
Akhirnya waktu yang kunantikan tiba jua. Jam tiga kurang delapan menit, Nia masuk ke ruanganku dan membawa berkas yang kubutuhkan.
"Ini Pak, ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Tidak ada, kamu boleh pergi." Segera kuraih tumpukan map itu dengan tergesa.
Setelah Nia pergi, langsung kuambil map dari divisi mutu. Karena nama dia berawalan huruf 'D' aku tidak kesulitan menemukan namanya. Tak terasa bibir ini tiba-tiba tersenyum saat melihat nomor teleponnya. Nomornya jelek sekali. Angka-angkanya rumit. Tapi lebih rumit orangnya daripada nomor teleponnya.
Aku save dengan nama apa ya? Serius, bingung.
Eh, untuk apa aku bingung? Toh, banyak nomor wanita juga di HP-ku. Dewipun sejauh ini tak pernah komentar. Ada banyak nomor kok, manajer perempuan, sekretaris, dan lain-lain.
"Oke."
Aku simpan namanya dengan nama 'Bu Hanin Divisi Mutu.' Lalu aku tak sabar ingin segera meneleponnya.
Suara dia saat di telepon, seperti apa ya? Apa selembut dan semerdu desahannya? Astaghfirullaah, apa yang kupikirkan?
Aku lantas memukul kepalaku. Aku meneleponnya dengan nomor privat. Sudah dering ke empat tapi tidak diangkat. Aku telepon lagi untuk yang ketiga kalinya. Tetap tak diangkat. Aku mengepalkan tangan. Aku marah karena panggilanku diabaikan.
"S i a l!" rutukku. Kesal sendiri.
"Tunggu, apa dia tidak suka ditelepon dengan nomor privat?" gumamku.
Lalu kuseting non privat. Benar saja, didering ketiga, dia menerima panggilanku. Sebelum dia mengatakan apapun, jantungku sudah berdegup.
"Assalamu'alaikuum, halo," sapanya.
Suaranya merdu, tapi sedikit serak, terdengar seperti orang sakit atau baru saja menangis. Sejenak aku mematung. Aku jadi bingung.
Mau mengatakan apa ya? Aku gugup setelah mendengar suara kucing ini.
"Mohon maaf, ini siapa ya? Ada keperluan apa? Halo, halo, uhhuk, uhhuk," sapanya lagi.
Batinku semakin kalut, mendengar dia batuk, tiba-tiba terbesit rasa khawatir. Rupanya, dia benar-benar sakit. Bisa jadi dia sakit karena trauma fisik dan batinnya. Apa dia sakit akibat kejadian semalam?
"Karena kamu tidak bicara, maaf panggilannya aku tutup, ya."
Aku kaget, namun sebelum aku sempat mengatakan apapun, dia benar-benar telah mengakhiri panggilanku.
Kenapa? Kenapa aku jadi selemah ini di hadapan wanita itu?
Aku memijat kembali kepalaku.
__ADS_1
Apa keputusanku untuk menikahinya adalah jalan terbaik? Lalu, bagaimana dengan Dewi? Tunggu, bukankah dia ingin menikah demi mendapat gelar janda saja? Dia bilang tidak mengharapkan apapun dari pernikahan ini.
.
.
~Sepuluh menit kemudian~
"Pak Zulfikar, ini data CCTV-nya. Seseorang yang telah aku perintahkan, datang ke ruanganku dan memberikan data yang kuinginkan.
"Baik, terima kasih. Oiya, kamu sudah pastikan data aslinya dihapus, kan?"
"Sudah Pak. Anda tidak perlu khawatir, dengan uang, semuanya lancar. Oiya Pak, ini hanya rekaman CCTV yang merekam lift dan kamar nomor 33. Untuk di ballroolm dan resepsionis, mereka meminta uang lagi."
"Untuk sementara ini dulu. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan uang," sanggahku. Buktinya ada. Ya, Hanin terbukti tidak menginginkan uang.
"Saya permisi Pak."
"Ya," jawabku singkat.
Aku membuka filenya dengan perasaan tak karuan.
Pertama, aku melihat seorang resepsionis di dalam lift. Oh, ternyata dia masuk ke kamarku. Delapan menit kemudian dia keluar lagi.
Kupercepat, hingga waktu menunjukkan jam setengah sembilan malam. Deg, jantungku kambuh saat melihat seorang wanita berjilbab panjang berada di dalam lift. Dia beberapa kali memijat kepalanya. Jalannya sempoyongan.
