
🍂🍂🍂🍂
Meski kostan tersebut sudah turun pada Phiu Samudera tapi urusan tagih menangih tentu itu jadi kerjaan Rain, bukan hanya mengambil uangnya saja karna biasanya hampir semua memilih jalur transfer tapi pemuda tampan itu untuk mengecek bangunan bertingkat tersebut, mulai dari Air, kebersihan, keamanan dan juga cemilan yang biasa di sediakan, belum lagi pemberian bonus pada pak satpam dan lainnya juga.
"Ayo Bayiiiiiiii," ajak ArXy yang berusaha menarik bantal dari wajahnya namun tetap di pertahankan oleh Aga sambil merajuk.
"Wiiiiih.. mata mana mata?" Kehebohan yang ArXy lakukan tentu membuat Skala dan Heaven mendekat.
Jangan tanya bagaimana kondisi ranjang si Bayi yang kini di penuhi para pemuda tampan kaya raya. Ada ArXy, Skala, Rain, Heaven dan pastinya Aga.
"Beneran nangis, kenapa sih? ada yang cubit?" tanya bapak MariMar gak pake AW....
"Bukan, tapi Aga tuh di kacangin," jawabnya yang akhirnya mau bercerita sebab dadanya benar-benar sesak saat ini, ternyata sakit yang ia rasakan sungguh luar biasa di saat pertama kali sadar sudah jatuh cinta pada sosok Deeva.
"Enak di kacangin, apalagi kalau campur coklat," sahut Skala.
"Enakan juga keju," sambung Rain, si kecil namun calon penguasa Rahardian Group.
__ADS_1
"Gak NANYA!" timpal ArXy yang paling tak bisa jika bicara tanpa menarik urat.
Satu bantal pun kini melayang dan kena pas di wajah tampan si calon duda di masa depan.
"Ish, bau iler!" ArXy langsung melemparnya jauh jauh dari ranjang tempat mereka kini berkumpul bersama.
Rayuan demi rayuan di berikan geng kompor meleduk hingga akhirnya Aga mau bicara, ia jujur tentang apa yang ia rasakan saat ini meski sebenarnya ke empat sepupunya sudah tahu, tak mungkin mereka datang tanpa mendapat perintah dari sang Tuan besar Rahardian Wijaya.
"Aga lagi patah hati ceritanya?" tanya Heaven, masalah tentang abai mengabaikan tentu ia lah orang yang paling sabar.
"Potek itu bukannya lagu bocah ya? tek potek potek... anak ayam turun 10," ujar Skala yang malah bernyanyi sambil mengepak kan tangannya sendiri.
"Itu Kotek!" sahut Rain si manja yang selalu kalem.
"Kotek Gas apa Kotek kayu?" tanya Heaven yang ikut samanya, satu melenceng tentu yang lain pun akan ikut tak warasnya.
"Kotek Kuku, mau yang merah apa yang biru?" jawab ArXy.
__ADS_1
"Heh! apa bawa bawa Mhiu BumBum!" sentak Rain.
"Waduh anaknya ngamuk!" Heaven yang bersembunyi di balik punggung Skala pun langsung tergelak sendiri
Melihat dan mendengar para sepupunya berdebat, saling sahut dan ledek kini Aga pun sudah bisa sedikit tersenyum, rasanya tak sesedih semalam yang harus pulang tanpa mendapat kan jawaban tentang apa dan kenapa Deeva berubah. Masih terbayang di ingatan Aga bagaimana wanita yang teramat di rindukannya itu berdiri di depannya tanpa senyum, tangan yang melipat di dada serta suara yang teramat ketus, belum lagi tatapan Deeva yang seolah malas menatap nya.
"Eh, anak Bayi udah senyum, gak sedih lagi kan?" tanya Skala yang ikut senang.
"Sabar ya, Bayiiii. sebelum janur kuning melengkung masih bisa di tikung," pesan ArXy sambil menepuk pelan kepala Aga.
.
.
.
Alah, nasehatin orang, sendirinya aja kena tikung
__ADS_1