
( Tolong ya, kalau bab panjang itu di baca pelan pelan biar gak ada salah paham lagi, emang buru buru mau kemana?😩 biar nanti kalau mau marah marah itu di tempat yang benar dan tepat sasaran 🤣)
Papa Zico yang ada dirumah memang baru saja sampai di ibu kota, ia langsung pulang saat mendapat kabar Sang putra sedang mendapat sebuah masalah. Awalnya di kira semua seperti biasa tapi ternyata ini luar biasa yang mungkin akan mengancam rumah tangga Sagara nantinya, hingga tak ada alasan lagi bagi Zico untuk tak langsung pulang saat itu juga.
Dan benar saja, Sagara yang terkulai lemas di tengah tangga membuat siapapun yang melihatnya pasti tak tega. Sedangkan Zico hanya bisa menarik napas dalam-dalam melihat Sagara dengan mata kepalanya sendiri seperti orang yang hilang arah.
"Jika mamamu masih ada, Ia pasti akan marah besar pada Papa," ucap lirih Zico yang sudah kembali ke kamarnya.
Di letakkannya lagi sebuah figura yang disana terdapat foto mendiang Sang istri yang sudah tiga tahun pergi meninggalkannya.
Sedangkan ponsel yang berada di saku celana bergetar hingga Zico langsung merogohnya untuk meraih Si benda pipih tersebut.
"Iya, kenapa?" tanya langsung Zico tanpa basa basi saat mengangkat telepon dari Air Rameza Rahardian Wijaya yang tak lain adalah kakak sepupunya sendiri.
"Mau kesini gak? Mau di apain nih?" tanya Air sambil terkekeh.
"Jangan di apa apain dulu sebelum Sagara bicara dengannya, biarkan ini jadi urusan mereka bertiga nanti," Pesan Zico sambil membuang napas kasar.
"Wokeh, buruan dah, ngantuk nih."
"Cih, dasar Buaya!"
"Masih Alhamdulillah Buaya, dari pada DuDa GaMon," Balas Air tak mau kalah.
Tuuuuuuuut.
Panggilan pun di putus oleh Zico, selama ini mereka semua memang sangat mengandalkan pasukan Gajah. Entah apa yang akan terjadi jika tak ada mereka semua yang selalu mengawasi dengan sangat rapih dan cepat.
Zico yang pergi dari rumahnya langsung menuju salah satu tempat yang alamatnya sudah dikirim oleh Air, sebuah bangunan berlantai dua yang jika dari luar nampak biasa tapi jika sudah masuk ke dalam bisa membuat orang mengusap dada.
Pintu besi di buka oleh seseorang yang entah siapa, badannya tinggi besar dengan kaca mata bertengger di batang hidung yang mancung layaknya perosotan di sekolah taman kanak-kanak.
"Tuan Air sudah menuggu, mari saya antar," ucap seseorang lagi yang entah datang dari mana.
Zico pun berjalan di belakang orang tersebut, sampai akhirnya mereka masuk kedalam salah satu ruangan yang pintunya kembali di buka.
Disana, tatapan mata Zico terarah ke seorang gadis yang kini sedang terisak, badannya lusuh dan lemas karna sejak semalam ia ada disini tanpa makan apapun.
"Tata--," panggil Zico pada Si gadis yang tak lain itu adalah sahabat putranya sendiri dari awal masuk SMA hingga kini lulus dari sekolah tersebut.
"Maaf--, maafin Tata ya, Om."
"Kamu sudah ngaku salah? Kenapa lakuin ini ke Sagara, hem?" tanya Zico yang teramat penasaran dengan Alasan Tata.
Ya, Tata. Seorang gadis manis dan cantik yang semalam di ringkus oleh pasukan Gajah. Selama Sagara berada di Club tentu ia sudah di awasi meski entah orangnya yang mana. Semua nampak biasa dan tak ada yang patut di curigai karna ini bukan yang yang pertama untuk Sagara.
Ia memang sering keluar masuk tempat tersebut untuk menghilangkan rasa sepi dan jenuh di rumah. Tapi Sagara cukup duduk di meja Bar seorang diri meski kadang ia datang bersama dengan Marcel, Bian dan teman yang lain. Seperti malam itu, ia yang menghadiri acara perpisahan teman-temannya masih asik mengobrol dengan Bartender yang sibuk membuat minuman, tapi tak sekalipun Sagara ingin mencicipi karna ia tahu itu tak bagus untuk tubuhnya sendiri. Cukup nakalnya sebatas tawuran, bolos, balapan hingga bertengkar tapi untuk yang lain ia akan berpikir ribuan kai terlebih kini Mamanya sudah tak ada.
