
Ipi
'Kok ada ya orang yang seberuntung itu? Sudah cantik, baik, menikah sama konglomerat pula. Eh, pas hamil anaknya kembar. Mana sepasang lagi kembarnya. Kalau bisa berandai-andai, aku ingin bertukar nasib dengan bu Daini. Aku yang jadi bu Daini, bu Daini yang jadi aku.
Aku memandang ke bed pasien sambil tersenyum. Bu Daini baru saja selesai ditransfusi kantung ke dua. Besok, kata dokter, kalau hasil Hb-nya bagus, akan diperbolehkan pulang. Pak Zulfikar sudah minta izin pada suster agar bisa tidur di bed pasien bersama bu Daini.
Mau tidak mau, dokterpun mengizinkan dengan syarat tidak mengganggu kenyamaman bu Daini. Kupikir, pak Zulfikar akan menginap di rumah bu Dewi, tapi dugaanku salah. Ternyata, pak Zulfikar kembali lagi.
Kalaupun misalnya aku dijadikan istri ke tiga atau keempatnya, rasanya aku mau-mau saja. Sebab, pak Zulfikar adalah pria idaman. Kaya-raya, ganteng, dan cerdas dalam berbisnis.
Aku terus menatap mereka. Sedang membayangkan jika yang dipeluk oleh pak Zulfikar saat ini adalah aku. Andai nanti suamiku setampan pak Zulfikar, aku pasti rela melayaninya siang dan malam.
Awalnya, aku tidak bersimpati pada bu Daini. Aku bahkan sangat membencinya. Dulu, di mataku, dia tidak lebih dari pelakor dan wanita munafik yang menyembunyikan kejahatannya di balik hijab panjang dan kecantikannya.
Tapi, setelah beberapa fakta terungkap, dan aku sering mendengar bu Daini mengaji, lalu sering melihat cara bu Daini beribadah dan memperlakukan semua orang dengan sangat baik dan sopan, kebencian itu perlahan memudar.
Yang paling berkesan adalah, saat bu Daini tiba-tiba memberiku obat anti nyeri ketika aku sedang datang bulan. Saat itu, aku murung dan mencuci piring sambil melamun. Saat orang lain menuduhku malas-malasan dalam bekerja, bu Daini menghampiriku dan berkata ....
"Ipi lagi sakit ya? Ya sudah, kalau lagi sakit, Ipi istirahat saja. Biar nanti aku yang bilang sama mama Yuze. Kayaknya Ipi lagi datang bulan. Ke kamarku yuk! Aku ada obat pereda nyeri."
Saat itu, sebelum aku mengatakan apapun, bu Daini sudah terlebih dahulu menuntun tanganku menuju ke kamarnya. Tidak hanya obat anti nyeri, bu Daini juga memberiku jilbab dan mukena yang masih baru. Dia bahkan sempat memujiku.
"Ipi itu cantik lho. Apa lagi kalau berhijab, pasti akan lebih cantik. Tapi, kalau Ipi belum mau memakainya, tak masalah," katanya. Ia tidak sungkan memakaikan jilbab ke kepalaku. Bahkan, mengusap keringat yang mengalir di pelipisku dengan tangannya sendiri.
Kejadian itu membuatku percaya jika cinta satu malam antara pak Zulfikar dan bu Daini memang tanpa rekayasa. Mereka benar-benar melakukannya tanpa disengaja, dan hal itu juga sudah dibuktikan oleh pernyataan dari pihak kepolisian.
Aku pura-pura merapikan barang-barang saat pak Zulfikar terbangun. Ia bangun perlahan. Sepertinya hendak ke kamar mandi. Lalu duduk di sisi bed sambil menatap wajah bu Daini.
"Cantik," gumamnya. Kemudian mengecup kening dan perut bu Daini. Barulah beranjak ke kamar mandi.
"Kamu lagi beres-beres? Malam-malam begini? Memangnya tidak bisa kalau beres-beresnya besok saja? Jangan sampai aktivitas kamu mengganggu istriku," kata pak Zulfikar dengan suara pelan saat ia menyadari keberadaanku.
