
Dokter Rahmi
"Cepat tarik mobilnya! Tapi pelan-pelan ya! Saya akan mempertahankan posisi aman sampai ambulancenya tiba! Cepat pasang oksigennya! Tiga liter per jam!" teriakku setibanya di area garasi. Aku tak tahu seperti apa kejadian ini bermula. Yang jelas, keadaan saat ini benar-benar kacau dan mengerikan.
Aku sebenarnya panik dan gemetaran juga saat melihat kondisi pak Direktur. Namun aku sadar diri jika keahlianku sedang dibutuhkan. Beruntung di rumah ini tersedia oksigen dan para pekerjapun dapat menerima dan menjalankan instruksi dengan baik.
Aku menahan kepala dan leher pak Direktur saat mobil minibus ini ditarik perlahan. Karena aku kurus, aku bisa memasuki sela-sela antara badan depan mobil dan tembok pembatas garasi. Yang terpenting kepala dan dadanya tidak cedera. Masalah patah tulang kaki atau tangan, kupikir bisa dipulihkan kembali dan tidak sampai mengancam nyawa.
Darah pak Direktur mengalir hangat ke lenganku. Darah ini berasal dari luka di kepalanya. Dari mulut dan telinganya sudah tidak mengalirkan darah lagi. Dengan sudut mata, aku juga melihat Daini dibopong oleh abah dan pak Ikhsan menuju ke dalam rumah. Karena shock, Daini pingsan.
"Terus tarik, pelaaan!" teriakku untuk yang kesekian kalinya.
Bu Dewi masih bersimpuh di lantai. Bu Yuze sibuk menelepon rumah sakit terdekat. Pak Aksa masih menghajar pengemudi tanpa bisa dilerai. Ummi membantu menyangga tubuhku agar tidak oleng. Bersamaku, ummi masuk ke sela-sela.
"Yang merasa berat badannya di bawah 50 kilo gram, ayo bantu tahan tubuh saya!" teriakku beberapa saat yang lalu ketika pertama kalinya tiba di tempat kejadian.
'Uwwwiu, uwwwiu.'
Dari kejauhan terdengar suara ambulace yang juga bersahutan dengan sirine mobil polisi. Pak Aksa orang ternama, wajar jika polisi dan ambulance datang begitu cepat.
Apakah pelayanan spesial ini disebabkan karena pak Aksa memiliki kekuasaan, kekayaan, dan jabatan? Entahlah. Sesuai intruksiku, Damkar batal didatangkan sebab aku merasa mampu mengeluarkan tubuh pak Direktur tanpa bantuan Damkar.
"Mas, ya Allah, Mas. Astaghfirullahaladzim. Allahumma Shalli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad Wa’alaa Aali Sayyidinaa Muhammad. Selamatkan dia Yaa Rabbi."
Ummi terus melantunkan shalawat dan dzikir. Tangannya yang menahan bahuku terasa gemetar.
"Cepat-cepat! Maju, terus-terus!"
Juru parkir memarkirkan ambulance dan mobil polisi. Tiga orang perawat dan seorang dokter sigap turun dari ambulance sambil membawa penyangga dan brankar pasien.
Sementara polisi segera memasang police line, dan mengumpulkan saksi-saksi. Pak Aksa tak main-main dengan tragedi ini, ia sepertinya akan memeroses kasus ini sampai ke jalur hukum.
"Saya dokter Rahmi, kondisi pasien tak sadarkan diri. Nadi dan napas ada tapi sangat lemah," terangku saat petugas kesehatan dari ambulance mendekat.
"Baik, cepat pasang penyangga di leher, belakang kepala, punggung dan panggulnya!" titah dokter.
Tindakan ini dilakukan untuk mencegah fraktur atau mengurangi perluasan pada daerah-daerah yang diduga telah mengalami fraktur. Setelah pak Direktur berhasil dipindahkan ke brankar, beliau langsung didorong menuju ambulance dan dipasang infus.
"Dokter Rahmi, Anda tak perlu ikut ke rumah sakit, saya khawatir dengan kondisi neng Daini. Anda di sini saja menjaga neng Daini," larang pak Aksa yang saat ini sudah berada di dalam ambulance.
Pak Aksa melompat ke ambulance setelah polisi berhasil membujuknya agar tak melakukan aksi main hakim atau kekerasan pada pengemudi yang menabrak pak Direktur.
"Saya mau ikut ke rumah sakit," seru ummi. Tanpa menunggu jawaban, ummi langsung naik ke dalam ambulance.
"Mama juga ikut," bu Yuze mengejar ambulance yang hendak melaju.
