
"Saga!" pekik Aisyah saat ia merasa napasnya hampir saja habis, tak hanya sekali karna pria yang baru mau beranjak dewasa itu katanya sedang memberi hukuman.
Memang berbeda, ciuman Sagara kali ini tak semanis biasanya, sedikit lebih kasar dan menuntut hingga Aisyah sulit sekali mengimbangi.
"Kenapa? mau lagi?"
"Gak gini caranya, kita bisa bicarakan baik baik." Aisyah yang sebenarnya takut masih mencoba untuk sabar.
Aisyah tahu betul pria seusia Sagara sedang labil labilnya, kadang apa yang di lakukan tanpa di pikirnya dua kali, lebih mengedepankan emosi daripada logika dan hati. Itulah yang di rasakan Aisyah pada suaminya.
"Baik gimana? kamu mau minta izin ke aku buat ke rumah sakit kan?"
"Iya, kan aku baru mau minta, kalau kamu gak izinin aku gak akan pergi. Aku tahu batasanku dalam bertindak," ucap Aisyah sambil menahan perih di bibirnya.
"Dan kamu tahu jawabannya! Si Duda itu cuma cari alasan buat deketin kamu, Aish!"
"Intan sakit, hanya itu yang aku pikirkan."
"Tapi tidak dengannya, anak itu tetap akan jadi alasan utama. Lagi pula ia tahu sejak kemarin kamu sudah menikah, harusnya dia bisa kasih pengertian buat anaknya." Sagara terus saja mengomel sedangkan Aisyah tak berani membantah.
Wanita cantik penyabar itu hanya menunduk melihat kearah tangannya yang ia letakkan diatas paha.
Semua di dengar Aisyah sampai ia tak lagi mampu menahan air matanya dan isakan kecil itu nyatanya di dengar oleh Sagara.
"Kamu menangis? apa anak itu lebih penting dariku?" tanya Sagara.
"Tidak, bukan begitu hanya saja aku benar-benar khawatir pada Intan," jawab Aisyah, satu tahun bersama dari senin hingga jumat memang sudah menimbulkan rasa sayang yang sebenarnya bukan hanya pada Intan saja tapi juga semua murid di taman kanak-kanak ataupun di tempat Les tapi Intan memang paling dekat dengan Aisyah karna mereka sering pergi bersama saat ada waktu senggang, dan itu tak lebih hanya untuk menemani Intan yang katanya kesepian tanpa sosok Ibu.
__ADS_1
"Kamu bisa telepon anak itu saja, tak harus datang ke sana," balas Sagara yang langsung keluar dari kamar.
Ini adalah perdebatan pertama di antara mereka berdua selama menikah. Jadi tak heran jika Aisyah nampak sangat sedih dan kecewa.
Sagara yang sudah keluar membiarkan istrinya itu menelepon Haris untuk bicara dengan Intan, cukup sebatas itu saja ia mengizinkan Aisyah.
Bukan Sagara tega, hanya saja ia tak ingin Haris semakin berlaku seenaknya dengan alasan Intan. Jika pria itu tak ada rasa mungkin Sagara tak akan sekesal ini.
.
.
.
Didalam kamar, Aisyah yang bingung menelpon atau tidak masih menatap ponselnya di atas nakas. Niatnya tentu hanya ingin tahu kabar Intan dan sebenarnya ini bukan yang pertama, ia memang sering di minta Haris untuk merayu Intan makan, cepat tidur dan juga minum Vitamin. Jika dulu ia langsung mengiyakan tapi tidak dengan sekarang yang harus seizin Sagara karna yang ia telepon adalah seorang pria tak beristiri sedangkan ia kini sudah bersuami.
"Bismillah, ku niatkan hatiku untuk bicara dengan Intan," ucap Aisyah yang kemudian meraih ponselnya.
Tak perlu menunggu lama, panggilan pun tersambung. Dan suara Haris lah yang di dengar oleh wanita itu.