"Baik, Pak."
Kalaupun galak, pak Zulfikar tetap tampan menawan. Ia dan bu Daini memang serasi. Aku menatap punggung lebarnya saat memasuki kamar mandi. Ya ampun, beruntung sekali bu Daini dan bu Dewi.
...⚘️⚘️⚘️...
Zulfikar Saga Antasena
"Ini hasil labnya, Pak. Kadar Hb-nya naik jadi 10,4 gram %. Jadi, hari ini diperbolehkan pulang. Bayinya juga baik-baik saja," jelas dokter penangung jawab.
"Alhamdulillah," sahutku dan Hanin.
Setelah dokter pergi, aku segera menghubungi pak Reza untuk mengurus administrasi. Tak lupa menghubungi Listi untuk mengatur ulang jadwal rapatku di hari ini. Selanjutnya, menghubungi mama. Mama sangat antusias. Namun, acara tujuh bulanan tetap diundur agar Hanin bisa istirahat dulu.
Aku juga menyampaikan keinginanku untuk pindah ke apartemen. Awalnya, mama dan papa tidak setuju, namun setelah kubujuk berulang kali, mama dan papa akhirnya setuju. Kesimpulannya, hari ini, aku dan Hanin akan pulang ke apartemen baru kami. Untuk menemani Hanin, aku memilih bu Juju dan pak Budi.
...⚘️⚘️⚘️...
"MasyaaAllah."
Tiba di apartemen, Hanin mematung bingung.
"Kenapa sayang?"
"Ini terlalu mewah, Pak."
"Yang mewah ini kamu, bukan apartemen ini," sambil memeluknya. Bu Juju dan pak Budi berpaling. Saat melihatku memeluk Hanin, mereka segera pergi.
"Emm, apa bu Dewi punya apartemen seperti ini juga?" Dia selalu memikirkan Dewi.
"Punya sayang, masalah harta, sepertinya aku merasa sudah adil, tapi untuk masalah perasaan, aku belum yakin." Lalu menuntunnya menuju kamar utama.
"MasyaaAllah." Lagi, dia berdecak kagum. Matanya mengitar kamar utama.
"Tunggu, ini kursi apa, Pak? Aku baru lihat ada sofa bentuknya seperti ini." Ia mendekati sofa khusus pasangan suami-istri yang sengaja kubeli.
"Yakin kamu tidak tahu ini sofa apa?" Sambil memeluknya dari belakang.
"Serius Pak. Aku tidak tahu. 'Kok bisa sofa tidak ada sandarannya. Untuk apa coba? Bentuknya juga aneh." Ia menautkan alisnya dan mencoba mendudukinya.
"Hahaha, ia sofa khusus untuk ...." Aku membisikan fungsinya.
"A-apa?" Ia terkejut dan mengerjapkan mata. Pipinya langsung merona.
"Mau dicoba sekarang?" bisikku.
"Ti-tidak mau, Pak. A-anda harus kerja, 'kan? Aku juga baru pulang dari rumah sakit. Belum siap," tolaknya.
"Hahaha, aku bercanda sayang. Tapi, nanti malam harus siap ya." Menggodanya selalu membuatku bahagia dan bersemangat.
"Aku tidak janji ya, Pak." Sambil mengurai tanganku yang melingkari pinggangnya.
"Sayang, kata dokter juga kamu sudah sehat. Hey my boy, hey my girl. Apa kalian merindukan Daddy?" Aku berlutut dan menempelkan telingaku di perutnya. Hanin membelai rambutku sambil terkekeh.
"Apa? Oh, kalian merindukan Daddy? Baiklah, nanti malam ya. Hehehe, nanti malam, Daddy akan mengunjungi kalian." Lalu menyingkap gamisnya dan melabuhkan beberapa kecupan di perutnya.
"Cu-cukup Pak. Geli," keluhnya.
"Baiklah, aku akan bersabar sampai nanti malam." Aku kembali memeluknya. Rasanya tidak sabar ingin segera malam hari dan beraksi dia atas kursi panas itu.