Hanin.
Ya, dia adalah Daini Hanindiya Putri Sadikin. Lanjut, dia melamun di depan kamarku. Hanin memperhatikan nomor kamar seperti orang mabuk. Lalu dia masuk. Pintu kamar hotel tertutup. Lima menit kemudian, resepsionis datang lagi ke kamarku.
Dia tidak melakukan apapun. Hanya menatap pintu kamarku, kemudian pergi lagi. Sekitar dua belas menit kemudian, seorang pria tampan datang ke kamar itu dalam keadaan mabuk berat. Kaki panjangnya bahkan berjalan zigzag.
Ya, pria itu adalah aku. Jantungku kian berdegup saat melihat sosokku masuk ke dalam kamar. Semakin bergejolak dadaku saat melihat perpindahan detik di timer CCTV yang merekam kamar tersebut. Saat itu, di dalam kamar itu, berarti ... aku dan Hanin sedang ....
Tanpa bisa kuhindari, fantasiku dipenuhi oleh kejadian itu. Aku memasygul rambutku.
Kenapa? Kenapa aku lebih terkesan melakukan malam pertama dengan wanita lain daripada dengan istriku sendiri? Maafkan Mas, Dewi ....
Ya, Hanin dan Dewi memang sama-sama masih suci. Tapi ... kucing itu .... Dia ... dia sangat ....
Aku bahkan memperlakukan tubuh wanita asing itu dengan sangat spesial, dan entah kenapa, saat aku tidur dengan Dewi, aku tidak mau melakukan hal yang sama pada Dewi.
Pria macam apa aku ini!
__ADS_1
"ARGH."
'Prak.'
Cangkir kopi pecah bersamaan dengan teriakanku. Bukan pecah karena aku beteriak. Tapi pecah karena aku melemparkannya ke lantai.
Aku benci dengan perasaan ini. Aku tahu ini tak patut. Tapi aku tak bisa menghindarinya. Aku sudah terlanjur melihat dan menikmati tubuhnya. Lalu ... aku tidak bisa melupakannya.
"Hanin, kenapa kamu tiba-tiba hadir di dalam kehidupanku?"
"Hanin, aku sangat-sangat membencimu."
"Hanin, gara-gara kamu aku jadi pendosa."
"Hanin, gara-gara kamu hidupku tidak nyaman lagi."
"Hanin, harusnya pada malam itu ... kita tidak pernah bertemu."
"Hanin, aku menyesal telah bertemu denganmu."
"Hanin ...."
Bak orang yang tidak waras, aku bergumaman seorang diri. Hingga akhirya ....
"Allahuakbar Allahuakabar ...."
Adzan Ashar berkumandang. Ternyata, aku telah menghabiskan banyak waktu demi memikirkan masalahku dan kucing itu. Aku membutuhkan seseorang yang bisa menjawab kegundahan dan ketidaktahuanku ini.
Aku tidak ingin salah langkah. Setidaknya, aku harus bisa mempertimbangkan langkahku untuk ke depannya. Aku tidak ingin menyakiti Dewi. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Hanin begitu saja.
Jika benar dia adalah korban, berarti ... aku tidak bisa menyalahkannya. Namun aku juga tidak akan berhenti mengumpulkan bukti-bukti.
Aku kemudian mengganti baju kantorku dengan kaus yang sederhana. Kuharap, saat shalat Ashar berjamaah, tidak ada yang mengenaliku.
Saat karyawan mengenaliku, mereka sering memperlakukanku dengan cara berlebihan. Menyuruhku ke barisan depan, bersalaman, memperkenalkan diri, dan lain-lain. Keadaan itulah yang membuatku tidak nyaman.
Agar penyamaranku sempurna, aku melengkapinya dengan menggunakan masker.
Setelah shalat berjamaah, aku berencana curhat tentang masalahku pada pak Hasan. Pak Hasan adalah marbot di masjid milik perusahaan. Dia mulai bekerja di sini semenjak perusahaan kami memiliki mushola.
Saat perusahaan kami sudah memiliki masjid besar hingga bisa digunakan untuk shalat Jum'at, pak Hasan didapuk oleh papaku untuk menjadi marbot tetap. Yaitu, selama Pak Hasan masih sanggup melakukan pekerjaan tersebut.
...~Tbc~...
__ADS_1