Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Malam yang Bimbang; Menyenangkan dan Menakutkan


__ADS_3

WARNING! ADULT AREA!


________________________


Daini Hanindiya Putri Sadikin


Pak Zulfikar tidak tahu bagaimana tadi aku galau segalau-galaunya saat harus mengatakan pada abah dan ummi jika ia akan membawa bu Dewi ke rumah ini. Apalagi, aku juga menjelaskan jika pak Zulfikar melakukan ini karena skenario yang sudah diketahui polisi.


Tentu saja abah dan ummi kebingungan. Sebab, aku tak bisa menjelaskan secara detail jika keluarga pak Zulfikar dan keluarga bu Dewi sebenarnya tengah terlibat perang dingin.


Ummi bahkan menunjukkan ekspresi ketidaksetujuan. Namun ia tak mengatakan apapun. Hanya menatap abah untuk meminta pendapatnya.


"Hukum asalnya, menempatkan dua istri dalam satu rumah itu tidak mengapa, yang dilarang itu menempatkan dua istri dalam satu kamar," jelas abah.


"Namun jika istrinya mempersyaratkan kepada suaminya agar tidak ditempatkan bersama istri yang lainnya, maka tidak boleh menempatkan di rumah yang sama, 'kan Abah? Dalam kasus ini, jelas-jelas menantu kita melakukan pemaksaan secara tidak langsung agar bu Dewi tinggal di sini," sanggah ummi.


"Ummi benar," sahut abah.


Lalu mereka berdua menatapku. Aku langsung menunduk. Serius, saking bingungnya, aku tak bisa mengatakan apapun.


"Ya sudah, anggap saja jika kunjungan bu Dewi ke rumah ini sebagai silaturahim. Mari kita juga niatkan melakukan hal ini untuk menolong mas Zulfikar. Jika benar ini hanya skenario yang sudah diketahui polisi, Abah yakin mas Zulfikar punya alasan yang sangat kuat."


"Tapi Ummi takut, Abah. Bukankah kalau bu Dewi ke sini akan menimbulkan masalah baru untuk keluarga kita?"


Sejujurnya, aku setuju dengan pendapat ummi, malah ingin menolak keinginan pak Zulfikar karena takut menjadi tertuduh. Namun, saat mengingat kembali bagaimana pak Zulfikar meminta dengan mengiba, aku jadi tak tega menolaknya.


"Please sayang, ini darurat. Hanya cara ini yang bisa kulakukan untuk mengurai masalahnya agar tak semakin pelik. Maaf jika keputusan ini membuat kamu, abah, dan ummi tidak nyaman. Namun polisi meyakini jika menyembunyikan Dewi di rumah kamu adalah pilihan yang tepat," kata pak Zulfikar kala itu.


"Abah juga takut, Mi. Wajar, kita manusia. Setiap manusia pasti memiliki rasa takut. Tapi, sedari awal, kita berdua telah sepakat menerima mas Zulfikar berserta seluruh kelebihan dan kekurangannya untuk menjadi bagian dari keluarga kita. Jadi, untuk masalah inipun, kita harus mendukungnya selama yang ia lakukan tidak melanggar syariat yang kita yakini."


Setelah abah mengatakan itu, ummi memelukku. Abah lantas menyuruh kang Hendra untuk menyiapkan kamar tamu yang diperuntukkan bagi bu Dewi. Sementara pada ceu Jani, abah memerintahkan agar segera memasak.


Raut keterkejutan diperlihatkan oleh ceu Jani dan kang Hendra. Namun mereka tak berkomentar. Komentar protes justru dilontarkan oleh dokter Rahmi setelah aku menjelaskan keinginan pak Zulfikar kepadanya.


"Neng yakin enggak salah dengar? 'Kok bisa bu Dewi mau dibawa ke sini? Maksudnya apa coba?"


"Sudah, kita ikuti saja, Dok. Aku enggak apa-apa 'kok. Justru malah senang karena rumah ini akan tambah ramai."


"Ramai? Kamu aneh, 'deh. Jangan bilang kalau pak Zulfikar juga akan menyuruhku mengajari bu Dewi. Duh, malas banget," keluhnya.


Aku hanya tersenyum, lalu meyakinkan pada dokter Rahmi jika pak Zulfikar melakukan ini karena sebuah alasan yang pastinya demi kebaikan semua pihak.


"Aku masih merasa tidak srek, Neng. Ini benar-benar sulit dimasukkan ke otakku."