"Bapak mau berangkat jam berapa?" Sambil merapikan dasiku.
"Sekarang sayang. Kamu baik-baik jaga rumah ya. Jangan kecapekan. Kalau mau sesuatu, segera lapor sama pak Budi atau bu Juju. Atau, bisa langsung meneleponku."
"Baik, hari ini, aku mau tidur-tiduran saja, Pak."
"Boleh sayang. Silahkan bermalas-malasan sesuka hatimu. Tidur dan makan yang banyak ya, biar nanti malam, kamu punya banyak energi untuk melayaniku." Aku tiada henti menggodanya. Dan itu terasa menyenangkan.
"InsyaaAllah," jawabnya.
Lalu mencium tanganku. Hanin juga mengantarku sampai ke basement khusus yang hanya diperuntukkan untukku. Pak Budi dan bu Jujupun mengantar. Basement ini terhubung dengan ruang terbuka hijau. Sudah kuduga, ruang terbuka hijau adalah area favoritnya. Ia antusias menuju ke sana.
"Wah, aku mau beli benih, aku mau bercocok tanam," ujarnya.
"Sayang, untuk saat ini, aku belum mengizinkan. Aku khawatir kamu kelelahan. Bercocok tanamnya nanti malam saja ya."
__ADS_1
"Hahaha," pak Budi spontan tertawa. Bu Juju hanya tersenyum. Hanin memukul bahuku.
"Memang enggak sekarang, Pak. Maksudku, nanti setelah acara tujuh bulanan. Oiya Pak, masa untuk acara tujuh bulanan aku enggak bantu-bantu?"
"Tidak sayang, kamu tetap di sini. Pokoknya, kamu terima jadi saja. Mama dan papa juga melarang kamu terlibat. Mereka khawatir kamu kelelahan. Sudah, jangan dipikirkan." Sambil mengusap kepalanya.
"Mama dan papa terlalu baik."
"Tenang saja, mama dan papaku juga akan menggelar acara yang sama untuk tujuh bulanannya Dewi. Jadi, kamu jangan merasa tidak enak hati ya sayang."
"Baiklah."
Lalu aku memeluknya dan berpamitan untuk yang kesekian kalinya. Kadang, aku juga merasa heran. Kenapa Hanin selalu membuatku mabuk kepayang? Andai tidak ada bu Juju dan pak Budi, aku pasti sudah menyesap bibirnya. Pada akhirnya, aku harus melambaikan tangan dan pergi. Aku melemparkan kiss jarak jauh. Lalu Hanin menangkapnya dan disimpan di dalam sakunya. Lucu dan cantik sekali. Jika terus menatapnya, bisa-bisa aku tidak jadi bekerja.
...⚘️⚘️⚘️...
"Tumben kamu jam istirahat tidak ke kantin," protesku pada Listi yang saat ini malah melamun sambil meletakan kepala pada meja kerjanya.
"Aku lagi puasa sunah, Pak. 'Kan sekarang hari Senin."
"Apa?! Hahaha, pantas saja di luar terlihat cerah. Ternyata, ada yang puasa sunah untuk pertama kalinya," ledekku.
"Jangan begitu dong Pak Direktur, memangnya Daini doang yang bisa puasa. Tapi, semalam enggak sempat sahur. Jadi agak lemas," keluhnya.
"Ya ampun. Harusnya kamu sahur dulu. Hanin juga kalau mau puasa sunah suka sahur dulu."
"Jangan bandingkan aku sama Daini, Pak. Diamah level imannya beda sama aku. Daini itu matiin semut saja enggak berani tahu, Pak."
"Hmm, aku tahu. Aku pernah melihatnya menyelamatkan semut yang tenggelam di air teh manis. Dia memang wanita yang langka." Sambil memejamkan mata guna membayangkan sosoknya.
"Oiya, kenapa Pak Direktur cancel agenda rapat yang jam setengah tiga sore? Apa ada rapat mendadak?" tanyanya.
