Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Mengaguminya


__ADS_3

"Terima kasih, sayang," sekarang senyum-senyum sambil memelukku.


"Sama-sama," jawabku.


"Besok aku libur, apa kamu mau pergi ke suatu tempat?"


"Kalau ke Bandung?"


"Masa ke Bandung terus sayang? Ke tempat yang lain 'kek."


"Supaya bisa sekalian bertemu sama abah dan ummi, Pak."


"Kan abah dan ummi juga sebentar lagi mau ke sini menghadiri acara tujuh bulanan kamu. Ya, 'kan?" Tidak mau kalah.


"Hatczhim, hatczhim. Alhamdulillah." Aku bersin-bersin.


"Yarhamukillah," katanya.


"Yahdikumullah wa Yushlihu Balakum," sahutku


"Sayang, kamu flu?" Ia segera bangun dan memeriksaku.


"Bersin-bersin itu belum tentu flu, Pak. Bisa jadi karena alergi."


Bagaimana tidak flu, hari ini, aku sudah tiga kali keramas. Semalam, tadi sore, dan baru saja. Apa dia akan menyadari perbuatannya? Kita lihat saja respon selanjutnya.


"Memangnya kamu ada alergi? Sudah pernah cek alergi? Kalau belum, besok kita cek saja ya." Sambil mengambil minyak hangat. Lalu melumuri leherku dengan minyak hangat tersebut. Rupanya, dia belum sadar kalau aku bersin-bersin akibat keseringan keramas.


"Setahuku tidak ada." Sambil menahan tangannya yang hendak melumuri minyak hangat ke bagian lain.


"Kenapa?"


"Pak, cukup di leher saja, terima kasih."


"Sayang, hidung itu berhubungan dengan sistem pernapasan. Sistem pernapasan otomatis bersinergi dengan paru-paru. Dan paru-paru itu letaknya ada di dada kamu. Jadi, wajar 'kan kalau aku memberi minyak hangat di bagian dada kamu." Kali ini, ia menggunakan alasan teoritis.


"Aku senang Bapak inisiatif, tapi ... apa Bapak yakin tangannya bisa diamankan? Yakin hanya mengolesi minyak hangat saja?"


"A-apa?! Hahaha, aku paham sayang."


Dia malah terbahak setelah menyadarinya. Aku tersenyum hambar. Rasanya, ingin protes atas sikapnya yang akhir-akhir ini begitu ageresif, posesif, dan mendominasi.


"Maaf ya sayang. Aku tidak bisa menahannya. Terkadang, aku juga heran karena hasratku terus meningkat saat dekat-dekat dengan kamu. Tapi, sekarang aku sudah tahu alasannya."


"Alasan? Alasan apa, Pak?"


"Alasan kenapa aku sangat suka melakukan itu." Telinganya agak memerah saat mengatakan kalimat tersebut.


"Alasannya?" tanyaku.


"Perbawa orok, sayang," bisiknya.


"A-apa? Apa hubungannya, Pak?"


"Intinya, aku seperti itu karena ngidam sayang. Mengidamkan kamu," jelasnya sambil mengulum senyum.


"Bapak dapat teori itu mana? Dari dokter Rahmi?"


"Tidak penting dari mana asal teorinya. Karena yang terpenting adalah ... kita halal melakukannya dan suka sama suka. Betul apa betul?" Aku mengangguk setuju. Faktanya, aku memang tidak pernah menolak.


"Pak HP-nya nyala. Enggak diangkat?"


"Malas banget. Dari siapa 'sih? Ini 'kan jamnya istirahat," keluhnya. Lalu mengambil ponselnya dengan bermalas-malasan.


"Dewi? Haish, aku malas menerimanya." Malah diabaikan.


"Pak Zulfikar, maaf, aku tidak mau ikut campur, tapi ---."


"Sayang, hari ini dia sudah memfitnah kamu dan mengadu domba kita. Aku masih marah! Aku tak mau menerima panggilannya!"


"Ya sudah, terserah Bapak. Tapi, aku ingin mengatakan kalau sikap Anda sangat tidak terpuji."


"Baik, aku angkat." Ia menerimanya dan diloundspeaker.


"Mas ... a-aku sakit perut, Mas."


"Apa?!" Pak Zulfikar terkejut.


"Cepat ke kamarku, Mas."


"Kenapa tiba-tiba?! Baik, aku ke sana!" Ia bergegas dan terlihat panik.


"Pak, apa aku perlu ikut?"


"Tidak perlu," tandasnya.

__ADS_1


Ia bahkan tak menoleh lagi ke arahku. Fokus keluar dari kamar dengan tergesa. Syukurlah, pak Zulfikar ternyata masih memiliki sisi peduli pada bu Dewi.


...⚘️⚘️⚘️...


Zulfikar Saga Antasena


"Dewi, sejak kapan sakitnya?"


Setiba di kamarnya, aku segera menghampiri dan meyentuh perutnya. Dewi sedang melengking kesakitan.


"Sedari tadi, Mas. Tapi aku tahan-tahan. Ternyata, malah makin sakit."


