
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Mendengar kata Ibu guru, Aisyah terdiam karna ia ingat dengan pekerjaannya tersebut, aktifitas yang sejak kecil di cita citakan nya menjadi kenyataan meski habiskan sebagai pengajar di taman kanak-kanak.
"Kenapa? tenang aja, suamimu ini gak akan bikin malu Bu Guru kok'," kekeh Sagara menggoda dan Aisyah hanya tersenyum simpul.
Tempat ini masih sangat asing bagi Aisyah yang baru pertama kali menginjakkan kakinya di Ibu kota. Aisyah orang yang terbilang betah di rumah, pergi saat ada yang mendesak atau pun perlu saja.
Kulitnya yang memang sudah putih bersih semakin terawat halus di balik pakaian tertutupnya.
"Tidur ya, aku ngantuk banget, capek." Sagara yang ingin menutupi debaran hatinya langsung mengajak Aisyah istirahat. Ia tidur di sebelah kiri ranjang dengan menyisakan ruang kosong yang cukup lebar untuk istrinya.
Aisyah yang bingung harus bagaimana langsung menarik napas dan di buangnya perlahan. Tak ada rasa sesak dalam dadanya karena yang ia rasakan hanya malu dan takut.
"Ayo, tunggu apa lagi? aku ini sulit di bangunkan loh," ucap Sagara yang membuat Aisyah tersenyum kecil.
Mau tak mau wanita itupun ikut tidur, ia letakkan lebih dulu bekas obat Sagara dan tak lupa menyiapkan air putih di atas nakas samping ranjang karna Aisyah sering terbangun tengah malam karna haus.
Ada sebuah bantal guling di tengah entah di sengaja atau tidak, yang jelas itu seolah pembatas bagi mereka yang sudah halal.
Dan berapa terkejutnya Aisyah saat tak lama ia mendengar suara dengkuran halus tepat disebelahnya itu yang tak lain tentu suaminya.
"Kamu beneran ngantuk ternyata," ucap Aisyah yang melihat sebentar ke arah Sagara, senyum pun tak sadar ia ukir di ujung bibirnya tersebut.
"Semoga mimpi yang indah ya, Suamiku."
__ADS_1
.
.
.
Lewat di sepertiga malam, Sagara yang sudah bangun tapi malah memilih untuk tetap diatas tempat tidur. Ia tak punya niatan untuk turun dari ranjangnya yang kini harus rela untuk ia bagi dengan Sang istri.
Ya, wanita yang sudah ia halalkan kemarin sebelum adzan dzuhur dengan mahar 2500 rupiah. Dan saat ia mengingat hal tersebut Sagara langsung menggigit bibir bawahnya agar tawanya tak menggangu Aisyah yang masih terbuai mimpi.
"Saga--," panggil Aisyah yang malah tersenyum namun tak lama kemudian ia bangun dan berteriak.
"Astaghfirullah, kamu--, kamu ngapain? aku dimana?" tanyanya panik lalu melihat kearah dirinya sendiri yang masih berpakaian lengkap bahkan kerudungnya pun masih menempel di kepala meski sedikit berantakan.
"Hey, kamu tenang dulu. Kamu dirumahku, aku suamimu, ingat kan?" Sagara yang ikut panik dan kaget langsung bangun juga untuk meraih tangan Aisyah berharap wanita tak semakin kebingungan.
"Tak apa, aku paham."
"Kamu--, tak marah kan?" tanya Aisyah tak enak hati, sebab sikapnya yang mungkin berlebihan tapi untuknya yang tak pernah bersentuhan dengan lawan jenis tentu mampu membuat jantungnya hampir copot.
"Marah? untuk apa, toh yang kamu sebut juga tadi namaku, iyakan?" ada rasa bahagia yang menyeruak dalam dada Pemuda itu sekarang.
Selupa apapun Aisyah tentang drama nikah dadakannya kmren setidaknya ia tak salah sebut nama suaminya padahal baru saja bangun tidur.
"Aku--, aku kira tadi mimpi karna memang rasanya aku sedang memimpikanmu," jawab Aisyah yang malu untuk jujur.
__ADS_1
"Benarkah? tapi aku lebih tampan di kenyataan kan?" goda. Sagara yang langsung membuat kedua pipi istrinya merah merona.
Tapi untuk menyembunyikan hal tersebut, Aisyah membuang pandangan kearah jam dinding yang ternyata sebentar lagi waktunya mereka melakukan kewajiban.
"Mau bareng denganku?"
"Tentu, kenapa tidak," jawab Sagara antusias.
Hal yang sering di lakukan secara bersama itu kini hanya dilakukan oleh mereka berdua saja, jika Sagara tak malu mungkin ia sudah pingsan saat di tengah-tengah melakukannya.
Tapi Iman saat menjadi Imam nyatanya bisa di acungi jempol.
Dan saat semua di akhiri dengan salam, Sagara pun sedikit membalik badannya, punggung tangan yang di raih oleh Aisyah untuk di cium takzim nyatanya memberi rasa luar biasa bagi Pemuda tampan tersebut.
"Aku bangga padamu, ini di luar dugaanku," ucap Aisyah yang pernah menganggap Sagara anak berandalan ibu kota, meski nyatanya itu benar.
"Benarkah? aku hanya ingin --"
"Ingin apa? katakan padaku," tanya wanita berbalut mukena putih berenda itu.
.
.
.
__ADS_1
Ingin doaku sampai kepada Mamah, jika bukan aku anaknya, siapa lagi?