Sagara

Sagara
Part 72


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Drama akhir bulan di mulai, dari semalam bab 70 71 dan gak tau ini bab 72 akan lama atau enggak.. jadi kalau Up barengan di ketiganya atau di bab selanjutnya juga mohon di like satu satu ya, dikomen tiap bab juga alhamdulillah banget kalau kalian sempet.. karna ini sistem Eror dari pihak Aplikasi. Buat kirim naskah aja sampe berkali-kali moga gak double bab tapi entahlah..


* Happy Reading *


Banyak yang menyenangkan dirumah utama terlebih ada saja tingkah para Penghuninya yang membuat hati Aisyah ikut senang atau mengukir senyum di balik cadarnya, hingga Aisyah merasa betah dan enggan untuk pulang.


"Kapan kapan aja gak bisa?" tanya Aisyah.


"Tumben? sepi ya kalau di rumah?" tanya balik Sagara yang peka dengan penolakan Sang istri saat ia mengajak untuk kembali ke rumahnya.


"Iya, bingung kalau disana, masak aja gak leluasa, kalau disini justru rame rame," jawab Aisyah, senyumnya semakin terukir lebar karna memang tak memakai cadar.


"Sabar ya, nanti kalau kita udah punya anak pasti kamu gak akan kesepian lagi. Kamu ada temennya."


Anak?


Benarkah Sagara siap untuk punya anak? ditengah usianya yang masih sangat sangat muda seperti ini, sedang Aisyah saja pasrah mengenai hal tersebut. Ia cukup usaha karna hasilnya tentu Tuhan yang memutuskan kapan akan ada malaikat kecil di rahimnya.


Bukan hanya satu dua orang, tapi ada beberapa kali kejadian pasangan yang terlalu terobsesi ingin keturunan tentu disanalah ujian kesabaran dalam rumah tangga di perjuangkan.


Aisyah cukup minta yang terbaik karna untuk siap jadi ibu tentu ia sangat siap tapi kapan itu waktunya ia serahkan semuanya pada Sang pemilik hidup karna ia sadar betul jika anak adalah sebuah titipan semata.


"Aamiiin, semoga apa yang jadi inginmu dan inginku di kabulkan dengan segera," ucap Aisyah.


"Hem, tapi jangan mangandalkan di kabulkan saja tapi kita juga harus rajin usaha," kekeh Sagara.


Melihat tampang suaminya yang menyebalkan karna tersirat kemesuman disana membuat Aisyah gemas hingga ia menarik hidung mancung Sagara, dan itu sontak membuat Si tampan meringis menahan sakit.


"Bilang dong kalau pengen, jangan justru narik hidung aku biar nempel ke dada kamu," goda Sagara.


"Hey!"


Aisyah yang hanya menarik tak punya pikiran kemana-mana, hanya saja Sagara yang malah menjatuhkan wajahnya tepat di bukit kembar Sang istri. Tapi bukan Sagara namanya jika tak melayangkan modus yang berakhir dengan penyatuan tubuh. Itu sangat di maklumi karena mereka masih mendalami peran masing-masing dalam hal ini, seolah punya mainan baru keduanya begitusangat menikmati sensasi rasa yang luar biasa.

__ADS_1


Gelak tawa cukup menggema ke seisi kamar yang di balas jeritan kesal Aisyah karna terus di goda, ada saja yang di lalukan Sagara hingga setiap detik yang mereka lewati seakan penuh warna.


"Tidurlah, besok kita makam Mama ya, aku kangen."


"Tentu, besok akan ku adukan tingkah anaknya ini pada Mama!" sahut Aisyah yang kali ini ia yang justru tertawa senang.


"Dasar, Kang NGADU!"


.


.


.


Hari yang menyenangkan tetap dirasakan oleh Aisyah di rumah utama meski tak ada suaminya. Ia biarkan Sagara sibuk dengan aktifitas di sekolah karna ia pun sibuk mengasah keahliannya di dapur.