"Rapat mendadak 'sih enggak ada. Tapi, sudah ada janji sama pak Sabil."
"A-apa?! Pak Sabil?" Mendadak panik.
"Biasa saja kali Listi. Mendengar nama pak Sabil, respon kamu tadi berlebihan tahu."
"Masa 'sih? Perasaan biasa saja," elaknya.
"Kamu siapkan kopi kesukaan pak Sabil ya. Jam dua tepat dia mau ke sini."
"Apa?!" Semakin panik.
"Pak Sabil ada informasi penting yang harus disampaikan padaku. Ini terkait dengan kematiannya papi Surawijaya," jelasku.
"Benarkah? Ya sudah, dia biasanya minum kopi apa, Pak?"
"Kamu 'kan calon istrinya.Ya tanya langsung sama pak Sabilnya 'lah."
"Pak Direktur! Ya sudah 'deh, aku akan menyiapkan kopi yang ada saja."
Dia bergegas ke pantri. Tunggu, ada yang aneh dengan penampilan Listi hari ini. Biasanya dia memakai rok sebatas lutut, sekarang jadi memakai maksi di atas mata kaki. Bajunya juga cukup longgar.
"Aku akan datang bersama pak Ikhwan. BTW, calon istriku baik-baik saja, 'kan Pak?" Pesan dari Uu.
"Kerja profesional dong," candaku. Membalas pesannya.
"Cepat halalkan dong, Pak Sabil."
"Mau, Pak. Tapi dia minta waktu untuk shalat hajat dulu. Katanya mau menunggu jawaban dari langit."
"Oya? Bagus. Ya sudah, Pak Sabil sabar saja dulu. Kalau sudah jodoh tak 'kan kemana."
Lalu pintu kantorku terbuka. Ternyata pak Sabil dan pak Ikhwan.
"Pak Sabil!" Sial! Dia mengerjaiku.
"Hahaha." Malah tertawa. Matanya mengitari ruanganku.
"Listi lagi di pantri," jelasku.
"Mau apa dia di pantri?" tanyanya di saat pak Ikhwan sudah duduk dan siap dengan berkasnya.
"Mau bikin kopi. Aku juga enggak yakin 'sih. Jujur, baru kali ini menyuruhnya bikin kopi. Biasanya sama OB."
"Pak Zulfikar, izinkan aku menemui Listi. Kata ibu dan bapaknya, Listi itu enggak pandai melakukan tugas-tugas perempuan. Aku khawatir dia melakukan hal bodoh yang membahayakan. Takut tersiram air panas, Pak." Pak Sabil beranjak ke pantri dengan tergesa. Aku dan pak Ikhwan saling menatap. Lalu pak Ikhwan mengangkat bahunya.
"Mereka sedang pdkt," jelasku.
"Oh, pantesan." Pak Ikhwan mengangguk-angguk.
...⚘️⚘️⚘️...
Listi Anggraeni Mutiara
Mendengar samar-samar percakapan di ruang kerja pak Direktur, aku jadi yakin kalau pak Sabil sudah tiba. Agak bingung juga mau membuat kopi. Serius, aku belum pernah membuat kopi seperti ini. Kalau kopi instan 'sih bisa. Tinggal seduh, jadi 'deh.
"Ya ampun mana enggak ada tulisannya lagi," ocehku. Di hadapanku berjajar enam kotak wadah yang berisi gula, kopi, susu bubuk, krimer, cokelat dan gula halus. Lalu tiba-tiba saja ada yang memeluk.
"Aaa!" Kaget.
"Hei, ini aku." Ternyata pak Sabil.
"P-Pak, le-lepas! Ini kantor jangan peluk-peluk."
"Aa kangen ayang, dan kenapa kamu memanggil 'bapak' lagi, hmm?" Malah memeluk semakin erat.
"Ya sudah, lepaskan A. Jangan begini ih." Aku berusaha mengurai tangannya.
"Hei, kita pasangan kekasih, wajar kali peluk-pelukan doangmah." Masih memelukku.
"Ti-tidak wajar A. Kalau A Abil memaksa, aku mau teriak," ancamku.