Hingga saat ini, aku sebenarnya masih bimbang dengan keputusan pak Zulfikar.


Kini, aku sadar jika kehidupan mereka tidaklah semudah yang kupikirkan. Tapi, aku dan keluargaku sudah terlanjur menjadi bagian dari mereka. Dan anak yang kukandung ini ... adalah keturunan Antasena.


...⚘️⚘️⚘️...


"Kenapa melamun sayang? Apa kamu tidak senang aku pulang?" Dia yang baru selesai mandi menghampiri dan memelukku.


"Tidak, aku tidak melamun. Hanya sedang merenung saja," kilahku.


Jadi berdebar karena dia hanya memakai handuk. Tubuhnya indahnya terlihat jelas, dan aku selalu gugup.


"Hmm, segar. Oiya, aku tidak bawa baju ganti sayang. Apa ada baju yang bisa kupakai?"


"Ada." Aku mengajaknya ke sebuah lemari.


"Wah, apa kamu yang membeli ini semua?"


"Ya, Pak. Tapi bukan barang branded. Maaf kalau Anda tidak suka."


"Bagus, 'kok. Kalau kamu yang membelinya, apapun itu, aku yakin pasti akan menyukainya." Sambil memilih dan mengambil baju yang akan ia gunakan.


"Pak Zulfikaaar, Pak, permisi." Itu suara dokter Rahmi.


"Ya ampun, ada apa 'sih?"


Setelah memakai baju ia sendiri yang bergegas membukakan pintu, aku merapikan handuk yang tadi dipakainya.


"Pak, bu Dewi tidak mau makan, dia juga memaksaku meminjam HP, dan memaksa ingin bertemu Bapak."


"Apa HP-nya kamu pinjamkan?"


"Tidak, Pak. 'Kan kata Bapak, jangan. Ini sebenarnya ada apa ya, Pak? Aku dokter, tugasku hanya berurusan dengan dunia kesehatan. Aku tidak mau terlibat masalah yang sama sekali tak ada korelasinya dengan tupoksiku."


"Ya aku tahu, tapi aku melakukan ini demi kebaikan Dewi. Ya sudah, kamu urus dulu ya, Dok. Katakan saja pada Dewi kalau aku akan menemuinya dalam waktu 30 sampai 40 menit lagi. Enggak apa-apa kalaupun dia tak mau makan. Nanti biar aku yang suapi dia."


Aku mendengarkan percakapan mereka tanpa ada niatan untuk turut berkomentar.


"Baik, nanti akan kusampaikan." Dokter Rahmi balik badan.


"Tunggu, siapa yang sekarang menjaga Dewi? Kamu tidak meninggalkannya sendirian 'kan, Dok?" Pak Zulfikar tampak panik.


"Tidak, bu Dewi ditemani ummi dan ceu Jani. Di hadapan ummi dan ceu Jani, sikap bu Dewi biasa saja, 'kok, Pak. Maaf ya Pak, aku merasa sedikit aneh pada sikapnya. Karena saat bu Dewi hanya berdua denganku, emosinya langsung berubah. Dia melihatku seperti bahan makanan yang hampir kadaluarsa dan harus dihabisi saat ini juga," keluhnya.


"Ya sudah, kamu boleh pergi."


.


"Huhh," ia menghela napas saat menutup dan mengunci kamar.


"Pak, tolong temui bu Dewi dulu. Ia butuh dukungan." Aku mengurai tangannya yang melingkar di pingganggku.


"Sayang, aku sudah menyuruhnya untuk menunggu. Aku tak bisa ke sana sekarang. Aku merindukan kamu." Kembali merengkuhku.


"Pak, kumohon. Aku tidak tenang sebelum bu Dewi baik-baik saja. Bapak temani dulu bu Dewi ya. Setelah itu, barulah menemuiku."


"Hanin, aku hanya perlu waktu tiga puluh menit, apa kamu sangat keberatan?"


"Maaf Pak, a-aku ...."


"Kenapa?"


"A-aku takut bu Dewi curiga jika Anda terlalu lama membiarkannya. Pak, yang Anda lakukan saat ini sangat berisiko. Ada baiknya jika Bapak lebih bisa menjaga sikap dan perasaan bu Dewi. Biar bagaimanapun, bu Dewi tetaplah istri Anda. Ya, 'kan?"


