Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang
Banyak Bintangnya


__ADS_3

...[Warning!!! Adult Area!!!]...


Resepsionis langsung memberikan kunci tanpa bertanya apapun setelah pak Sabil menyodorkan ID Card milik pak Direktur.


Tiba di kamar yang dimaksud, aku melongo. Bagiku, kamar ini terlalu megah. Aku sampai mematung karena terkagum-kagum. Bukan hanya aku, pak Sabilpun sampai geleng-geleng kepala.


"Niat sekali Zulfi menyiapkan kamar semegah ini hanya untuk buka puasa. Hahaha."


"Maksudnya?" Aku tidak mengerti.


"Hari ini bu Daini 'kan sudah selesai masa nifasnya."


"Apa?!"


Ting, sebagai manusia dewasa, aku memahaminya. Oh, pantas saja pak Direktur menyuruh Daini ke kantor dan mengusirku dari ruangannya.


"Pada akhirnya, kamar ini malah menjadi kamar untuk malam pertama kita." Ia membalikan badan dan memelukku. Tangannya seenaknya saja menelusup ke dalam gaunku.


"Emm, A Abil, kata Daini juga bagusnya mandi dulu, wudhu dulu, shalat sunah dulu, dan baca doa dulu," terangku. Serius, aku gugup. Sebab, sorot matanya mulai berubah.


"Aku tahu tentang hal itu. Baik, bagaimana kalau kita mandi bersama saja?" ajaknya dalam keadaan masih memelukku.


"Mandi bersamanya nanti saja, A. Sekarang, ki-kita mandi masing-masing dulu ya."


Aku gugup. Tubuhnya bereaksi, aku bisa merasakannya saat ia memelukku, dan keadaan itu membuat jantungku berdentum-dentum.


"Baik. Siapa dulu yang mau mandi duluan, hmm?" Sekarang sambil mencium leherku. Lututku jadi sedikit lemas karena geli.


"A Abil dulu."


Setidaknya, selagi ia mandi, aku ada waktu untuk mempersiapkan mental dan tubuhku.


"Siap," bisiknya. Diakhiri dengan sebuah gigitan kecil di cuping telingaku.


.


Mandinya lumayan lama. Aku memeluk handuk dan cemas. Jadi membayangkan lagi kejadian malam itu. Apa aku yakin akan mencobanya?


Yakin, aku harus jadi istri yang baik. Aku memotivasi diriku sendiri. Lalu pintu kamar mandi terbuka. Aku spontan membelalak. Segera menutup mata agar tidak melihatnya. Handuk hotel itu terlihat kekecilan di tubuhnya.


"Kenapa tutup mata segala? Apa kamu tidak menyukai tubuhku?" tuduhnya.


"Su-suka A, aku suka. Emm, a-aku mau mandi dulu. Aa shalat sunah duluan ya."


Aku bergegas ke kamar mandi. Sungguh, otot-ototnya terlihat pas dan terpahat sempurna. Aku jadi gemas. Eh, 'kok jadi gemas ya? Di dalam kamar mandi, aku merutuki pikiran anehku.


.


Kami sudah melaksanakan sunah-sunah yang dianjurkan sebelum melakukan penyatuan.


Saat ini, kami sedang berbaring berhadap-hadapan. Ia menggunakan tangannya yang dilipat sebagai bantalan. Tengah menatapku dan tersenyum. Akupun menatapnya.


Ternyata, pak Sabil sangat tampan. Bibirnya merah alami dan lembab. Ia juga terlihat sangat bugar dan sehat. Aih, masa ya aku baru menyadarinya?


"Sudah siap belum ayang?" Pertanyaan itu membuat bulu kudukku berdiri.


"Si-siap," cicitku.


Suaraku? Kenapa jadi pelan begini? Kenapa juga pak Sabil jadi terlihat berwibawa dan gagah? Doa apa yang ia baca tadi? Apa ada doa khusus yang dirahasiakan Daini dariku?


Lalu ia mendekatkan tubuhnya.


"Inisiatif juga penting Kak. Saat Kakak membantu membuka baju pak Sabil, maka pak Sabil akan merasa bahagia dan dihormati."


Apa sekarang saatnya? Apa aku harus membuka bajunya?


Lagi, petuah dari Daini terngiang-ngiang. Tapi, baru juga tanganku hendak meraih kancing piyamanya, tangan pak Sabil sudah terlebih dahulu bertengger di dadaku dan membuka piyamaku. Dan aku malah mematung bingung. Aku akui, Daini sepertinya jauh lebih mahir. Dari caranya mengedukasiku, ia bisa dibilang sangat ahli alias pro.


"Kenapa, hmm?" bisiknya.


Ia bangun dan mengurung tubuhnya, sementara tangannya masih berada di sana. Tengah melakukan gerakan-gerakan lembut namun nakal.

__ADS_1


"Ti-tidak apa-apa, A."


