga yang mulai jauh darinya.
°°°°°
"Ma, mama apa kabar?". Saga mengelus pelan nisan yang bertulisan 'Tamaralia putri' itu.
Sagara terus menangis menetesi pemakaman ibunya. Tidak peduli dia sedang dimana karena menangis di tempat sepi itu menenangkan.
"Ma maaf sagara lemah ma".
"Sagara capek , cowok juga punya hati kan ma, Sagara berhak ngeluh".
"Tapi Sagara gak mau liat mama kecewa. Sagara berusaha tegar, tapi keadaan yang membuat Sagara ingin nyerah ma".
"Papa yang sekarang sama yang dulu beda ma"
"Papa lebih mentingin keluarga barunya".
"Sagara pengen ikut mama"
...••••••...
__ADS_1
Sorry kalau ada dialog yang kurang masuk sama kalian mohon maaf karena masih pemulaan jadi di wajarin aja ya karena ini pertama kalinya saya membuat novel.
Okey see you♡