Pak Zulfikar melepas dekapannya. Lantas duduk di sisi tempat tidur dan menatapku lekat-lekat.


"Kamu terlalu polos sayang. Kamu tidak tahu seberapa jahatnya mereka. Kamu harus tahu kalau apa yang kulakukan pada Dewi saat ini sebenarnya tidak sebanding dengan apa yang mereka lakukan pada keluargaku termasuk pada kamu. Apa kamu sudah lupa dengan kasus penculikan itu? Kamu harus ingat kalau para pelakunya berencana melakukan tindak kriminal pe mer kosa an dan juga pem bu nu han. Apa kamu mau memaafkan mereka begitu saja?"


Aku memalingkan wajah. Tatapannya membuatku tak berani berkata-kata lagi.


"Maaf," lirihku. Saat ia beranjak dan berjalan menuju pintu keluar.


"Aku tak terima mereka menipuku. Namun aku masih memberi toleransi karena Dewi sedang mengandung anakku." Tangannya sudah meraih gagang pintu.


"Maaf." Aku menyusulnya. Ingin meraih tubuhnya namun aku terlalu malu dan canggung.


"Baik, aku akan mengabulkan permintaan kamu. Aku akan menemani Dewi. Mungkin sampai besok pagi," katanya. Lalu menarik handle pintu dan berlalu begitu saja.


"Pak Zulfikar."


Aku spontan memanggilnya. Tapi suaraku begitu pelan. Akhirnya, hanya bisa terduduk di balik pintu dan menangis. Entah apa yang kutangisi. Sebab, aku sendiri yang memintanya untuk menemani bu Dewi. Hati memang selalu seperti ini, kadang sulit dipahami. Padahal, perasaan ini berasal dari hatiku sendiri.


Di saat resah seperti ini, yang biasa kulakukan pastilah berwudhu dan membaca kitab suci. Aku membacanya sambil menitikkan air mata. Entah ini lembar yang ke berapa. Aku terus membacanya hingga mata ini terasa lelah dan kesat.


Di lubuk hati terdalamku, aku ternyata berharap jika pak Zulfikar segera kembali ke kamar ini. Bodoh! Harusnya, tadi aku melarangnya pergi. Ya, ini salahku sendiri. Aku berusaha melupakannya dengan merebahkan diri dan memejamkan mata.


Hingga aku tertidur, dan terbangun kembali pukul setengah tiga pagi, pak Zulfikar tak berada di sisiku.

__ADS_1


"Huuu."


Aku kembali menangisi sesuatu yang sebenarnya diakibatkan oleh ulahku sendiri. Karena hati ini begitu rapuh dan tidak tenang, aku memberanikan diri keluar dari kamar. Aku akan menghirup udara pagi di pekarangan rumah.


Lebih tepatnya, ingin melewati kamar tempat bu Dewi dan pak Zulfikar berada.


...⚘️⚘️⚘️...


Ternyata, kamarnya telah sepi. Lampunyapun sudah temaram. Mereka sedang terlelap. Aku melewati kamarnya dengan perasaan sulit terungkap. Lanjut ke ruang tamu untuk menuju pekarangan.


Tapi ....


Langkahku terpaku. Aku mematung dan terkejut. Di ruang tamu, tepatnya di sofa, ada seseorang yang tertidur tanpa selimut. Ia meringkuk kedinginan sambil memeluk kedua lutut yang nyaris bersentuhan dengan dagunya. Batinku begemuruh. Perasaan bersalah dan menyesal seketika menggunung di dalam dada.


Aku mendekatinya. Segera bersimpuh dan memeluk bahunya.


"Ke-kenapa tidur di sini?" tanyaku. Awalnya, dia bergeming, namun pada panggilan kedua, ia membuka matanya.


"Ha-Hanin?"


"Kenapa Anda tidur di sini? Kenapa tak tidur bersama bu Dewi?"


"Setelah kusuapi, Dewi langsung tidur, aku tak bisa menemaninya karena jiwa dan ragaku merindukan seseorang. Lagi pula, malam ini, seharusnya aku tidak tidur bersama Dewi," jawabnya sambil tersenyum.


"Ke-kenapa tak kembali ke kamarku?"


"Aku malu sayang, aku juga tak mau mengganggu tidur kamu."


"A-aku tidak mengunci pintu kamar, Pak."


"Tapi sayangnya, dia yang kurindukan, sama sekali tak menginginkanku." Lantas menjauhkan tanganku dari bahunya. Dia merajuk.


