
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Tak hanya Sagara, nyatanya Aisyah pun ikut makan bersama suaminya meski tak banyak tapi intinya itu cukup untuk sekedar menemani. Keduanya kembali bercerita termasuk tentang apa saja yang di lakukan Aisyah bersama dengan Mommy.
"Aku cuma ikutin aja, yang banyak banget belanja itu-- , itu, siapa ya? aku lupa, pokonya dia di panggil adek," ujar Aisyah.
"Onty ChaCha?" tebak Sagara.
"Nah iya itu." sebagai kesayangan keluarga, Cahaya memang masih di panggil adek terutama oleh Appa, Amma dan juga Mommy. Sudah dari sejak kecil ia dan Mommy yang sama-sama anak bungsu Rahardian seperti mendapat bisikan untuk bertugas menghabiskan uang orang-tua mereka yang nyatanya tak habis habis.
"Mereka beli sama kaya kamu juga?"
Deg..
Obrolan santai itu kini berubah membuat Aisyah salah tingkah, ia tak menyangka akan di todong pertanyaan seperti tadi seolah pria yang kini ada di sampingnya tahu apa yang beli barusan.
"Hem." hanya deheman yang di berikan Aisyah sebagai jawaban. Andai ia tak bercandar sudah bisa di pastikan suaminya tahu semerah apa kedua pipinya saat ini. Sebab untuk mengingat hal tersebut saja rasanya sangat malu.
__ADS_1
"Semoga bermanfaat ya," ledek Sagara dengan kekehan kecil.
Pemuda tampan itu tak akan salah menebak, isi otaknya sudah tersambung dari mulai tulisan merk di Paparbag hingga perginya Mommy dan Cahaya.
Aisyah yang mendengar hal tersebut hanya bisa membuang napas kasar, ia bukan wanita bodoh yang tak tahu apa saja manfat yang di belikan Momny untuk hadiah pernikahannya tersebut.
Sebab, itu tak pernah terbersit dalam pikiran Aisyah yang tak pernah macam-macam dalam meminta perihal jodoh. Cukup baik dan bertanggung jawab.
Tapi Tuhan justru memberinya paket komplit yang bukan hanya mendapat suami baik tapi juga keluarga besar yang teramat pengertian.
Usai makan, keduanya kembali masuk ke kamar untuk membersihkan diri masing-masing sebelum akhirnya menunaikan kewajiban bersama lagi sebagai sepasang suami-istri yang ingin sampai ke SurgaNya.
"Kalau sekarang belum, tapi gak tahu malam nanti, memang kenapa?" tanya balik Aisyah.
Bukan hanya suaminya yang kadang larut dalam kecantikan Sang istri jika sedang berdua saling duduk berhadapan, nyatanya Aisyah pun merasakan hal yang sama dimana ketampanan Sagara sering membuatnya tak fokus pada yang lain.
"Kita makan di luar aja, gimana?"
__ADS_1
"Kalau di rumah kenapa?"
"Pengen ngerasain pacaran aku tuh," jawab Sagara malu malu sambil menunduk dan itu sanggup membuat Aisyah kaget, wanita yang selalu melepas cadar di kamar itu hanya tahu tentang keluarga Sagara tapi ia tak tahu tentang kehidupan pribadi suaminya.
"Kenapa? kok liatin akunya gitu?" tanya Sagara.
"Hem, enggak. Kenapa pengen pacaran? memang udah lama jomblo?" goda Aisyah dengan senyum di ujung bibirnya, yang awalnya ia tak pernah penasaran dan tak ingin tahu nyatanya rasa itu kini meronta dalam diri Aisyah, dulu ia berpikiran jika Sagara akan sama seperti pemuda ibu kota lainnya yang sering gonta ganti pacar karna Aisyah juga tahu jika suaminya itu adalah ketauan Geng motor. Pergaulan bebas dan dunia malam adalah hal pastinya melekat dalam diri Sagara.
"Lama banget, makanya mau nyoba sama kamu nanti malam, mau ya?"
"Dari kapan Jomblonya, hem?" tanya Aisyah, ia takut hanya jadi pelampiasan rasa dari Sagara.
.
.
.
__ADS_1
Dari belum lahir...