Setelah Rama pergi, datang sosok Tata yang tak asing bagi pasukan Gajah maka itu semua masih di pantau masih dari kejauhan.
Gelak tawa, obrolan tanpa sentuhan fisik masih beberapa menit dilakukan keduanya bahkan saat Sagara menegak hampir habis minuman yang di berikan oleh Tata.
Tak lama setelahnya mereka keluar dari Club dan langsung menuju mobil putih milik Sagara. Pasukan gajah yang bersiap untuk mengikuti mobil pun tetap standby di tempat. Tapi, nyatanya mobil Tuan Muda Pradipta tersebut tak kunjung jalan padahal kala itu keadaan mesin sudah menyala.
Menunggu kurang lebih 60 menit Tata keluar dari mobil Sagara dan kembali masuk kedalam Club tapi hanya hitungan detik, dan di waktu yang tak banyak itulah pasukan Gajah mencoba untuk mengecek keadaan Sagara termasuk meringkus Tata.
.
.
.
Di dalam ruangan, kini satu persatu datang termasuk Daddy Ricko dan Appa Reza, dua pria itu juga kaget dengan yang terjadi pada Sagara sebab kini semua laporan jatuh pada Si sulung dan iya yang akan memilih dan memilah mana yang harus Papanya juga berhak tahu.
"Tata benci Saga? Tata mau bales dendam sama Saga?" tanya Daddy Ricko yang tersirat kekecewaan di matanya karna jika saja cucunya itu tak menikah dengan Aisyah lebih dulu ingin rasanya ia menjodohka Sagara dan Tata.
"Enggak, Daddy. Tata cuma iseng. Tata gak ngapa ngapain Saga," Jelasnya sambil menangis lagi.
Daddy Ricko membuang napas kasar, ia benar-benar khawatir dengan rumah tangga Sagara sekarang, ia juga memikirkan nasib Aisyah dan orang tuanya di kampung jika tahu anak perempuannya disini sedang di terpa masalah.
"Jangan cerita pada Meera, bisa habis Tata di cincang olehnya nanti," bisik Appa Reza yang tahu bagaimana sifat adiknya, ia juga bisa menebak reaksi wanita itu jika tahu hal ini.
Sebab, yang di rasakan oleh keluarga bukan marah pada Tata tapi lebih ke kecewa, apalagi ia tak tahu dengan status Sagara yang sudah beristiri selama beberapa bulan ini.
"Sagara dan Aish yang kemari, atau Tata yang kerumah?" tanya Zico pada ketiga pria di dekatnya tersebut.
"Tata aja yang bawa kerumah, takutnya Aisyah gak mau kalau kesini," jawab Daddy Ricko. Tak perduli sekuat apa imannya, jika menyangkut cemburu ia akan bertingkah seperti orang bodoh.
"Baiklah, kita bawa Tata sekarang. Lebih cepat lebih baik karna jangan sampai masalah ini berlarut lebih lama," timpal Appa Reza.
Otaknya justru kini sedang berpikir siapa yang akan mendampingi Aisyah, karna untuk istrinya, ia tak tega memberi beban berat seperti ini, karna Khumairahnya sudah sejak lama mengidap penyakit Hipertensi yang jika sudah kambuh akan membuat panik semua isi rumah.
*
*
*
Tata yang di bawa kerumah Papa Zico tentu tak memberi tahu Sagara dan Aisyah, biarkan saja gadis itu sendiri yang akan mengakui salah dan khilafnya di depan sepasang suami-istri yang kini sedang di beri ujian rumah tangga.
Dan itu sebenarnya sangat wajar untuk menilai kadar cinta dan luas sabar mereka yang baru menikah dalam hitungan bulan tersebut yang tak semua tak selalu harus manis dan indah.
"Ayo turun, kamu harus mempertanggung jawabkan sikapmu. Disini banyak yang sudah kamu rugikan," titah Papa Zico, banyak pekerjaan yang ia tinggalkan demi menyelesaikan permasalahan rumah tangga putra tunggalnya.
"Iya, Om. Tapi--kalau Sagara Ngamuk, Om tolong belain aku ya," mohon Tata yang tahu bagaimana sifat temannya itu jika sudah marah, kecewa dan di usik ketenangannya.