"Maaf, Pak. Aku minta maaf. Sekarang, emm ... pi-pindah ke kamar ya," ajakku.


"Tidak mau," jawabnya. Malah membelakangiku.


"Ya sudah, kalau Anda mau tidur di sini, aku juga akan tidur di sini."


Aku merebahkan tubuhku di lantai. Menjadikan lenganku sebagai bantalnya. Pak Zulfikar diam saja. Akupun terdiam.


'Kriet.'


Samar terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Aku yakin suara itu berasal dari kamar abah. Di jam ini, abah biasa pergi ke masjid pondok. Aku dan pak Zulfikar serempak terbangun.


"Pak, cepat pindah sebelum abah memergoki kita." Aku menarik tangannya dan mengendap menuju kamar. Syukurlah, dia tak menolak.


...⚘️⚘️⚘️...


Tiba di kamar, ia naik ke tempat tidur dan seolah tak memedulikanku. Langsung mengurung tubuhnya dengan selimut. Aku merenung di sisinya. Lalu akupun merebahkan diri, menatap langit-langit, dan bingung harus melakukan apa untuk membuatnya kembali hangat.


"Hanin." "Pak Zulfikar."


Tak disangka, kita berucap secara bersamaan.


"Anda dulu." "Kamu dulu."


Kamipun mengucapkan itu dengan bersamaan jua.


"Hahaha."


Akhirnya tertawa bersama dan spontan berhadapan. Lalu kami bersitatap, dan aku refleks mendekatkan diri ke tubuhnya.


"Jangan dekat-dekat," katanya.


"Emm, aku hanya ingin Anda membantuku. Apa bisa?"


"Bantu apa?"


"A-apa? Se-sejak kapan kamu melepasnya? Biasanya tidak, 'kan?" Ia kaget dan gelagapan.


"Sejak dianjurkan sama dokter Rahmi. Katanya, bagus untuk melancarkan peredaran darah dan melancarkan organ pernapasanku. Tadi, aku ketiduran dan belum sempat melepasnya. Kebetulan yang ini sulit dilepas." Entahlah cara ini berhasil atau tidak. Semoga.


"A-apa?" Dia gugup.


"Anda tidak mau membantu? Ya sudah, tak masalah." Aku lantas melepas piyamaku.


"Bi-bisa sayang, aku bisa bantu," jawabnya cepat.


Aku mengulum senyum. Pak Zulfikar mudah sekali kuperdaya. Sekarang, ia sedang memeluk dan menghidui tengkukku. Ya ampun. Jika bisa begini, maka bisa begitu.


"Sayang, kamu juga harus membantuku, bisa?" bisiknya.


"Boleh, apa yang harus kulakukan? Apa Anda mau kupijat?" godaku.


"Ya ampun sayang, kamu memang paling bisa membuatku mabuk kepayang. Tolong bantu buka ini. Aku juga tiba-tiba kesulitan membukanya." Seraya menunjukkan daerah yang harus kubuka. Pipiku langsung memanas. Malu sekali, malu tapi mau.


Kemudian, raga ini seolah terhipnotis. Begerak patuh mengikuti kehendaknya, dan pasrah begitu saja saat ia menyentuh serta bermain-main di sekujur tubuhku hingga aku lemas dan hampir kehilangan energi.


"A-apa sa-sakit?" tanyanya dengan suara pelan.


"Ti-tidak," lirihku sembari memeluk lengannya.


"Kalau tidak sakit, berarti?"


Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Ini teramat memalukan.


"A-apa kamu merindukanku?"


Aku juga masih tidak bisa menjawab pertanyaannya.


"Diam berarti ya, terima kasih sayang." Dia membuat kesimpulan sesuka hatinya.


Saat merasakan semua ini, aku jadi tersadar akan sesuatu. Ya, adakalanya, di antara kesenangan ada sesuatu yang berubah menjadi duka lara. Sebaliknya, di saat susah payah sedang menyelimuti rasa, terkadang rasa senang datang dan kembali menjadi suka cita.


Itulah kehidupan. Selama hayat masih dikandung badan, siklus itu akan terus terjadi. Tanpa susah dan resah, aku mungkin tak pernah mengerti akan rasa senang dan tenang. Tanpa mengenal rasa pahit, aku mungkin tidak paham akan rasa nikmat dan rasa manis. Tanpa ada rasa sakit, aku mungkin tidak tau bagaimana nikmatnya rasa sehat badan yang bugar dan segar.