"Mama dan Pak Reza tetap di sini! Bantu polisi membuat kronologis kejadian!" tegas pak Aksa.
Bu Yuze dan pak Reza saling menatap.
"Jalan, Pak! Cepat!" teriak pak Aksa.
Padahal, bu Yuze dan pria yang dipanggil pak Reza belum mengatakan sepatah katapun. Lalu ambulance tersebut melesat cepat meninggalkan kediaman pak Aksa dan tatapan kecemasan semua orang termasuk aku.
Sesuai dengan perintah pak Aksa, aku segera meninggalkan tempat kejadian perkara untuk memeriksa keadaan Daini.
Saat aku berlalu, polisi sedang mengintrogasi bu Yuze dan para saksi. Polisi juga meminta pak Reza untuk memperlihatkan rekaman CCTV yang ada di area parkiran dan sekitarnya. Pengemudi yang lalai dan menabrak pak Direktur telah diborgol dan diamankan pihak kepolisian.
Langkahku cepat, lebih tepatnya berlari menuju kamar Daini.
.
Di perjalanan, aku sempat melihat bu Dewi sedang menelepon seseorang. Entah siapa yang ia telepon. Sekilas aku melihat jika ia seperti menelepon sambil marah-marah dan memaki. Itu terlihat dari ekspresi wajahnya dan jari telunjuknya yang tunjuk sana, tunjuk sini.
Mungkin sedang meluapkan emosinya pada pengemudi yang menabarak pak Direktur dengan cara diutarakan pada orang lain. Tapi ya sudahlah. Toh, itu bukan urusanku.
.
"Bagaimana, Dok? Mas Zul sudah dibawa ke rumah sakit, 'kan? Kira-kira lukanya parah tidak, Dok?" Setibanya di depan kamar neng Daini, aku langsung dicecar pertanyaan oleh pak Sadikin, abahnya Daini.
"Mohon doanya saja ya, Pak. Bapak harus tenang. Pak Direktur sedang ditangani," jawabku.
"Neng Daininya sudah sadar, tapi nangis terus. Sama itu emm, mukanya pucat, Dok. Cepat periksa," kata pak Ihsan yang juga berdiri di depan pintu kamar.
Lalu seorang pekerja datang dengan tergopoh-gopoh.
"Pak Ihsan dan Pak Sadikin disuruh ke depan sama polisi. Semua orang yang tadi ada di TKP akan dimintai keterangan, kecuali bu Daini karena kondisinya sedang hamil dan sempat pingsan," jelas pekerja tersebut.
"Baik, saya dan Pak Ihsan akan segera ke sana. Dok, tolong jaga putri saya," pinta pak Sadikin sebelum ia dan pak Ihsan bergegas ke TKP.
"Baik, Pak. Menjaga neng Daini memang tugas saya," jawabku sambil melambaikan tangan. Lalu masuk ke kamar.
.
__ADS_1
"Huuu."
Daini masih menangis, benar kata pak Ihsan, wajahnya pucat. Aku segera melakukan pemeriksaan tekanan darah. Peralatan dokterku memang telah ditempatkan di kamar ini. Hasilnya rendah sekali, 90/50 mmHg.
"Neng, apa semalam kamu kurang tidur? Saya infus ya," tawarku.
"Pak Zulfikar bagaimana, Dok?" Malah menanyakan pak Direktur.
"Neng Daini tadi dengar suara ambulance, kan? Nah, ambulance itu sudah membawanya. Tetap tenang dan terus berdoa. Oiya, umminya Neng juga ikut mengantar," jelasku.
"Dok, ke rumah sakit mana dibawanya? Daripada infus aku, lebih baik Dokter antar aku ke rumah sakit saja ya," katanya. Lalu bangun dan merapikan jilbabnya.
"Neng," aku menahan tangannya, terasa dingin.
"Jangan nekad, Neng. Kondisi kamu sedang tak baik-baik saja, tensi darahnya rendah. Kalau Neng Daini ikut ke rumah sakit, bisa-bisa Neng Daini pingsan lagi. Pak Aksa dan pak Sadikin menyuruh saya untuk memeriksa dan menjaga Neng Daini. Patuh ya Neng geulis, pak Direktur juga pastinya tak senang kalau kamu tak memperhatikan kesehatan. Ingat, Neng Daini sedang hamil, kembar lagi," tegasku.
"Huuu, tapi Dok ..., aku merasa baik-baik saja, aku harus melihat pak Zulfikar dulu, baru bisa tenang." Masih bersikukuh.