"Tergantung," timpal Air.
__ADS_1
Tata masuk ke dalam bangunan mewah tersebut bersama 4 pria yang sangat berpengaruh di dunia bisnis. Si paling kaya raya, sukses dan pastinya baik hati. Wanita mana pun pasti akan bahagia jika sudah menjadi pawang para keturunan mereka yang hanya punya satu pusat dunia yaitu pasangannya sendiri.
"Kamu tunggu disini, biar Om panggilan Sagara dulu," pamit Zico saat mereka semua ada di ruang tengah lantai dua yang jauh lebih privat tak seperti yang di lantai bawah, Zico harap semua bisa di selesaikan secara kekeluargaan.
Tok.. Tok.. Tok..
Berkali-kali Zico mengetuk pintu akhir nya benda bercat coklat itu terbuka, dan sebenarnya itu sangat di maklumi karna Mommy pernah bilang jika Sang menantu akan melepas Cadarnya jika berada di dalam kamar.
"Iya, Pah, ada apa?" tanya Aisyah yang tak pernah berani beradu mata dengan Papa mertuanya tersebut.
"Ada tamu untuk kalian di ruang tengah sini, katakan itu pada Sagara ya, kalian harus menemuinya," jawab Papa Zico.
"Tamu? tamu siapa?" tanya Aisyah bingung, jika itu untuk Sagara ia tak akan seaneh ini tentunya.
"Lihat saja nanti, memang Sagara sedang apa?" tanya Papa Zico.
Aisyah tak berani menjawab, ia hanya sedikit menggeser posisi duduknya agar pria paruh baya itu bisa melihat sendiri keadaan putranya itu di dalam kamar. Dan orang tua mana pun akan sedih hingga serasa hatinya mencelos ketika anak satu-satunya itu kini tengah meringkuk lemas.
"Ya sudah, Papa tunggu ya."
"Iya, Pah. Aish bangunkan Sagara lebih dulu," jawabnya yang kemudian menutup kembali pintu kamar setelah Papa mertuanya sudah pergi beberapa langkah.
Aisyah yang kembali masuk kedalam kamar langsung menyampaikan apa yang di katakan Sang Tuan Pradipta perihal tamu untuk mereka berdua yang menurut Aisyah ini tetap aneh karena ia tahu jika Status nya dan status pernikahan mereka masih di sembunyikan dengan kesepakatan bersama selama ini .
"Saga, ada tamu," ujar Aisyah yang kembali duduk di tepi ranjang.
Berjam jam berada di satu kamar yang sama nyatanya tak membuat semua jauh lebih baik.
"Aku tak ingin bertemu dengan siapa pun, aku cuma mau kamu," jawab Sagara lirih sembari meraih tangan istrinya.
"Kita temui sama sama. Itu tamu untuk kita berdua," sahut Aisyah lagi.
"Siapa? Kamu gak lagi buat keputusan sepihak kan, Sayang?" tanya Sagara, meski lemas tapi ia mencoba untuk bangun.
"Aku tunggu pembuktian darimu dulu, seperti apa akhirnya nanti kita pikirkan lagi," sahutnya yang masih meraba cinta dan lukanya yang kini berada di satu tempat yang sama yaitu HATI.
"Sayang--," Panggil Sagara yang belum juga mendapat senyum dari istrinya meski itu hanya sebuah pemaksaan.
"Ayo, kita sudah di tunggu," ajak Aisyah lagi sembari wanita itu bangun dari duduknya lalu membantu Sagara juga karna suaminya benar-benar lemas bagai tak bertulang.
Dengan langkah gontai, Sagara dan Aisyah keluar dari kamar menuju ruang tengah dimana Papanya itu tadi menunggu. Dan betapa terkejutnya pasangaj tersebut saat melihat tak hanya Papa yang disana melainkan ada Daddy Ricko, Appa Reza dan Uncle Air serta satu lagi yang tak kalah mengejutkan yaitu Tata.
"Ada apa ini? lo ngapain, Ta?" tanya Sagara aneh begitu pula dengan Aisyah. Meski tak pernah bertemu tapi Aisyah tahu jika gadis itu adalah sahabat suaminya.
"Ta, lo jawab gue dong, lo ngapain kesini sama mereka?" sentak Sagara, ia tentu masih ingat sulitnya menghubungi Tata saat dikosan Marcel pagi tadi
"Gue kesini mau minta maaf," jawab Tata sambil menundukkan dalam dalam pandangannya.