"Ka-kamu cantik," bisiknya. Dia selalu memujiku. Padahal, aku tak pernah sekalipun memujinya.


"Ka-katakan sesuatu sayang, ja-jangan diam saja," protesnya.


Rupanya, d e s a h a n k u yang mengalun memenuhi ruangan, belum cukup untuk membuatnya yakin jika akupun sangat menyukai dan menikmatinya.


"Say something baby, please ...."


Dia kembali merayuku. Lalu aku merengkuh tengkuknya untuk menghadiahinya dengan sesuatu yang manis nan hangat, hingga ia bergumam-gumam, mengerang, berdecak, dan membalasku dengan hal-hal yang membuatku merasakan kenikmatan dan kesenangan yang melebihi rasa sebelumnya.


'Tok, tok, tok.'


Suara ketukan di pintu kamar, membuat kami terkesiap. Padahal, tubuhnya belum melampaui batas. Kepalaku menggeleng. Maksudku, memintanya untuk menuntaskannya. Ia setuju, namun ketukan di pintu itu semakin kencang.


'TOK, TOK, TOK.'


"Pak Zulfikar, ini Kang Hendra. Punten (maaf) mengganggu. Ada tamu yang ingin mencari Bapak. Penampilan mereka seperti preman."


Aku membelakan mata, tubuh ini spontan gemetar dan jantungku berdegupan.


"Cepat Pak. Kang Hendra agak takut. Mana abah enggak ada lagi. Dari cara bicara dan raut wajahnya, mereka kayak bukan orang baik," tambah kang Hendra.


"Kok bisa mereka tahu aku ada di sini? Di jam sepagi ini?" gumamnya. Gelagatnya menunjukkan kepanikan. Namun ia belum beranjak dari tubuhku.


"Pak ...."

__ADS_1


"Ssst, jangan takut sayang. Aku ke sini tidak datang berdua dengan Dewi saja. Sebenarnya, ada beberapa pengawal yang mengikutiku. Mereka ada di penginapan di samping pondoknya Putra," jelasnya. Fakta itu membuatku sedikit tenang namun tak lantas menghilangkan rasa takut ini.


"Tunggu ya Kang Hendra, lima menit lagi," teriaknya.


"Baik, Pak," sahut kang Hendra.


"Pak Sabil sudah memerediksi hal ini. Aku membawa pengawal atas arahannya."


Perasaan ini teramat kacau. Ketakutan dan kesenangan, seolah bercampur menjadi satu.


"A-apa pengawal Anda dapat dipercaya? Bagaimana kalau mereka kalah? Sedangkan Anda sendiri tidak bisa bertarung seperti pak Sabil. Bapak hanya gagah perkasa saat di atas ranjang," keluhku.


"Apa? Beraninya kamu memuji pria lain di saat seperti ini." Dia lantas menggigit telingaku hingga aku mengaduh.


"Ta-tapi, yang kutakan benar, 'kan?"


"Kalaupun aku tak sehebat pak Sabil, tapi aku bisa memastikan keamananku. Jangan bandingkan aku dan pak Sabil, dia perwira polisi."


"Punten (maaf), Pak."


"Tidak apa-apa sayang. Oiya, pengawalku bukan sembarang orang. Jadi, kamu jangan takut."


"Ma-maksudnya?"


"Pengawalku polisi Metro," bisiknya.


"Be-benarkah?"


"Ya sa-sayang ...."


Kemudian ia menyerangku dengan jurus pamungkasnya. Hingga akhirnya ... kehangatan itu datang menerjang dan meluluhkan segenap kerinduan yang selama ini merundung jiwa membelenggu raga.


Masih ada waktu sekitar dua menit lagi. Ia memeluk tubuh lelahku sambil menyeka lelehan peluh yang membasahi wajahku.


"Terima kasih ya sayang. Aku sangat puas. Kamu luar biasa. Tetap di kamar ini, kunci pintunya, dan jangan pernah keluar dari kamar tanpa seizinku." Aku mengangguk lemah. Lalu ia melakukan panggilan.


"Pak Sabil, kamu benar. Mereka datang. Perintahkan mereka untuk datang ke rumahnya Hanin," katanya.


"...."


"Aku yakin ini ulah seseorang. Aku curiga dengan sekretarisku. Cepat perintahkan seseorang untuk membuatnya menyesal. Kurang ajar, dia berani main belakang. Padahal, aku sudah memaafkan dan memberinya kesempatan."


