Sagara

Sagara
Season 2


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


Libur semester adalah hal yang paling di benci oleh SyahRaa, karna dalam waktu panjang Christ akan sibuk dengan pekerjaannya yang bukan part time lagi tapi full time bahkan kadang is juga mengambil lemburan jika ada. Semakin hari biaya hidup pria itu semakin tinggi di penghujung masa kuliahnya, jadi SyahRaa benar benar tak bisa menuntut apa pun dari teman dekatnya tersebut.


Ya, hubungan mereka tetap baik hanya waktu bertemu saja yang terus berkurang, apa lagi jika jadwal kuliah yang tak sama, tentu SyahRaa pun mau tak mau mencari kesibukan yang lain sambil menunggu kabar dari pria tersebut.


"Udah malam begini, pesanku belum di balas," gumam SyahRaa yang meraba layar ponselnya sendiri.


Embun yang mendengar hal tersebut pun langsung menoleh, " Nungguin Christ?" tanya si buaya betina.


"Pesannya, bukan orangnya," jawab SyahRaa semakin uring uringan.


"Kasian loh sama mamas ganteng, Raa," kata Embun lagi mengingatkan, jika biasanya SyahRaa yang menginap di rumah utama, kini lain justru berbanding terbalik, sang Ratu Rahardian lah yang numpang tidur di kediaman Pradipta.


"Agam? kenapa? dia baik baik aja kok'," jawab SyahRaa, di tengah rasa galaunya merindu rasanya tak ingin membahas pria lain yang sama jauhnya.


"Kalian tuh di jodohin gak sih sebenernya? kok gemes ya! maju mundur maju mundur tar juga gak jadi semua." Embun yang tahu persis perjalanan cinta segi tiga sepupunya itu serasa ingin jadi hakim di antara mereka, tapi ia juga tahu bagaimana karakter SyahRaa yang kerasa kepala luar biasa.

__ADS_1


Gadis itu rela menahan betapa sakitnya bertahan pada sesuatu yang bukan lagi sulit di gapai melainkan tak bisa ia jangkau apapun pengorbanan yang sudah di lakukan.


"Yuk, putar balik, kamu nyasarnya udah kejauhan, Raa.. jangan terlalu menikmati jalanannya meski indah padahal kamu tahu kalau di ujung sana tuh jalan buntu kan? kamu tahu itu kan, Raa?" Embun bangun dari baringnya lalu merentangkan tangan.


Ia tahu, nona muda Pradipta kesayangan si pelakor baik hati itu pasti sedang butuh pelukan.


"Makasih ya, Ta Buy. Mungkin, cintaku akan habis di Christ semua. Untuk kedepannya aku pasrah jika jodohku memang bukan dia."


.


.


.


"Maaf, tadi ada perbaikan jalan, aku tak tahu lagi lewat jalan mana," ucap Agam saat SyahRaa sudah masuk kedalam mobilnya, ia menjemput gadis itu di depan sebuah toko buku yang sedang berlangsung sebuah pameran.


"Gak apa-apa, aku lapar," jawab SyahRaa yang langsung menyandarkan punggungnya ke kursi setelah memakai Seatbelt. Rasanya ia begitu lelah karna sehabis berkeliling tapi yang ia cari justru tak ada.

__ADS_1


Agam langsung melajukan mobilnya menuju salah satu restoran yang paling dekat sebab tak ingin gadis kesayangan sampai merasa terlalu lapar. Tak ada sepatah dua patah kata pun terlontar dari mulut mereka hingga suasana terasa begitu hening sampai mereka sampai di tujuan.


Tak ada firasat apapun, SyahRaa turun dan berjalan satu langkah di depan Agam. Ia memilih meja yang hanya ada dua kursi yang saling berhadapan dekat kaca, setidaknya ada yang ia lihat kecuali wajah Agam yang tak ia Pungkiri sama tampannya.


"Ramai banget, Ra , apa di tempat lain aja? kamu sudah lapar kan?" tawar Agam.


"Gak perlu, pesan saja makananya sekarang."


Agam pun mengedarkan pandangan untuk mencari pelayan, dan ia bisa bernapas lega sambil mengangkat tangan saat ada satu pelayanan yang juga melihat ke arahnya lalu dengan sigap menghampiri ia dan SyahRaa.


.


.


.


"Selamat sore, selamat datang di--,"

__ADS_1


__ADS_2