"Maaf, untuk apa?" tanya Aisyah yang perasaannya tak enak.
"Bukan! Ini bukan suara Olla," bathin Tata yang semakin menumpahkan air mata sesalnya.
"Maaf apa sih? Lo bikin salah apa ke gue, hah?" Sagara benar-benar menaikan nada bicaranya saking ia tak ingin apa yang sedang ada di otaknya sama dengan apa yang di tuturkan Tata.
Daddy, Appa, Papa dan Uncle pun sedikit menepi. Mereka takut Tata akan malu menjelaskan kesalahannya sebab ini adalah sebuah Aib bagi seseorang wanita.
"Gue, gue yang udah masukkin obat perangsang itu ke minuman yang lo minum, Saga! gue cuma pura pura minta lo bukain."
Deg...
Tak hanya Sagara yang kaget tapi juga Aisyah, wanita itu kelimpungan sendiri sampai harus di tangkap oleh suaminya karna posisi mereka memang masih berdiri di ruang tengah.
"Sayang--, kamu gak apa-apa? Kita ke kamar ya," ajak Sagara pada istrinya
"Aku mau disini, aku mau dengar semua akan di katakan oleh temanmu itu, dia temanmu kan?" tolak Aisyah yang memilih bertahan. Kurang puas rasanya jika hanya sekedar di ceritakan saja tanpa mendengar langsung sebab akan ada kurang lebihnya saat penyampaian nanti.
Aisyah pun lekas di bawa ke sofa oleh Sagara, karna hanya terlalu kaget ia sampai tak ingat istrinya yang mungkin belum siap menerima segala kenyataan yang kini ada depan mata.
Kini, kedua manik mata Sagara kembali nyalang kearah Tata, yang terakhir dengannya memang gadis tersebut tapi ia tak menyangka jika Tata akan seberani itu.
"Lo temen gue, Ta!" Teriak Sagara tak perduli disana ada siapa karna ia benar-benar marah kali ini, jika saja Tata seorang pria ia pasti mati di tangan Sagara tanpa ampun.
"Tapi aku suka kamu dari dulu, sayangnya aku lebih dari sayangnya kamu ke aku, atau Marcel dan juga Bian. Aku cinta kamu," ujarnya sambit terisak.
Pernah ada pikiran itu dalam benak Sagara beberapa waktu lalu saat Tata menaruh perhatian dan sering merajuk tak jelas tapi semua di tepis Sagara sebab ia yakin mereka murni berteman tanpa ada rasa lain selain sayangnya seorang sahabat.
Tapi, kali ini Sagara mendengarnya sendiri langsung dari orangnya, satu-satunya wanita yang paling dekat dengan Sagara selama tiga tahun.
"Ini bukan cinta, lo jahat!"
"Aku, aku kamu bilang jahat? Terus selama ini kamu apa? Kamu sembunyiin wanita itu dari aku, dari kita semua, Ga!" Sentak Tata yang kini nada bicaranya semakin tinggi seolah ia ingin Sagara sadar betapa marah dan kecewanya ia sekarang.
"Kamu bohongin kita, kamu selalu bilang gak punya pacar," Sindir nya lagi dengan kedua mata tajam kearah Aisyah.
"Lah, emang gue gak punya pacar! Sejak kapan gue pacaran?" tanya balik Sagara yang masih keukeh perihal ini.
"Terus dia siapa, Ga?!"
"Dia istri gue, mau apa lo? Gue emang sengaja nutupin ini semua dari kalian karna ini terlalu Privasi buat gue. Lo tau kan, kalau ada yang emang harus kalian tahu dan mana yang harus gue simpen sendiri," Tegas Sagara.
"Tapi kamu bikin aku Frustasi, aku cari tahu tentang kamu tapi semua akses untuk itu seakan tertutup. Aku yang pernah dua kali gak sengaja liat kalian tapi aku pikir dia itu Olla," ungkap Tata sambil memukul dadanya sendiri.
Sagara yang liar di luar, sering balap motor, tawuran hingga terlibat perkelahian siapa yang akan menjamin orang lain tak menaruh dendam padanya, hingga penjaggaan rumah memang semakin di perketat apalagi kini ia punya sebuah berlian. Sagara tak pernah lagi mengizinkan siapapun masuk jika ia tak ada di rumah dan itu tentu sudah mendapat persetujuan dari papanya juga. Di titipi anak perempuan yang orang tuanya begitu sayang tentu beban tersendiri juga bagi Zico yang sudah berjanji pada Sang besan sebelum membawa Aisyah yang kini jadi menantunya.