"Apa kamu salah makan? Ya sudah, kita ke dokter ya," ajakku. Walaupun masih kesal akan ulahnya hari ini, namun aku tak tega membiarkannya dalam keadaan sakit.


"Tidak perlu, Mas. Kamu pijat aku saja ya."


"Wi, aku tidak bisa memijat orang yang sakit perut. Begini saja, kalau kamu tidak mau ke dokter, aku panggilkan Juju atau Ipi untuk memijat kamu ya."


"Mas, aku maunya dipijat sama kamu." Sambil memegang tanganku.


"Wi, tunggu. Kamu tidak sedang pura-pura, 'kan?"


"Mas, kamu tega sekali. Ya tidak 'lah, Mas. Perutku memang sakit."


"Baik, aku percaya. Aku telepon dokter Rahmi supaya ke sini ya."


"Tidak perlu, Mas. Aku mulai membaik."


"Secepat itu?" tanyaku heran.


"Ya Mas, mungkin ... karena kamu datang."


Dewi lantas memelukku. Sudah kuduga, ini pasti hanya akal-akalannya saja. Aku sebenarnya ingin protes, tapi malam ini, aku sedang malas bertengkar dengannya.


"Ya sudah, aku temani kamu sampai jam dua belas ya."


"Kenapa enggak sampai pagi, Mas?"


"Wi, aku rujuk dengan kamu poin utamanya adalah demi anak kita. Tapi baiklah, malam ini aku temani kamu. Aku izin Hanin dulu ya."


"Silahkan, Mas."


Aku menggunakan telepon pararel untuk meminta izin karena ponselku dibawa.


'Tok tok tok.' Tiba-tiba, ada yang mengetuk pintu kamar.


"Biar aku saja yang buka." Aku beranjak.


Tampak dua orang polisi yang bertugas menjaga rumahku sudah berada di depan kamar.


"Ada apa?! Kalian 'tuh ganggu, tahu!" Dewi langsung marah.


"Wi, sabar. Mereka ke sini pasti ada alasannya," ujarku sembari tersenyum. Polisi-polisi itu adalah anak buahnya pak Sabil.


"Ada info penting untuk bu Dewi. Info itu kami dapat dari sahabat kami yang bertugas menjaga rumahnya pak Pratama Surawijaya," jelas salah satu polisi.


"Ada apa? Cepat katakan! Papi dan mamiku baik-baik saja, 'kan?" Dewi jadi cemas. Aku segera memegang tangannya.


"Emm, be-begini Bu, pak Pratama Surawijaya dilarikan ke rumah sakit."


"Apa?! Kenapa?! Kenapa papiku dibawa ke rumah sakit?! Apa ada yang menyerangnya?!" teriak Dewi.


"Wi, tenang. Pak, mari kita bicara pelan-pelan. Apa aku bisa berbicara langsung dengan seseorang untuk mengetahui situasi sebenarnya?"


"Bisa, Pak. Silahkan bicara saja dengan temanku yang berjaga di sana." Menyodorkan ponselnya padaku.


"Mas, huuu. Bagaimana ini, Mas? Aku takut papi kena serangan jantung."


"Sst, tenang. Sini, aku peluk kamu biar tenang. Beri aku waktu untuk bicara sama polisi yang menjaga rumah kamu."


Aku berusaha menenangkannya. Sebagai pria sejati, aku tidak bisa membiarkan wanita menangis. Ya, walaupun Dewi jahat, dia tetaplah calon ibu dari darah dagingku. Panggilan telah terhubung pada polisi yang dimaksud.


"Halo."


"Aku Zulfikar."


"Ya, Pak. Hormat saya untuk Bapak."


"Terima kasih. Cepat jelaskan kronologi singkatnya. Kenapa mertuaku harus dibawa ke rumah sakit?"


"Baik Pak. Izin melaporkan. Sekitar lima menit yang lalu, saya dan rekan-rekan dikagetkan oleh teriakan bu Silfa yang meminta tolong. Bu Silfa berlari ke pekarangan dan mengatakan jika pak Pratama jatuh di kamar mandi. Saat kami tiba di kamar mandi yang dimaksud, pak Pratama ditemukan dalam keadaan sudah tak sadarkan diri. Seperti itu, Pak."


"Baik." Aku mengembalikan HP milik polisi.


"Papi, huuu." Karena diloudspeaker, Dewipun mengetahuinya.

__ADS_1


"Kamu, tenang. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Kamu tetap di sini."


"Tidak bisa, Mas. Aku harus ikut. Papi, papi, huuu," ratapnya.


Tangisan Dewi akhirnya menarik perhatian penghuni rumah termasuk Hanin. Mama, para pekerja, dan papaku yang masih menggunakan kursi rodapun mendatangi kamar Dewi. Kak Gendis tidak datang karena posisi kamarnya ada di lantai tiga. Pasti tidak mendengar keributan ini.


"Ada apa, Zul?" tanya mama.


