
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Ceklek
Pintu di buka oleh Ibu yang khawatir dengan kondisi Sang Putri yang ia belum tahu apa penyebab Aisyah barusan menangis tersedu-sedu. Jika Sagara jelas karna ia terkena air panas, lalu Aisyah?"
"Nak, kamu kenapa, Sayang?" tanya Ibu, ia ikut duduk bersimpuh di lantai sama seperti anak bungsunya tersebut.
Aisyah yang masih terisak sedih hanya menggelengkan kepala, ia tenggelamkan wajah berantakannya yang penuh air mata di balik telapak tangan yang ia letakkan di atas lutut.
"Aish, tolong cerita pada Ibu, kamu kenapa? apa--, apa Sagara berbuat hal yang tak baik padamu?" desak Ibu, ia tentu bukan seorang malaikat yang tak punya pikiran pintas yang berujung dengan sebuah tuduhan, apalagi melihat anak perempuannya seperti ini, ibu manapun pasti akan ikut terluka dan takut.
"Tidak, Bu. Sagara tak salah, justru aku yang--," jawab Aisyah yang malah menghentikan ucapannya
"Yang apa?, kamu diapakan oleh Sagara?" sialnya Ibu malah terus dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"Aku yang bodoh, Bu. Aku lalai menjaga diriku sendiri!" rutuk Aisyah dengan nada bicara jengkel dan kesal.
Ya, ia yang tak punya pikiran apa-apa saat itu melenggang bebas keluar dari kamarnya. Sama seperti Sagara ia pun berpikiran jika pria itu sudah terlelap terbuai mimpi. Waktu yang sudah tengah malam tentu membuat Aisyah yakin jika tak ada siapapun yang masih berkeliaran di ruangan lain jika pun ada, itu pasti hanya ayah dan Ibu jadi tak masalah saat harus melihatnya polos tanpa penutup kepala.
Tapi, keyakinan itu terbantahkan saat ia baru saja ada di tangga paling ujung rumahnya di mana telinganya mendengar dengan jelas ada suara teriakan menahan sakit dari arah dapur.
Berhubung Aisyah datang dengan langkah santai jadi saat mendengar rintihan seperti itu justru membuat ia tak ingat apapun termasuk dirinya sendiri dan siapa yang sedang ia tolong saat itu.
Ibu yang paham dengan apa yang di rasakan oleh Aisyah langsung memeluk Putrinya sendiri dengan erat sambil di ciumi pucuk kepalanya. Aisyah yang mulai di biasakan memakai hijab sedari bayi oleh Ibu memang tak betah saat terlihat polos. Ia semakin memantapkan hatinya untuk benar-benar menutup aurat saat beranjak remaja, ketika itu ia habiskan waktu di PonPes tempat Bapak mengajar disana.
.
.
.
__ADS_1
"Bapak tak punya jawaban atas permintaan mu, Aisyah yang berhak menerima atau menolakmu, Nak. Bapak dan Ibu hanya punya doa restu jika kalian memang berjodoh nantinya,"
"Iya, Pak. Tapi Sagara tak enak hati melihat sikap Aisyah seperti tadi. Ia pasti tertekan karna Sagara sudah--," ucapnya sedih, harusnya ia membuang pandangan saat sadar Aisyah terbuka bukan justru malah menikmatinya hingga serasa waktu tak ingin cepat berlalu saking indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa.
"Iya, Bapak juga tahu dan bisa menebaknya. Nanti kita bicarakan lagi ya, kamu istirahat saja dulu," titah Bapak yang serba salah dan tentunya tak ingin gegabah sebab ini menyangkut masa depan putri bungsunya.
Tak ada keraguan dari dalam diri pria baya itu, karna sudah kenal Sagara dan juga keluarga besarnya, bukan karna mereka pernah bertemu dan berbincang satu kali tapi Bapak juga tahu dari cerita Pak Kyai tentang latar belakang keluarga konglomerat namun dermawan tersebut. Sikap Sagara pun sopan meski ada kekonyolan yang kadang terselip dari tingkahnya tapi itu sangat bisa di maklumi mengingat usianya masih belasan tahun.
Sagara yang kembali ke kamarnya melewati pintu kamar Aisyah yang tertutup rapat, ia tarik napas lalu di buangnya perlahan saat berdiri dengan kedua kaki yang terasa lemas tak bertulang.
Tak mungkin untuk masuk kedalamnya, jadi Sagara hanya diam menatap benda bercat coklat tersebut dengan tatapan sendu penuh rasa bersalah yang hebat.
.
.
__ADS_1
.
Maaf kalau aku maksa, pokoknya dari calon istri besok harus udah jadi istri...