"Baik. Tapi, apa boleh aku cium pipi kamu dulu?"
"Ti-tidak boleh, A. Oiya aku baru ingat, aku lagi puasa sunah. Lepaskan, A. Takut puasaku batal."
__ADS_1
"Pu-puasa? MasyaaAllah. Maaf ya ayang." Akhirnya melepaskanku.
"Aku mau bikin kopi. Anda mau pakai apa saja? Terus, gulanya berapa sendok?"
"Benar mau membuat kopi untukku? Aku biasa pakai kopi satu sendok, gula satu setengah sendok, sama susu setengah sendok. Wah, akhirnya, hari ini aku akan merasakan kopi buatan ayang." Dia tampak bahagia.
"Kalau enggak enak jangan protes ya."
"Tidak akan ayang, walaupun tidak enak, aku pasti meminumnya." Dia terus memerhatikanku. Efeknya, aku jadi sedikit gugup.
"Jangan lihat aku terus A Abil."
"Kenapa memangnya? Gugup ya dilihat pacar?" godanya.
Walaupun aku tidak pernah mengatakan bersedia menjadi kekasihnya, dia tetap percaya diri dan mengakui jika kami sudah berpacaran. Tapi, faktanya memang seperti itu. Aku dan pak Sabil seperti sedang berpacaran. Anggaplah demikian.
"Aku tidak gugup. Biasa saja, 'tuh. Oiya, ini kopinya. Dicoba saja, kalau ada yang kurang, bisa ditambah sendiri yang kekuranganya." Aku menyodorkan kopinya untuknya.
"Baiklah ayang, aku coba ya. Terima kasih." Ia menyeruput kopi tersebut.
"Hmm, enak. Manisnya pas." Sambil mengacungkan jempol.
"Oiya, aku datang bersama pak Ikhwan. Tapi, pak Ikhwan tidak minum kopi."
"Terus, pak Ikhwan minum apa?"
"Biasanya teh manis. Ya sudah, biar aku saja yang membuat teh manis untuk pak Ikhwan."
Sekarang berubah posisi. Jadi aku yang memerhatikannya. Lalu bersama-sama kembali ke ruang kerja setelah ia membut teh manis untuk pak Ikhwan.
...⚘️⚘️⚘️...
"Pak Direktur mau minum apa?" Aku baru ingat kalau pak Direktur belum dibuatkan minuman.
"Tidak perlu, aku tadi sudah minum susu. Oiya, kami akan membahas hal penting, jika kamu tidak mau mendengarnya, kamu boleh pergi. Tapi, jika mau tetap di sini. Aku harap kamu bisa menjaga rahasia," tegas pak Direktur.
"Baik, Pak." Jelas, aku memilih tetap di sini. Sebab, aku juga penasaran dengan fakta-fakta di balik kematiannya pak Surawijaya.
"Aku percaya sama kamu," lanjut pak Direktur. Pak Sabil terus memandangku sambil mengulum senyum. Pak Ikhwan siap membacakan temuannya.
"Langsung saja, apa yang kalian dapatkan?" tanya pak Direktur. Aku menyimak.
"Sebenarnya, informasi ini sangat rahasia. Kami mendapatkan info ini dari orang dalam yang menangani kasus itu," kata pak Ikhwan. Sudah kuduga pak Direktur pasti main belakang.
"Listi, kamu jangan berpikir macam-macam ya, orang dalam yang dimaksud, adalah orang yang mau membantuku." Pak Direktur seolah mengetahui yang kupikirkan.
"Ya, Pak," sahutku.
"Lanjutkan Pak Ikhwan."
"Pak Abil, lanjutkan." Pak Ikhwan malah menyuruh pak Sabil.
"Baik, begini Pak. Fakta ini kita dapatkan dari barang bukti. Ternyata, sebelum jatuh di kamar mandi, pak Surawijaya sempat menerima panggilan dari seseorang. Selain telepon, mendiang juga ternyata menerima pesan berupa foto-foto dan vidio," jelas pak Sabil.