"Siapapun yang bersamaku bukan urusanmu. Lalu, untuk apa kamu memberikan obat perangsang itu, hah?" tanya Sagara dengan perasaan dongkol dalam dadanya.
"Aku-- aku ingin bersamamu sebentar," jawabnya lirih yang kini kembali menunduuk.
__ADS_1
Sagara menoleh kearah Aisyah yang duduk di sampingnya, ia tahu wanita itu kini sedang menangis, maka Sagara langsung menarik tubuh Aisyah untuk ia peluk, beruntungnya tak ada penolakan karna mungkin memang Aisyah benar-benar lemas saat ini.
"Kamu dengar kan, Sayang?" bisik Sagara yang juga langsung menciumi pucuk kepala Sang istri.
Kini, giliran Appa yang angkat bicara, tak mudah bagi Aisyah yang harus tahu jika suaminya pernah di sentuh wanita lain, begitu pula Sagara yang harus berjuang mati-matian menyembuhkan luka Sang istri. Sedangkan Tata, bukan lagi kehilangan cinta tapi juga Sahabat. Mereka punya luka masing-masing yang pastinya sulit untuk di sembuhkan.
Di usia yang masih sangat muda memang banyak hal seolah menantang untuk di coba, emosi yang labil dan pikiran pendek yang jarang sekali di pikir lagi baik buruknya membuat para pemuda salah mengambil jalan hingga terjerumus jauh kedalam masalah. .
.
.
.
Tata yang berulang kali minta maaf pada Sagara mau pun Aisyah tak digubris pasangan itu sama sekali. Bagi saga ini adalah sakit yang berkali lipat rasanya dan ia sulit untuk berpikir jernih sekarang, hingga ia lebih memutuskan untuk membawa Aisyah kembali ke kamar.
"Aku tak akan kemana-mana malam ini, semua sudah kamu dengar sendiri kan? Aku tak mabuk, Aish." Sagara yang terus menjelaskan ingin sekali istrinya bicara walau satu kata.
"Mau maafin aku' kan?"
"Tanda itu selalu ada di mataku, aku tak bisa Terima suamiku di cumbu wanita lain dengan sadar dan di sengaja bahkan di rencana kan," ungkapnya yang ingin sekali ingat semalam lepas dari otaknya.
"Lalu aku harus apa untuk menghukumnya? Karna untuk tak lagi berteman dengannya, tanpa kamu pinta aku akan lakukan," tekad Sagara.
"Aku akan hapus tanda SialAn ini, aku pun tak sudi ini ada di tubuhku."
Sagara bangun dari duduknya, ia masuk kedalam kamar mandi lalu membuka kemeja yang ia kenakan kemudian di buangnya asal.
Dengan perasaan marah besar, ia berani kan diri untuk melihat kearah dada dan leher dimana tanda haram itu ada lewat pantulan cermin. Dengan sikat kecil Sagara kini terus menggosok tubuhnya itu hingga merah dan akhirnya terluka, rasa sakit tak ia hiraukan yang penting semua menghilang dari tubuhnya.
Cek lek
Aisyah yang takut terjadi apa apa pun segera menyusul dan benar saja jika Sang suami sedang menahan sakit di dadanya.
"Saga! Kamu gak harus kaya gini, kamu melukai dirimu sendiri, ini sakit." Aisyah merebut sikat di tangan suaminya lalu membuang asal.
"Aku gak mau kamu jadi sediih terus saat lihat ini, aku jijik sama diriku sendiri," ujar Sagara saat tangannya di tarik keluar dari kamar mandi.
Aisyah yang kembali menitikan air mata mengobati luka Sagara dengan cepat. Ia tahu rasanya pasti akan perih sekali hingga ia biarkan saja Pria itu mejerit menahah sakit.
"Nanti juga hilang, biarkan saja."
"Mau butuh berapa lama hilang sendiri? Satu hari melihat mu terus menerus menangis saja sudah membuat gila."
"Kamu bisa menutupi nya nanti, atau bisa memakai baju yang berkerah. Apapun bisa kamu lakukan asal jangan menyakiti dirimu sendiri lagi seperti ini," ucap Aisyah yang ikut Frustasi sebab ia benar-benar tak bisa melihat tanda itu yang masih jelas di depan matanya.