"Baik, Neng boleh ke sana, tapi setelah kondisi Neng membaik ya. Saya janji akan antar Neng Daini." Aku lantas memeluknya. Membiarkan Daini menangis di pelukanku.
"Neng boleh bilang baik-baik saja, tapi hasil pemeriksaan tensi darahnya rendah, tunggu stabil dulu ya." Setelah dia tenang, aku membantu merebahkan tubuhnya.
Ya ampun, kulitnya putih dan halus sekali. Aku kesulitan saat hendak menginfusnya. Terpaksa menginfus di area vena median cubital yang berada di lengan anterior atau di sisi dalam lipatan siku.
"Gara-gara aku ... pak Zulfikar terluka." Setelah infus cairan dextrose terpasang, dia kembali mengeluh.
"Kok bisa gara-gara Neng Daini?" Aku memang tak tahu kronologisnya.
"Mobil itu awalnya hampir menabrakku, Dok. Tapi ... pak Zulfikar mendorong badanku ke rumput hias. Huks, jadinya dia yang tertabrak karena belum sempat mengindar."
"Itu bukan kesalahan kamu, Neng. Berarti, rasa sayang pak Zulfikar sama Neng Daini benar-benar tulus. Buktinya, dia tak memikirkan keselamatannya sendiri demi menolong Neng Daini dan calon anak-anaknya. Dia rela mengorbankan nyawanya demi kamu."
"Daini, buka pintunya!"
Suara dari luar kamar membuat aku dan Daini terkejut dan saling menatap.
"Bukaaa!" teriaknya. Itu suara bu Dewi.
"Dok, i-itu bu Dewi, Dokter mengunci pintunya?" Daini melirik ke arah pintu. Dari raut wajahnya jelas sekali kalau ia ketakutan dan panik.
"Ya, sengaja saya kunci. Kenapa bu Dewi teriak-teriak ya? Bagaimana ini, Neng? Buka jangan?" tanyaku.
"Buka saja, Dok."
"Tak apa-apa, Dok. Cepat buka, mungkin bu Dewi ingin mengobrol denganku," katanya.
"Oke, 'deh." Karena sudah diperintah, akupun segera membukanya.
"Daini! Dasar istri tak tahu diri kamu ya!"
Setibanya di kamar, bu Dewi langsung membentak Daini sambil bertolak pinggang dan memelototinya. Sejenak, aku hanya terpaku.
"Ke-kenapa, Bu? Emm, Kak?" Daini menunduk.
"Kalau sampai suamiku cacat atau kenapa-kenapa, kamu adalah orang pertama yang akan aku jebloskan ke penjara!" teriak bu Dewi. Aku masih jadi penonton sambil menelaah seluruh ucapan bu Dewi.
"Ma-maaf Kak ... a-aku memang salah," lirih Daini.
"Kurang ajar kamu ya! Merasa enak kamu ya disayang sama papa Aksa dan diperhatikan mama Yuze?! Harusnya kamu sadar diri kalau keberadaan kamu itu sangat tidak berguna!"
"Hidupku hacur gara-gara kamu! Mertuaku berubah sikap gara-gara kamu! Dan mas Zul juga celaka gara-gara kamu! Dasar wanita pembawa sial!" teriaknya sambil menarik paksa jilbab Daini. Aku terhenyak dan merinding mendengar celaannya.
"Bu, jangan!"
Aku spontan menahan jilbab Daini yang sudah terlepas sebagian. Leher Daini terlihat, dan tanda kemerahan itu terlihat begitu jelas. Aku tahu jika itu adalah tanda cinta.
"Jangan membela pelakor, Rahmi! Apa kamu sudah siap izin doktermu dicabut?!"
Bu Dewi beteriak lagi. Aku tak menyangka jika sifat asli bu Dewi ternyata sangat arogan dan pemarah. Padahal, media selalu menggaungkan namanya sebagai putri sultan yang ramah, baik, sederhana, dan bersahaja.
Daini berusaha menutup tanda merah di lehernya dengan selimut saat bu Dewi berhasil menarik jilbabnya. Aku kalah kuat dari bu Dewi sebab merasa canggung saat hendak melawannya.
"Tapi Neng Daini memang tak salah, Bu. Pak Zulfikar kecelakaan karena kelalaian sopir, bukan karena Neng Daini," belaku.
"Hey, Rahmi! Dengar ya! Kalau saja mas Zul tak menolong dia, mas Zul tak mungkin terluka!" sentaknya sambil menarik selimut yang digunakan Daini dan menanyakan sebuah pertanyaan absurd yang sebenarnya tak patut dipertanyakan.