Lalu menelepon seseorang lagi sambil sibuk memakai kembali yang tadi sudah tertanggalkan. Ia menyelipkan ponsel di antara telinga dan bahunya.


"Dok, kamu harus berjaga di depan kamar Dewi ya."


"...."


"Sudah, lakukan saja. Jangan protes, gajimu bulan ini akan kubayar dua kali lipat."


Aku hanya mampu memperhatikan, ingin membantu mengancingkan kemejanya, namun tubuhku ini terlalu lelah dan agak sakit.


"Aku pergi ya sayang. Jangan khawatir, aku mencintaimu dan tentu saja akan bertanggung jawab sepenuhnya atas keselamatan keluarga kamu. Biar nanti kujelaskan semuanya pada abah dan ummi."


Dia pergi setelah mengecup kening, cuping hidung, dan bibirku.


"Hati-hati," lirihku.


...⚘️⚘️⚘️...


Listi Anggraeni


"Hmm, ha-haloh."


"Wah, suaramu seksih."


"Suara kamu kayak kodok kecekik."


"Hahaha."


"Issh, Pak Sabil! Berpikir dong! Ini jam berapa?! Gue lagi tidur!"


"Lah kamu menerima panggilanku. Berarti enggak lagi tidur, 'kan?"


"Seterah! Suka-suka Anda! Ada apa, 'sih? Cepat katakan! Gue mau melanjutkan kembali mimpi yang tertunda gara-gara Anda!"


"Aku ada pekerjaan untuk kamu."


"Pekerjaan? Siapa Anda? Anda bukan atasanku! Anda musuhku. Kenapa Anda suka sekali mengganggu hidupku, hahh?"


"Dengar, ini perintah pak Direktur."


"Apa?!"


"Pekerjaannya mudah 'kok. Tolong bawa wanita bernama Tania atau sekretarisnya pak Zulfikar ke alamat yang nanti akan kukirimkan."


"Apa?!"


"Kamu tidak tuli, kan? Biar lebih jelas, aku VC ya."


"Apa?! Hey, tak perlu!" Namun dia benar-benar melakukan VC. Sialnya, malah aku terima.


Aku melongo ketika melihat penampilannya di depan layar. Aku melihat roti sobek, dan dada yang b e r b u l u. Tangannya dilipat ke atas kepala. Apa dia sengaja memperlihatkan bagian itu? Ya, aku melihat b u l u ketiaknya.


"Hahaha, kenapa? Kamu tadi menelan saliva, bahkan tak berkedip sama sekali. Apa kamu terpesona dengan tubuhku?"


"A-apa?! Tidak! Jangan asal tuduh ya! Aku tidak suka sama cowok yang b e r b u l u. Anda ternyata jorok ya! Masa b u l u ketiak dipelihara."


"Hahaha, ini namanya LAKIK. Lagi pula, yang kubiarkan tumbuh hanya sedikit, dan aku telah mengurusnya seperti anak sendiri. B u l u ketiakku adalah kedelai mutiara hitam yang sangat berharga, Mallika," ocehnya.


"Apa?!" Jadi, dia berpikir jika b u l u di tubuhnya adalah kecap?


"Gue menolak tugas itu!" tegasku sambil memalingkan wajah.


"Kalau kamu menolak, berarti harus siap-siap dipecat. BTW wajah bareface kamu lumayan juga."


"Sudah ya Pak Sablon. Aku tidak percaya dengan tugas itu sebelum pak Direktur sendiri yang menghubungiku secara langsung.


"Aku tidak menerima penolakan. Pokoknya, besok pagi, aku akan ke rumah kamu."


"Apa?!"


Dia malah senyum-senyum.


"Pak Sabil!"


"Apa."


"Jangan main-main ya, untuk apa Anda ke rumahku?"


"Untuk mengatakan pada kedua orang tuamu kalau kamu sudah dipecat dari perusahaan karena melalaikan tugas dari pak Zulfikar. Hahaha."


"Apa?!" teriakku.


"Sudah ya, wajah dan penampilan kamu terlalu jelek. Jadi, aku tak bisa tahan lama-lama VC sama kamu." VC berakhir.


"Aaargghh! Dasar manusia b e r b u l u!" rutukku sambil mengamuk di atas tempat tidur hingga sprei menyingsing, bantal dan guling berjatuhan ke lantai.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2