Yang lainnya menatapku penuh tanda tanya. Sementara Hanin, dia hanya memandangku dari jarak yang lumayan jauh. Aku lantas menjelaskannya.


"Kamu cepat ke rumah sakit sekarang, Zul!" titah papa.


"Baik, Pa."


"Huuu, ini semua pasti ada hubungannya dengan masalah yang terjadi antara Mas Zul dan papiku. Papiku bisa saja merasa tertekan karena hubungan buruk kita, Mas." Dewi seolah menyalahkanku atas kejadian ini.


"Wi, maksud kamu apa?"


"Karena kamu dan papiku tidak harmonis lagi, Mas. Kamu 'kan Mas yang memfitnah papiku menjadi dalang penculikan pada Daini?" Dewi kian menjadi-jadi.


"Dewi! Ka ---."


"Zul! Diam!" sela papa.


Suasana jadi tegang. Saat kulirik, Hanin tengah menunduk. Tangannya mencengkram kuat sisi gamisnya. Aku yakin dia sedang menyalahkan dirinya sendiri. Sampai saat ini, dia selalu merasa jika dirinya adalah sumber masalah dan kemelut yang terjadi antara keluargaku dan keluarga Dewi.


"Dewi, Papa dan Zul tidak pernah menuduh dan memfitnah siapapun. Jikapun benar nama pak Pratama Surawijaya ada dalam daftar tersangka, hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Papa dan Zul. Sebab, yang menyelidiki kasus itu bukan Papa ataupun Zul. Polisi yang melakukan penyelidikan, Wi. Jika kamu ingin protes, maka proteslah pada polisi," tegas papa. Lalu, ia memutar kursi rodanya dan meninggalkan kerumunan.


"Huuu." Dewi tidak membantah. Tapi malah menangis sambil memelukku.


Setelah papa pergi, semuanya membubarkan diri kecuali Hanin. Hanin mendekat, kemudian mengusap punggung Dewi. Matanya berkaca-kaca. Aku menatapnya lekat. Walaupun raga ini sedang memeluk Dewi, namun jiwaku tetap terhubung pada Hanin.


"K-Kak Dewi," lirihnya.


"Aku selalu tidak beruntung, Daini. Huuu, sekarang papa Aksa juga seperti tidak sayang lagi sama aku. Mama Yuzepun enggak membelaku. Padahal, aku sedang mengandung cucu mereka."


"Kak, jangan syuudzon."


"Kamu enak Daini. Kamu disayang sama semua orang."


"Hanin, sudah. Kamu kembali lagi ke kamar ya. Aku mau ke rumah sakit," bujukku.


"Ba-baik," ia patuh. Wajahnya tampak sedih. Beberapa kali menatap Dewi dan menghela napas.


"Aku mau ikut, Mas." Dewi bersikukuh.


"Tidak Wi. Kamu istirahat, aku akan menyuruh Ipi untuk menemani kamu."


"Ya sudah."


Ia melengos ke kamarnya dan terus menangis. Aku bersiap ke rumah sakit bersama dua orang pengawal dan pak Reza setelah memastikan Dewi sudah ditemani oleh Ipi.


"Sayang, bisa peluk aku?" Sebelum pergi, meminta dipeluk Hanin dulu.


"Bi-bisa," jawabnya.


"Bisa cium aku?" Lanjut meminta dicium. Aku menunduk dan mendekatkan wajahku. Hanin mengecup keningku.


"Sudah," katanya.


"Sayang, di sini belum." Aku menunjuk bibirku.


"Astaghfirullah," gumamnya pelan sambil tersenyum.


"Kesal ya sayang? Makanya, kamunya jangan terlalu cantik dong," godaku. Lalu mengigit sedikit bibirnya karena gemas.


"Awh! Pak, enggak lucu tahu! Papinya bu Dewi sedang di rumah sakit, masa Bapak malah bercanda?" protesnya. Ya ampun, Hanin kalau sedang marah malah makin cantik.


"Hanin, pak Reza belum memanggilku. Artinya, mereka belum siap berangkat ke rumah sakit. Jadi, tidak ada salahnya 'kan kalau aku meluangkan waktuku bersama istriku sendiri?"


"Harusnya ---."


"Kamu mau bilang harusnya aku bersama Dewi, 'kan?" selaku. Hanin langsung menunduk.


"Ya sudah, aku pamit dulu. Kamu istirahat oke?"


"A-aku mau ngaji dan berdoa untuk kesembuhan papinya bu Dewi."


MasyaaAllah. Padahal, Hanin sudah tahu kalau papinya Dewi diduga terlibat kasus penculikan yang nyaris membahayakan nyawanya dan juga nyawaku. Tapi, dia masih berbaik hati mendoakan papi.


Daini Hanindiya Putri Sadikin, bagaimana aku tidak jatuh cinta setiap hari coba? Sikapmu, budi pekertimu, dan semua hal yang ada pada dirimu, selalu membuatku kagum. Aku kembali memeluknya seraya bersyukur karena telah diberi kesempatan untuk memiliki dan mengenalnya.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2