"Apa semalam kamu e n a k - e n a k dengan suamiku, hahh?!" tanyanya. Matanya melotot sempurna saat melihat beberapa tanda merah di leher Daini.
"Bu, kondisi Neng Daini sedang lemah. Tolong jangan emosi."
Aku tak bisa tinggal diam lagi. Kurasa, bu Dewi sudah keterlaluan. Kalaupun benar Daini dan pak Direktur tidur bersama, ya tak ada salahnya juga. Tapi kan, aku tiba-tiba mengingat sesuatu.
"Mereka pasti tidak tidur bersama, Bu. Kandungan Neng Daini masih observasi, baru bisa melakukan hubungan intim sekitar empat hari ke depan," jelasku.
__ADS_1
Maksudnya agar bu Dewi tak membahas masalah itu. Daini menunduk saat aku menjelaskan hal itu. Entah apa yang ada di pikirannya.
"Apa?! Apa kandungan dia lemah? Hahaha, 'kok aku jadi senang ya mendengarnya?"
Bu Dewi tak jadi marah, ia malah tertawa-tawa. Aku menautkan alis, sikapnya benar-benar di luar ekspektasiku.
Lalu, terdengar langkah kaki yang sepertinya hendak masuk ke kamar ini. Aku segera mengambilkan jilbab untuk Daini.
"Neng, kamu tidak apa-apa, kan?"
Ternyata yang datang adalah bu Yuze. Ia langsung memeriksa tubuh Daini dan melihat perutnya. Bu Dewi mendelik. Aku melihat tangan bu Dewi mengepal kuat saat bu Yuze memeriksa Daini.
"A-aku tidak apa-apa, Bu."
"Untung saja Zul berhasil menyelamatkan kamu, kalau tidak, saya tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kondisi kandungan kamu." Sambil mengusap perut Daini.
"Ma, anak Mama luka parah gara-gara dia, harusnya Mama tak berlebihan memedulikan Daini," sela bu Dewi.
"Sssttt ... sayang, jangan bicara seperti itu, wajar kalau Zul menyelamatkan Daini. Kalaupun yang ada di posisi Daini adalah kamu, Mama yakin Zul juga akan melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan kamu," kata bu Yuze sambil mengusap bahu bu Dewi.
"Kata polisi apa, Bu? Apa mereka sudah berkomentar?" tanya Daini.
"Masih didalam, Neng. Remnya saat dicek memang benar-benar blong. Ini janggal 'sih, soalnya mobil itu kemarin sempat dipakai sama pak Reza, tapi kata pak Reza tak apa-apa. Remnya baik-baik saja," jelas bu Yuze.
"Bisa jadi pak Reza berbohong, Ma. Dia 'kan paling senior di rumah ini, bisa saja dia mengatakan baik-baik saja supaya lepas tanggung jawab agar dia tak disalahkan akibat kelalaiannya. Yang mengurus jadwal servis mobil pak Reza, kan?" duga bu Dewi. Bu Yuze mengernyitkan alis.
"Hmm, Mama kenal sama pak Reza sudah lama sayang. Tak mungkin kayaknya kalau pak Reza memberikan keterangan palsu. Selama bekerja di rumah ini, Mama ataupun papa tak pernah bermasalah dengan hasil kerjanya pak Reza."
"Kita tunggu hasil penyelidikan polisi saja. Tak baik menduga-duga, apa lagi menuduh baik dengan ataupun tanpa bukti. Takutnya malah jadi fitnah," sela Daini dengan suara pelan.
"Nah, Mama setuju dengan pendapat Daini."
"Senang ya kamu didukung Mama?" ketus bu Dewi.
"Sayang, Mama bukannya mendukung Daini, tapi yang dia katakan banyak benarnya."
"Setelah dia hamil, aku merasa kalau Mama dan papa banyak berubah. Mama lihat saja, sebentar lagi, aku juga pasti hamil. Aku sudah konsul ke dokter kandungan untuk melakukan program bayi tabung. Kalau aku hamil, Mama dan papa tak perlu lagi mengistimewakan si Daini. Lagi pula, secara hukum, anak yang ada di rahim si Daini bisa dikategorikan sebagai anak haram," terangnya.
Daini kembali menunduk, ia menangis sambil mengusap perutnya. Aku menenangkan dengan merangkul bahunya.
"Tidak sayang, mereka bukan anak haram. Polisi dan pengacara sudah melakukan analisis pada kasus itu. Cinta satu malam antara Daini dan Zul malah bisa dianggap tak pernah ada karena hal itu terjadi akibat kelalaian orang lain dan mereka berdua dalam keadaan mabuk berat. Lalu Daini dan Zul menikah beberapa hari setelah kejadian itu."
