
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Perkenalan SyahRaa dan Christ nyatanya berlangsung hari hari berikutnya, dari yang SyahRaa tahu pria itu adalah kakak tingkatnya di campus yang, dia orang yang baik saking baiknya sampai membuat SyahRaa merasa nyaman meski hanya bertemu sesekali dalam waktu yang cukup singkat. Tapi jika berhubungan lewat sambung telepon dan pesan itu sangat sangat lancar.
*Christ
[ Sepulang kuliah mau kemana? bisa kita bertemu ]
Satu pesan itu saja nyatanya sudah bisa membuat SyahRaa senang. Ia tentu langsung membalasnya di waktu yang sama.
*SyahRaa
[ Aku tak ada acara apapun nanti, 45 menit lagi aku keluar kelas, kita bisa bertemu di parkiran ]
SyahRaa langsung menyimpan lagi ponselnya setelah mengirim pesan, rasanya sudah tak sabar ingin bertemu dengan Christ yang jika bicara selalu menggetarkan hatinya.
Apakah SyahRaa sudah jatuh cinta?
Padahal, obrolan keduanya tak pernah kearah yang serius, Christ lebih senang bercanda namun tetap di batas wajar yaitu sopan dalam berkata dan tak pernah saling bersentuhan. Mereka, atau lebih tepatnya Christ yang selalu berusaha menjaga jarak.
__ADS_1
"Hey, kenapa senyum senyum terus?" bisik Mia, teman SyahRaa sambil menyenggol pelan lengannya.
"Hem, gak apa apa," jawab SyahRaa sambil menggeleng kan kepala.
Ia yang berusaha fokus di jam terakhir ini nyatanya sungguh sulit, Christ benar-benar sudah mengusai otaknya sekarang. Tapi SyahRaa kali ini bisa bernapas lega, meski waktu rasanya lambat berjalan namun akhirnya semua selesai juga. Setelah merapihkan semua barangnya, ia yang sudah punya janji dengan seseorang tentu langsung buru buru keluar dari kelas dan itu berhasil membuat Mia dan teman yang lainnya heran akan kelakuan SyahRaa kali ini.
Langkah kaki Nona muda pradipta itu cukup lumayan cepat menuju area parkiran, senyumnya semakin lebar saat melihat sosok pria yang akan di temuinya sekarang.
"Maaf, pasti kamu menunggu lama ya?" tanya SyahRaa tak enak hati.
"Baru 5 menit, tak masalah," jawab Christ yang tak kalah memberikan senyum lebarnya juga, andai keduanya tahu mungkin mereka akan malu jika merasakan detak jantung masing-masing yang begitu cepat tak seperti biasanya.
"Hem, sebenarnya tak ada. Aku--, aku hanya ingin bertemu denganmu, ku harap kamu tak keberatan, Raa." Christ sampai mengusap tengkuknya sendiri karna ia tak bisa berbohong dan tak punya alasan apapun saat di tanya oleh SyahRaa.
"Tentu tidak, mau kemana kita?" tanya SyahRaa.
"Ke dekat sini saja, kamu sudah makan?"
SyahRaa langsung menggelengkan kepala, meski tak merasa lapar sama sekali ia tak akan menolak ajakan Christ.
__ADS_1
"Aku atau kamu yang pilih tempat?jangan sungkan. Aku tak seperti yang kamu pikirkan, Christ," ucap SyahRaa.
Ia tahu, pria di depannya ini tak sepadan dengannya. Tapi SyahRaa tak pernah memandang hal tersebut, karna baginya yang kaya raya itu orang tuanya atau lebih tepat adalah papanya, sebab semua kebutuhannya masih pria itu yang menanggung sampai hal terkecil.
"Ayo, kamu bisa dengan mobil mu dan aku dengan motorku," kata Christ namun di tolak oleh SyahRaa.
"Kenapa tak jalan bersama?" tanya SyahRaa yang tak setuju dengan saran Christ barusan, tentu itu akan mengurangi jatah pertemuan mereka.
"Boleh aku jujur?"
"Katakan, kenapa?" SyahRaa yang bingung sampai mengernyitkan dahinya.
.
.
.
Aku tak ingin lekuk tubuhmu terlihat banyak orang di jalan, Raa...
__ADS_1