
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Cek lek
Sagara yang baru pulang dari urusan mendadak nya ternyata sampai rumah di waktu hampir larut malam, ia langsung membersihkan tubuhnya yang lelah dan setelah itu naik ke ranjang tempat dimana istrinya sedang meringkuk dibawah selimut.
Ia memang meminta Aisyah untuk tidak menunggu karna belum jelas kapan bisa sampai di rumah, dan terbukti jika wanita dua anak itu kini sedang terlelap.
Sagara memeluk ibu si kembar dari belakang, tak terlalu erat namun sangat menghangatkan keduanya, ia yang baru saja ingin terbuai mimpi langsung mengerjap saat merasakan pergerakan.
"Mas, susah pulang?" tanya Aisyah sambil mencoba memutar tubuhnya yang ada dalam dekapan sang suami.
"Hem, maaf ya, aku terlambat pulang," ucap Sagara yang penuh sesal karna sudah melewatkan sarapan dan makan malam bersama anak dan istrinya hari ini.
"Tak apa, asalkan tetap pulang tak masalah jika terlambat asal jangan terlalu sering ya," jawab Aisyah yang semakin nyaman dalam pelukan pria yang sudah memberinya dua anak yang menggemaskan meski tak jarang menjengkelkan hingga harus menguras rasa sabarnya.
"Bagaimana harimu tadi? anak-anak bikin kamu nangis lagi gak?" goda Sagara padahal istrinya itu mantan guru taman kanak-kanak tapi jika mengurus anak sendiri nyatanya jauh berbeda uji sabarnya.
"Enggak, SyahRaa aja tadi gak mau pulang karna masih mau main dengan Embun. Dan Aga--," jawab Aisyah yang sedikit menarik napas.
"Nangisin Bum Bum lagi," lanjutnya yang membuat Sagara tertawa.
__ADS_1
Sudah bukan sekali dua kali, jadi wajar jika Sagara tak kaget mendengar hal tersebut, siapa sangka jika jagoannya akan bisa menjahili bos kecil Rahardian Wijaya.
"Akunya gak enak loh takut Biru, MiMoy dan Amma marah.".
" Gak mungkin, kamu tenang aja. Nanti biar aku yang bicara sama Aga ya, kita tidur sekarang."
Aisyah mengangguk, keduanya sama-sama saling mengeratkan pelukan hingga tak lama langsung terbuai di alam mimpi.
.
.
.
Tak seperti kemarin, Sagara berangkat di waktu si kembar masih tidur tapi untuk hari ini, keluar kecil nan bahagia tersebut sudah berkumpul di meja makan.
"PanDa nda kelja?" tanya SyahRaa yang paling manja, ia duduk dan tak mau turun dari pangkuan Sagara dengan alasan rindu.
"PanDa berangkat siang, kemarin kan seharian gak main sama kakak juga adek." Sagara yang gemas terus menciumi pipi si sulung.
"Malen kabul ya?" tanya Aga yang masih mengunyah makanannya, ia paling lama jika dalam urusan makan. Tak jarang membuat bosan yang menemani nya.
__ADS_1
"PanDa atau Aga yang kabur?" sindir Sagara, yang tadi pagi di ceritakan lagi oleh Aisyah bagaimana bocah tampan itu berlari dari kamar Appa sambil meledek Rain.
"Engga, Aga nda Abul, capa Abul?" ucapnya balik bertanya tanpa ada rasa bersalah apalagi berdosa karna sudah membuat Rain murka.
"Aga, kalau ada Bum Bum jangan bertengkar, bisa? baik baik ya, kan kalian ini semua saudara. Harus saling sayang," pesan Sagara.
"Nda banteeeeeeem, PanDa," jelas Aga masih dengan sikap santainya.
"Terus apa?"
"Aga biyang, Bum Jiyek kaya ucingnya yang nda nyebul nyebul tuuuuuuh, " jawabnya jujur dengan apa yang Aga lontarkan kemarin pada Si Bos kecil.
"Gak boleh bicara seperti itu lagi ya, Aga." tegas Aisyah yang ikut menasehati.
.
.
.
Teyus biyang apa?, Bum bau aja, buleh?
__ADS_1