"Jadi, Mama sekarang membela dia?"
"Tidak Wi, Mama tidak membela. Hanya menyampaikan fakta saja."
"Menikah tanpa seizinku dan berhubungan badan dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku, apa namanya kalau bukan zina, Ma?!" teriaknya. Matanya bergulir menatap pada Daini dan bu Yuze.
"Si Daini jelas telah berzina dengan mas Zul. Anak yang dikandung dia tetap anak haram! Kamu sungguh tak punya malu Daini, mengandung anak haram saja bangga. Kalau aku ada di posisi kamu, aku akan menggugurkan anak itu!"
Kalimatnya sungguh keterlaluan. Aku jadi kesal pada bu Dewi, tapi tak bisa melakukan apapun untuk membela Daini. Bu Yuze menghela napas.
"Cukup Bu Dewi! Cukup! Jangan menghina dan menuduhku lagi! Apa lagi sampai menuduh kalau anak ini anak haram. Wallahi, aku tak terima! Dengar ya, aku punya fakta yang bisa membuktikan kalau anak yang aku kandung bukanlah anak dari hasil cinta satu malam itu!"
Baru kali ini aku melihat Daini marah. Wajah cantiknya sampai memerah. Ya, siapa 'sih yang tak sakit hati jika dituduh mengandung haram dan dituduh berzina? Bu Dewi dan bu Yuzepun sampai menatap tak percaya pada Daini.
"Hahaha, bisa marah juga kamu ya? Kupikir, kamu tak pernah marah karena memang tak punya hati nurani. Bukti apa yang kamu punya? Terlalu percaya diri kamu, Dai," ledek bu Dewi sambil duduk tumpang kaki di sofa dan menyandarkan tubuhnya.
Bu Yuze memijat keningnya. Mungkin baru sadar jika kegiatan poligami seorang anak memiliki hubungan erat dengan kedaan emosional ibu mertua.
"Ini sebenarnya rahasia, aku belum mengatakannya pada siapapun. Bahkan, aku belum mengatakannya pada pak Zulfikar karena awalnya aku merasa jika yang kulakukan adalah dosa besar." Daini mengusap air mata, lalu melanjutkan penuturannya.
"Setelah kejadian malam itu, siang harinya aku langsung meminum obat peluluh yang aku beli dari seseorang secara rahasia. Aku bahkan memesan pil KB dari online shop agar tidak hamil. Tapi ... aku tetap hamil, mungkin aku pernah lupa meminumnya."
"Jadi, aku yakin seratus persen jika pembuahan di rahimku terjadi setelah aku dan pak Zulfikar menikah. Anakku bukan anak haram, huuu ...." Ia mengakhiri penjelasannya dengan tangisan.
"Kamu pikir aku akan percaya dengan cerita rekayasa kamu?! Tidak Daini, aku tidak percaya. Bilang saja kamu pura-pura beli obat peluluh, pura-pura beli pil KB, tapi tak pernah meminumnya. Ya, kan? Jujur saja, Dai. Kamu suka 'kan mengandung anak konglomerat?" tuduhnya.
"Wi, cukup!" sela bu Yuze.
"Mama sudah berani membentakku?"
"Ma-maaf sayang, Mama tak bermaksud begitu. Sekarang mending kita ke rumah sakit yuk!" ajak bu Yuze sambil menarik tangan bu Dewi. Mereka akhirnya keluar dari kamar. Daini lanjut menangis.
"Sabar ya, Neng ..., Allah itu tak pernah memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Kamu adalah wanita terpilih yang ditakdirkan untuk menghadapi masalah ini," kataku. Ceritanya sedang sok-sokan jadi wanita bijak.
"Sekarang jujur sama saya, apa semalam Neng Daini dan pak Direktur melanggar amanat dokter? Heheha, maksudnya, apa dede kembarnya sempat dijenguk sama pak Direktur?" tanyaku sambil tersenyum.
Lalu dengan polosnya Daini mengatakan ....
"Ya, Dok, maaf ya," jawabnya pelan sambil menganggukkan kepala. Padahal, itu hanya pertanyaan iseng untuk sekedar menghiburnya.
"Apa?! Serius? Ihh, Neng Daini nakal ya. Nakal, nakal, nakal," kataku sambil menggelitik pelan perutnya. Dainipun tersenyum. Y**es, aku senang bisa menghiburnya.
__ADS_1
...~Tbc~...