Aku berusaha tenang. Lalu tangan ini begerak pelan demi meraih kancing piyamanya. Aku bermaksud untuk membukanya. Eh, kancingnya malah nyangkut dan sulit dibuka. Ia tersenyum saat menyadari masalahku. Ia mengecupi telapak tanganku berulang-ulang.


"Biar Aa saja yang buka."


Luar biasa, ia bisa membuka kancing piyamanya dengan gerakan cepat. Tahu-tahu, tubuh bagian atasnya sudah polos, dan kenapa tampak mulus sekali seperti kulit bayi?


Tiba-tiba, aku jadi ingin memegang dan mencium tubuhnya. Spontan kepala ini begerak untuk mencium dada dan mengusapnya perlahan di bagian perutnya.


"Kamu menyukai tubuhku?" Kenapa harus bertanya tentang itu 'sih?


"I-iya, su-suka." Lagi-lagi suaraku sangat kecil seperti sedang tercekik.


"Aku juga menyukai tubuhmu. Dari ujung rambut sampai ujung kuku kakimu, aku menyukainya. Malam ini, lakukan apapun yang kamu ingin lakukan pada tubuhku. Dan aku juga ingin menikmati tubuhmu seutuhnya. Apa kamu mengizinkannya?"


Kenapa harus bertanya 'sih? Hei, bukankah saat ini dia sedang menikmatinya?


"****."


Bukannya mengatakan ya, aku malah melenguh. Dia sedang me**m**ku. Tak sadar, aku memasyul rambutnya yang hitam kemilau sambil menyebut namanya.


"A Abil ...."


"Hhm ...," jawabnya.


Ia begitu asyik dengan dunianya. Aku pasrah. Selanjutnya, ia tiba-tiba membekapku dengan bibirnya.


Tubuhku seolah mengalirkan sesuatu yang tidak kupahami. Aliran itu membuatku mampu mengimbangi serangannya. Entah ada kekuatan dari mana, aku tiba-tiba sudah berbalik posisi. Jadi, saat ini, aku berada di atas tubuhnya. Aneh, kenapa aku jadi begini?


Keanehan itu terus berlanjut. Apa aku mendapat kekuatan dari bulan? Kenapa tanganku berubah menjadi nakal dan sewenang-wenang? Aku menarik bagian lain yang menghalangi tubuhnya.


"****, Ti-Tia .... A-ayang .... ****," lenguhnya.


Aku bahkan melata dan merayap-rayap di atas tubuhnya. Apa urat maluku sudah putus? Apa doa yang diberikan oleh Daini membuatku jadi seperti ini? Tunggu, apa mungkin ini efek minuman tradisional yang diberikan bunda?


"A-ayang .... ****."


Menit berikutnya, tubuhku gemetar saat melihat sesuatu yang aku inginkan. Hahh? Yang aku inginkan? Yang benar saja! Aku terkesima hingga beringsut.


"Jangan takut," ia menarik tubuhku dan memelukku.


"Aku akan melakukan banyak hal sampai tubuhmu siap. Aku janji tidak akan menyakitimu." Sambil menangkup pipiku dan menatapku lekat-lekat.


Kemudian ia membimbingku agar bersandar. Lalu menempatkan dua bantal di belakang tubuhku. Aku pasrah. Sementara dadaku, turun-naik dengan cepatnya.


"Ini akan menyenangkan," bisiknya.


Lalu, dengan gerakan lembut dan perlahan, ia mulai memanjakan tubuhku.


"****, A Abil .... Uhm ...."


Sesekali, aku membekap bibirku agar tidak bersuara. Tubuhku mulai gemetar. Di beberapa kesempatan, aku bahkan berteriak. Ia memandangi wajah dan tubuhku sambil tersenyum. Semakin aku mend**** ia semakin berulah.


"****, a-ampun A-A Abil ...."


Ia kemudian memberiku kesempatan untuk mengatur napasku yang tersendat-sendat.


"Apa kamu sudah menyerah? Atau, mau sesuatu yang lebih dahsyat lagi?" bisiknya sembari menyesap lembut peluh yang mengalir di leherku. Memangnya tidak asin apa ya? Apa dia menelan keringatku?


"Ce-cepat lakukan A Abil, cepat," rengekku.


Bahkan sambil menggigit bibirku dan mengusap dadanya. Memalukan! Apa otakku sudah error? Kenapa aku jadi sangat menginginkannya? Mataku sampai membulat karena kaget dengan jawaban dan gerakan tubuhku sendiri.


"Dengan senang hati," tegasnya.


Matanya berbinar-binar. Lalu ia memosisikan tubuhnya. Jantungku berdegup kuat, tanganku mengerat pada sprei. Aku memejamkan mata saat ia membacakan sebuah doa dan mengecup keningku.


"Lihat aku ayang," pintanya dengan suara gemetar.


Aku memberanikan diri membuka mata dan mengintipnya. Adegan ini membuat pipiku panas karena teramat malu.