Mungkin benar yang dikatakan Marcel pagi tadi jika yang membuat pasti orang baru atau amatiran sebab terbukti bentuknya besar seperti gigitan serangga dan itu sangat menganggu siapapun yang melihatnya dengan cara di sengaja ataupun tidak.
Berbeda dengan Aisyah pastinya, ia tak perduli dan protes saat Sang suami membuat tanda itu sebanyak atau sebesar apapun, bukan hanya perkara halal tapi juga pakaian yang di kenakan Aisyah pastinya tertutup rapih jadi cukup ia dan suaminya saja yang tahu.
Dan akhirnya Sagara menuruti semua yang di ucapkan Aisyah, hanya sekali saja wanita itu ikut mengobati karna selebihnya ia tak mau lagi.
"Sayang, tidur denganku ya," mohon Sagara saat Aisyah baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah usai keramas dan itu pertanda jika ia sudah bersih dari segala hal yang membuat ia tak bebas melakukan apapun termasuk melayani suaminya yang TIGA HARI kemarin sempat merajuk manja, karna untuk SATU BULAN tak MEMBERI JATAH itu tak pernah sama sekali Aisyah lakukan, lagi pula ia bukan wanita bodoh yang bisa melakukan hal tersebut pada suami tampannya.
Mendengar permintaan Sagara, Aisyah awalnya menarik napas dan di buangnya perlahan. Tapi ia tak punya alasan untuk menolak jadinya Aisyah tetap akan tinggal di kamar suaminya, tak seperti kemarin yang harus menghindar ke kamar lain yang ada di pojokan lantai atas.
.
.
.
"Aku nanti gak mau datang ke acara kelulusan, biar Papa, Daddy, atau Mommy yang datang ke sekolah," ujar Sagara tiba-tiba dengan posisi menyamping.
Aisyah yang terlentang sambil melihat ke arah langit langit kamar pun menoleh.
"Kenapa?" tanyanya kemudian sembari menoleh.
"Aku gak mau pergi tanpa kamu lagi, kalau kamu ikut ya, ayo."
Sagara seolah punya traumanya sendiri kali ini, ia takut benar-benar takut kejadian serupa terulang lagi. Sagara bukan takut ia terluka justru ia yang takut melukai hati istrinya lagi melalui dirinya.
Jika orang yang di anggap nya baik saja bisa berlaku kurang ajar, lalu bagaimana yang memang punya dendam padanya?
"Aku tak percaya pada orang luar lagi, aku cukup punya kamu, Aisyah Nura."
"Jangan begitu, anggap saja nanti ini adalah sebuah pelajaran. Hati-hati lah mulai dari sekarang," ucap Aisyah.
Ia tersenyum kecil saat hal yang sama pun di lakukan Sagara padanya, ia terlalu tampan memang untuk di abaikan.
"Nanti, saat bertemu lagi dengan masalah, kita harus ingat hari ini ya, Sayang" Sagara langsung meraih tangan istrinya yang berada di atas perut yang masih rata tersebut.
"Hem, kenapa lagi?"
"Hari ini begitu berat bagiku, jika sekarang saja kita mampu bertahan aku harap di hari hari selanjutnya pun sama, dewasa memang bukan tentang umur, tapi jangan ragukan sikapku yang ingin mencintaimu cukup sekali seumur hidupku."
Aisyah bukan lagi tersenyum gemas melainkan tertawa kecil.
"Kenapa? Ada yang lucu?" Tanya Sagara sambil mengerucut kan bibirnya yang alhamdulillah masih Sang istri yang merasakan manisnya, karna Tata sudah bersumpah tak lebih dari leher dan Dada saja.
"Dulu, seumur kamu aku pusing mikirin untuk ujian masuk universitas tapi kamu malah sibuk merayu terus," Cetus Aisyah sedikit mencibir, Sagara memang sesantai itu selama ini.
"Siapa bilang? Ini aku sedang sibuk mencintaimu!" Protes Sagara.
"Ya sudah, mulai sekarang kamu harus sibuk belajar juga. Awas saja jika nilai ujianmu memalukan!" Ancam wanita itu lagi. Sedikit demi sedikit Aisyah harap rasa kecewa itu pudar dengan kembali nya candaan yang biasa Sagara berikan.
"Kamu tenang saja, ujian rumah tangga saja aku lulus, masa iya ujian sekolah gak bisa??!"
__ADS_1