"Moy tetep jadi juri ya," kekeh Hujan saat ada dimeja makan.


Hujan lebih senang berlama-lama di ruang operasi di banding di dapur, pisau yang ia pegang pun tentu jauh berbeda dan semua Sangat memaklumi hal tersebut terutama Air yang tak banyak menuntut pada Sang Istri asal pelayananan di atas ranjang tetap menggairahkan.


"Kalau kurang enak bilang ya," kata Aisyah yang hatinya berdebar hebat karna ini sama sekali tak di bantu oleh siapa pun bahkan Amma hanya memberi petunjuk dari awal hingga akhir tampa turun tangan seperti biasa.


"Bikin lagi dong, tenang aja," jawab wanita bercadar itu yang tawanya hanya kekehan saja.


Ia yang akan pergi ke makam Almarhum mama mertua berniat makan siang bersama Sagara di luar dengan bekal yang di bawa, entah makan dimana ia sendiri pun belum tahu.


Sekalipun di dalam mobil rasanya tak masalah asal dengan orang yang tepat apapun terasa nikmat, itulah yang Aisyah tahu.


"Pisahkan untuk yang akan kamu bawa Aish, disini apapun pasti habis," pesan Amma karna apa yang mereka makan biasanya akan di bagi lagi kepada para pelayan, tak ada yang berbeda semua di perlakuan dengan baik sesuai porsinya masing-masing.


"Iya Amma, aku hanya bawa untukku dan Sagara saja."


Jika urusan masak mereka melakukan sendiri, tapi untuk bersih bersih hingga mencuci beberapa yang kotor pastilah di bantu, seperti kali ini.


"Terima kasih," ucap Aisyah saat dapur kembali bersih dan tertata rapih ke tempatnya masing-masing kecuali wajan warna warni milik Amma yang satupun tak ada yang berani memakainya kecuali Sang pemilik yang mengambilnya langsung dari rak kaca.

__ADS_1


Bukan hanya karna itu semua adalah kesayangan Nyonya besar Rahardian, tapi kebanyakan ia dapat dari hadiah suaminya yang di pesan langsung bahkan ada beberapa hanya wanita itu saja yang punya bentuk, ukuran dan yang terpenting warnanya yang sangat cantik-cantik.


"Sama sama, Nona. Apa ada yang perlu kami bantu kembali?"


"Tidak, ini sudah lebih dari cukup."


Semua yang sudah di siapkan ia taruh di atas meja, kini Aisyah tinggal membersihkan diri karena tak lama lagi Sagara pasti akan pulang dari sekolah dan karna sesuai rencana maka mereka akan langsung ke pemakaman nantinya.


.


.


.


Didalam kamar yang tak ada ruang ganti, Aisyah duduk di kursi meja rias. Ini memang bukan kamar utama keluarga jadi lebih seperti kamar tamu biasa karna Sagara jarang sekali menginap dan bisa tidur dimana pun ia mau.


CEKLEK


Tanpa menoleh, Aisyah sudah tahu siapa yang datang karna bayangan Sang suami nyatanya memantul di cermin yang kini ada di depannya.


"Udah cantik, mau secantik apalagi?" bisik Sagara, Sitampan yang masih memakai seragam sekolah itu tak hentinya memandang wajah Sang istri yang nyaris sempurna tersebut.


"Cantik saja tak cukup, karna itu akan memudar seiringnya waktu," balas Aisyah.


"Ya, kamu benar, dan beruntungnya aku mencintaimu bukan sekedar kamu cantik saja, Sayang."


"Yakin? aku tak percaya," ledek Aisyah sedikit menjulurkan lidahnya.


"Hey, aku jatuh cinta padamu jauh sebelum aku melihat wajahmu di balik cadar itu. Jadi, cintaku tak akan terkikis meski cantikmu hilang terganti dengan keriput," balas Sagara sambil tak kuat menahan tawa.


.


.


.

__ADS_1


.


Tenang, asal jatah Skincare aman ya Suami kecilku....


__ADS_2