__ADS_1


"Pe-pelan, hati-hati," lirihku.


Ia mengangguk. Aku juga melihat jika tangannya sedikit gemetar dan berulang kali mengatur napas untuk memusatkan konsentrasinya.


"****!" Kata keramat terucap begitu saja.


"Sa-sabar ya ayang, maaf ...," sesekali ia beranjak untuk mengecup bibirku.


"**** .... Huks ...." Ternyata masih sulit. Aku kembali menangis karena merasa sakit.


"Maaf," bisiknya lagi.


"A ---." Aku memeluk punggungnya. Kali ini, aku berusaha tidak mencakarnya.


.


.


"Maaf ya ayang, setelah ini ... akan lebih nyaman."


Ia mengecup bibirku yang gemetar dan mengecup lelehan air mata di pipiku. Bersamaan dengan itu, aku merasakan sesuatu memaksa menghujam dan menikam tubuhku. Aku memekik kesakitan sambil menjambak rambutnya. Air mataku kembali menetas seiring dengan sesuatu yang menetes jua dari inti tubuhku.


"Maaf ayang, se-setelah ini, katanya akan nikmat," bisiknya lagi. Ia menyemangatiku.


"Ki-kita lanjutkan ya ayang. Mau?" Aku tidak menjawab karena bingung harus mengatakan apa.


Ia menatapku nanar. Wajah dan telinganya memerah. Akhirnya, aku mengangguk lemah dan kembali memejamkan mata.


Detik berikutnya, aku beteriak dan tak sadar mencakar punggungnya. Namun, ia seolah tidak peduli dengan teriakanku.


Aku juga telah memintanya untuk berhenti, namun ia seolah tuli. Akhirnya, aku lanjut beteriak sambil memukuli punggungnya. Ia kemudian menautkan bibirnya untuk meredam teriakanku.


.


.


Teriakan dari bibirku perlahan melemah. Kini, teriakan itu tergantikan oleh lenguhan syahdu nan memalukan dari bibirku. Aku memeluk tubuhnya yang dipenuhi peluh. Aku menatap ekspresi wajahnya yang termat seksi. Tubuhku mulai terbiasa dan nyaman. Perasaan ini sangat luar biasa. Aku menyentuh bibirnya saat ia mengerang dan memanggil namaku.


Menit selanjutnya, aku tidak mampu mendeskripsikannya lagi. Tubuhku seperti terbang dan dihempaskan berulang-ulang. Aku meracau dan seolah telah kehilangan separuh kesadaranku. Samar-samar, aku juga mendengar de sa han nya.


"A Abil ... ****." Aku pun men de sah - de sah.


"Ti-Tia ... ****. A-ayang, a-aku mau ******."


Urat-urat tangan dan otot di perutnya tampak menegang. Aku jadi panik.


"A-aku juga, ****." Ini gila! Kenapa aku jadi seperti kupu-kupu malam?


Setelah memacu sang waktu, setelah melalui berbagai gelombang rasa yang melenakan itu, aku nyaris mencapai batasnya, dan iapun demikian.


'Malu.' Sepertinya, aku dan pak Sabil sudah melupakan kata itu. Kami melenguh bersama dan seirama saat badai kenikmatan itu datang menerjang dan bertubi-tubi. Lalu badai terdahsyat datang menyerang dengan kekuatan yang lebih besar dari badai sebelumnya.


Aku beteriak seraya memeluknya erat. Tubuhnya gemetar dan memerah. Ia memejamkan dan menggigit bibirnya, ia laksana Equestrian yang sedang memacu pelananya. Ia tidak bisa lagi kukendalikan. Aku berusaha mengimbangi dan mengikuti arusnya yang begitu keras, deras dan sangat kuat. Sebentar lagi, sepertinya ....


Aku akan pingsan.


Tidak! Jangan pingsan Listi!


Lalu aku merasakan sesuatu yang hangat mengaliri tubuhku diikuti dengan lenguhannya yang menggoda telinga. Detik berikutnya, ia menjatuhkan tubuhnya di sampingku dengan peluh yang bercucuran.


Mataku terpejam perlahan, namun aku tahu jika ia sedang mendekap dan menciumi puncak kepalaku. Tenagaku sepertinya telah habis. Hingga untuk membuka matapun aku tidak mampu.


"Terima kasih, aku sangat mencintaimu Listi Anggraeni, Mutiaraku," bisiknya. Sekarang beralih menciumi pipiku.


Aku juga mencintaimu Iptu Sabil Sabilulungan, jawabku dalam hati.


Selanjutnya, aku tidak mendengar apapun. Saat aku membuka mata, ia sudah terlentang dan terkapar. Aku kemudian menarik selimut untuk menyelimuti tubuhku dan tubuhnya. Lalu memeluknya dan terlelap.


...⚘️⚘️⚘️...


...~Tbc~...

__ADS_1


__ADS_2