"Panggilan dari siapa?" Pak Direktur mengernyitkan alisnya.
"Dari nomor tidak dikenal, Pak. Dan nomor itu juga yang mengirimkan foto-foto dan vidio," lanjut pak Sabil.
"Foto-foto dan vidio seperti apa? Apa orang dalam kita menjelaskan detailnya?"
"Sayangnya, orang dalam kita tidak bisa memberikan copy vidio dan foto-fotonya, Pak. Hanya menjelaskan kalau itu adalah foto-foto syur seorang wanita yang memakai topeng, dan vidio adegan dewasa wanita bertopeng dengan beberapa orang pria yang juga memakai topeng," lanjut pak Sabil.
"Hmm, apa ada hubungannya panggilan dan pesan-pesan itu dengan kematian papi?"
"Dugaanku ada, Pak. Sebab, waktunya sangat berdekatan dengan waktu ketika bu Silfa beteriak memanggil polisi," sela pak Ikhwan.
"Apa polisi tidak mengenali identitas orang yang ada di vidio dan foto-foto itu?" Pak Zulfikar terlihat penasaran.
"Sedang diselidiki, Pak. 'Kan mereka memakai topeng. Oiya, aku sedang meminta orang dalam kita untuk mendapatkan satu foto yang ada di barang bukti. Dugaanku, pak Surawijaya memiliki hubungan atau bisa jadi mengenali wanita yang ada foto syur itu," duga pak Sabil.
"Apa dari sekian banyak foto pemerannya sama? Maksudku, apa ada indikasi wanita yang berbeda tapi sama-sama memakai topeng?"
"Tidak Pak Zulfikar. Pemeran wanita yang di foto dan vidio dewasa itu sudah dipastikan adalah orang yang sama. Sebab kata mata-mata kita, wanita itu memiliki tahi lalat di dekat **** ***** dan di bokong kanannya."
"A-apa?!" Pak Zulfikar tiba-tiba terkejut hingga berdiri dan menatap tajam pada pak Sabil.
"Kenapa, Pak?"
Pak Sabil kaget atas respon pak Zulfikar. Begitupun dengan pak Ikhwan. Aku juga sama. Kenapa ciri-ciri yang disebutkan membuat pak Direktur sangat terkejut?
"Ti-tidak mungkin! Mata-mata kita pasti salah lihat."
Pak Direktur menjatuhkan dirinya ke kursi. Lalu menundukkan kepala sambil memasygul rambutnya. Tangannya mengerat kuat hingga urat-uratnya menonjol. Kami saling berpandangan. Untuk sesaat, kami hanya terdiam.
"Tidak mungkin!" Lalu pak Direktur berdiri dan mengacak-acak berkas yang ada di mejanya.
"Pak Direktur!" Aku panik.
"Pak Zulfikar!" Pak Ikhwan dan pak Sabil berusaha menenangkannya.
"Aaarrgghh!" teriak pak Direktur. Lalu memukuli dadanya sambil mengatur napas.
"Pak, Anda tenang ya. Mari kita bicara. Bapak kenapa?" Pak Ikhwan bicara sambil merangkul bahu pak Direktur.
"Lepaskan!" Pak Direktur berontak. Wajahnya memerah. Lalu ia meninju sofa berulang-ulang.
"Biarkan saja," kata pak Sabil, ia menahan tangan pak Ikhwan yang hendak menenangkan pak Direktur.
"Biarkan ia meluapkan dulu emosinya," tambahnya.
"Rahasiakan masalah ini dari siapapun," bisik pak Sabil sambil memegang tanganku yang mendadak dingin karena tegang. Aku mengangguk.
"Aku harus pergi! Listi, kamu ambil alih tugasku!" titahnya sambil beteriak.
"Pak, Anda mau ke mana?" cegah pak Ikhwan.
Namun pak Direktur enggan menjawab. Beliau tetap pergi dengan wajah yang masih memerah karena emosi, dan sama sekali tidak menghiraukan panggilan kami.
__ADS_1
...⚘️⚘️⚘️...
...~Tbc~...