Sagara

Sagara
Part 27


__ADS_3

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂


"Hallo, Hallo--, Assalamu'alaikum, baiklah saya akan tutup kembali panggilan ini," ucap Aisyah sambil menahan rasa kesalnya.


"Waalaikumsalam salam, Aish," jawab Sagara, apa yang dikatakannya barusan sebagai calon menantu Bapak tentu hanya kekonyolan hatinya saja.


"Dengan--, siapa ya?"


"Aku, Sagara," sahut Si pemuda tampan seraya mengulum senyum.


"Sagara? ah iya, Aurora meminta izin untuk memberikan nomerku padamu, bukan begitu?" tanya Aisyah.


Sagara menganggukkan kepala seolah gadis cantik itu ada di depannya. Mereka kembali terdiam karna memang Sagara tak punya bahan obrolan dengan Aisyah.


"Sagara, ada apa? ada yang ingin kamu sampaikan?" tanya Aisyah memulai obrolan.


"Akhir pekan nanti aku kesana, tunggu aku dan jangan kemana mana," sahut Sagara yang tentunya itu di luar rencananya.


"Oh iya, biar nanti aku bilang Bapak dan Ibu, tapi Mas Fatih sedang tak ada," jelas Aisyah.


"Tak apa, asal kamu ada."


Jika keduanya saling berhadapan sudah bisa di pastikan Aisyah pasti akan langsung menundukkan pandangan, bagaimana pun ia adalah wanita normal yang punya rasa malu.

__ADS_1


"Sepertinya aku tak akan tak akan kemana mana, disini sudah mulai musim hujan jika siang menuju sore," kata Aisyah lagi.


"Ya sudah, kalau begitu aku akan berangkat dari sini pagi-pagi sekali agar bisa sarapan dengan kalian, bagaimana?"


"Terserah padamu, tapi jika benar begitu aku dan Ibu akan menyiapkan sarapan pagi lebih untukmu."


"Hem, iya. Ya sudah, nanti aku telepon lagi ya, aku mau pulang dulu," ujar Sagara, entah kenapa saat sedang bersama Aisyah bayangan papanya pun ikut terlintas di pelupuk matanya.


"Memang kamu dimana?" tanya Aisyah.


"Dirumah Appa, percuma ku ceritakan pun kamu tak akan paham, Aish," jawab Sagara sambil tertawa tanda ini sedang meledek gadis bercadar di seberang sana.


" Iya, keluargamu banyak, begitu kan maksudmu?"


Obrolan pun berakhir dengan ucapan salam dari Aisyah dan balas oleh Sagara. Ia tak langsung mematikan ponselnya dan malah membiarkannya begitu saja.


"Akhirnya, aku bisa sering sering mendengar suaramu," ucap Sagara seraya mengusap layar ponselnya yang kini sudah mati.


Ia yang berniat untuk pulang seperti apa yang di katakannya barusan pada Aisyah, langsung memutar tubuhnya untuk masuk kedalam kamar Samudera karna posisinya memang ada di balkon kamar Sang putra mahkota Rahardian.


"Astaghfirullah!" pekik Sagara yang kaget saat melihat ada tiga pria di depannya kini setelah entah sejak kapan ada di belakangnya.


"Jiah, laganya inget Tuhan," ledek Gala.

__ADS_1


"Ingetlah, kan calon istrinya sekarang bidadari surga," jawab Sagara dengan sangat sangat pecaya diri.


Oooeeeekkkkk


"Sekolah yang bener, malah mikirin calon istri," cibir Awan yang ia sendiri saja belum punya bayangan bagaiamana jodohnya kelak saat itu.


"Bentar lagi juga lulus, kenapa? sirik aja!" balas Sagara sambil menjulurkan lidahnya.


"Jiah, sirik dia bilang? heh, jodoh gue nih dari masih perut gue udah tahu," sahut Gala tak mau kalah dengan sepupunya dari keluarga Pradipta tersebut.


"Bener tuh, sekolah dulu yang harus kamu utamain Saga. Jangan dulu mikirin calon istri emang dia mau kalau kamu jadi calon suaminya?" tanya Samudera dengan tangan melipat di dada.


"Harus mau lah," sahut Sagara.


"Cih, pemaksaan!" ledek Awan.


.


.


.


Bodo... pokonya abis ujian harus ke KUA...

__ADS_1


__ADS_2