
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
"Buuuun--," panggil Aga saat sudah ada dalam pelukan wanita pemegang tahta tertinggi dalam hidupnya tersebut.
"Apa, Bayi besarnya Ibun mau tanya apa, hem?" dengan penuh kasih sayang, menantu Pradipta tersebut mengusap kepala putranya, si pemilik pesawat ber moncong merah.
"Kapan Ibun mau ketemu sama temen Aga?" tanya Pemuda tampan itu.
"Loh, kok tanya Ibun? Rumah ini terbuka lebar pintunya untuk temanmu, Nak. Atau mau di luar? nanti Ibun bilang pada PanDa, kapan kita bisa bertemu ya," kata Ibun yang akhirnya sadar jika putranya sudah semakin tumbuh besar.
"Iya, nanti Aga tanya teman Aga ya."
"Siapa namanya?" tanya Ibun penasaran karna Aga selalu mengatakan Teman tanpa menyebut nama.
"Kalau Aga kasih tau, itu bukan kenalan namanya ih," jawabnya dengan tampang menggemaskan hingga Ibun tak kuat untuk tidak menciumnya.
"Ok, asal janji jika teman Aga itu wanita yang bisa membawa Aga ke hal yang positif karna dasarnya semua wanita itu baik ya, Nak."
Aga mengangguk paham, ia yakin jika Deeva tak akan mengecewakan Ibun, meski selalu di kelilingi para pria ia percaya jika Deeva bisa menjaga dirinya terutama kehormatan nya sebagai seorang wanita.
__ADS_1
.
.
.
Hal yang sama pun di utarakan Aga esok harinya setelah jam kuliah selesai. Ia dan Deeva janjian di parkiran motor seperti biasa. Sambil menunggu, Aga bermain game di ponsel sampai ia baru sadar ada sesuatu yang menggoda Indera penciuman nya.
"Deeva wangi banget sih, bikin Aga ngantuk," ucapnya saat menoleh sambil senyum senyum manja.
"Bukan pengen peluk?" cetus Deeva pura pura kecewa dengan ucapan Aga.
"Gak boleh meskipun pengen," jawabnya yang langsung menggeser duduk sedikit lebih jauh.
"Sini di peluk," goda gadis itu sambil tertawa namun di balas dengan cibiran oleh Aga yang kesal.
AgaSyah yang sudah beranjak dewasa tentu punya naluri kelelakian yang sayangnya harus ia tahan karna masih sadar dengan yang boleh atau tak boleh ia lakukan sebagai pria kepada wanita. Panutannya selama ini hanya PanDanya, ia tahu jika kedua orang tuanya itu menikah muda dan Ibun jauh lebih dewasa, tapi mereka bisa seimbang dalam menjalani rumah tangga dalam peran masing masing, dan itu juga yang kini tengah di alami oleh Aga, yang ternyata lebih nyaman bersama wanita yang juga lebih dewasa.
"Jangan suka nawarin, nanti kalau udah halal di ajakin malah kabur awas ya!" ancam Aga dengan memanyunkan bibirnya yang masih perawan.
__ADS_1
"Kapan di halalin nya, hem?"
"Ntar ih, nunggu Aga gede dulu," kekehnya saat menjawab karna Ibun selalu memanggilnya Bayi.
Keduanya terus bercanda seperti biasa, semakin lama Deeva semakin gencar menggoda hingga Aga akhirnya berdehem pelan untuk menetralkan perasannya yang kadang kesal, senang dan malu.
"Apa, bayi ganteng mau ngomong apa sih? kok serius banget?" tanya Deeva saat melihat Aga mulai diam seolah sedang menyusun kalimat per kalimat.
"Hem, main yuk ke rumah Aga, kenalan sama Ibun, PanDa juga kak SyahRaa," pintanya pada Deeva yang membuat gadis dewasa itu kaget.
Dari ekspresi wajah Aga, tentu teman tapi mesranya itu sangat serius dengan ajakan nya.
"Kamu-- serius? " tanya Deeva.
.
.
.
__ADS_1
Iya, pokok nya harus di gercepin...