"Assalamu'alaikum, Aish. Ya ampun aku menunggumu sejak tadi. Kapan datang?" tanya Haris dan Aisyah begitu jelas mendengar helaan napas lega dari pria tersebut.
"Waalaikum salam, Mas. Maaf, apa aku bisa bicara dengan Intan?"
"Intan sedang tidur, tak perlu bicara dengannya kamu cukup datang kemari, Ok." jawab Haris, dari nada bicara pria itu jelas sekali jika ia masih berharap banyak Aisyah menemui Intan.
"Hem, kalau begitu titipkan salam ku saja pada Intan. Katakan padanya jika disini aku mendoakan Intan agar lekas sembuh."
__ADS_1
"Apa kamu tak akan kemari untuk bertemu Intan?" tanya Haris tak percaya. Andai wanita itu tahu sebulat apa kedua mata pria itu saking kagetnya sebab hanya doa yang di lontarkan oleh Aisyah.
"Tidak, Mas. Aku mohon maaf."
"Kenapa? apa karna bocah SMA itu?" tanya Haris lagi yang kali ini tak lagi bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
"Jaga ucapanmu, Mas. Dia suamiku!" tegas Aisyah yang tak suka dengan penuturan Haris yang seolah sedang meledek suaminya meski itu adalah sebuah kenyataan.
"Apa yang kamu lihat darinya? apa karna dia jauh lebih kaya dariku? apa kamu tak malu menikah dengan pria semuda itu, Aish?" Haris terus memberondong pertanyaan mencari alasan yang sebenarnya.
"Cukup! ini sudah di luar pembicaraan yang seharusnya. Aku meneleponmu hanya untuk bicara dengan Intan, jika dia tidur kamu bisa sampai kan doaku untuknya. Masalah aku datang atau tidak bukankah itu hak ku? begitu pun dengan alasannya!" ucap Aisyah, baru kali ini ia berani bicara ketus pada orang lain.
"Iya, aku tahu. Tapi kamu juga harus tahu jika aku dan Intan sangat kecewa padamu! Tanpa memberi tahu nyatanya kamu sudah menikah, Resign dan tinggal jauh di Ibu kota. Apa kamu memikirkan perasaan kami?"
"Bukankah tak ada hubungan apapun di antara kita, aku hanya di minta untuk menemani Intan dan aku menyanggupinya karna sekedar bermain," balas Aisyah yang kembali menaikan nada bicaranya.
"Tapi kami ingin lebih dari itu, Intan ingin kamu jadi Ibu sambungnya karna ia tahu aku mencintaimu. Aku benar-benar mencintaimu dan selama ini aku selalu berusaha ingin menghalalkanmu meski berulang kali kamu menolaknya!" Perdebatan pun terus terjadi seperti tak ada yang mau kalah, Haris seolah terus mengingatkan apa saja yang sudah ia berikan dan mereka lalui bertiga selama setahun ini. Terlebih memang bukan hanya orang sekitar yang tahu karna keluarga itupun menaruh harapan yang sama pada Aisyah.
"Jika sudah berulang kali aku katakan TIDAK harusnya kamu paham jika perasaan tak bisa di paksakan. Aku hanya menerima ajakan Intan untuk main tapi bukan berarti aku menerima lamaran dan pinanganmu, Mas!"
"Lalu apa? apa alasan kamu mau menikah dengan bocah SMA itu?" desak Haris yang seakan hampir gila hari ini, ia harap datangnya Aisyah akan membuat nya tenang tapi justru sebaliknya.
"Karna aku mencintainya, aku jatuh cinta pada Sagara." Aisyah sampai menekan nada bicaranya agar Haris paham dan tak lagi bertanya padanya, saking kesalnya wanita itu sampai ia tak sadar jika Sagara sejak tadi ada di belakangnya.
.
.
__ADS_1
.
Ulang coba yang keras, kok aku gak denger??